Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sofyan Arif Candra
TRIBUNMADURA.COM, MADIUN - Tradisi Jamasan Perkutut Katuranggan mewarnai perayaan 1 Suro dalam penanggalan Jawa, di Kota Madiun, Jawa Timur, dengan melibatkan hampir 300 peserta dari berbagai daerah.
Ritual memandikan burung perkutut menggunakan air bunga ini menjadi salah satu tradisi unik yang masih lestari di tengah perkembangan zaman.
Tak sekadar menjaga budaya leluhur, kegiatan tersebut juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata baru di Kota Madiun.
Antusiasme peserta dari luar daerah menunjukkan, Tradisi Jamasan Perkutut menjadi magnet tersendiri bagi komunitas pecinta budaya dan burung perkutut.
Ritual Jamasan Perkutut Katuranggan diselenggarakan di Jalan Makam Tentara, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Selasa (16/6/2026).
Dengan sangat berhati-hati, para peserta memandikan masing-masing burung perkutut miliknya.
Mulai dari kaki, kepala hingga setiap helai sayap tak luput dari basuhan air kembang yang telah dipersiapkan.
Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyambut baik tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat.
Baca juga: Warga Lumajang Gelar Tradisi Pendem Sirah Lembu hingga Berebut Gunungan Hasil Bumi Sambut 1 Suro
Menurutnya, budaya adiluhung seperti Jamasan Perkutut Katuranggan harus terus dijaga dan dikembangkan, terlebih kegiatan tersebut mampu menarik perhatian komunitas pecinta perkutut dari berbagai daerah.
"Kota Madiun punya komunitas perkutut yang mampu membuat kegiatan positif di Bulan Suro. Tadi saya lihat peserta dari luar kota juga banyak, jumlahnya hampir 300 orang. Ini merupakan potensi yang luar biasa," ujarnya.
Bagus menilai, kegiatan tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya dan historis, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu, ia berharap penyelenggaraan tahun depan dapat dipersiapkan lebih matang dengan menghadirkan konsep storytelling yang mengangkat sejarah dan filosofi burung perkutut dalam budaya Jawa.
Menurutnya, penguatan narasi budaya penting dilakukan agar masyarakat Kota Madiun semakin memahami sejarah perkutut, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luar.
Baca juga: Ikuti Tradisi Sakral 1 Suro di Kediri, Ratusan Warga Padati Pamuksan Sri Aji Jayabaya
"Bagaimana masyarakat Madiun tahu cerita tentang perkutut, kemudian budaya ini tetap terjaga dan berkembang. Orang dari luar kota juga bisa mengenal Kota Madiun, dan tentu ada dampak ekonomi yang muncul dari kegiatan ini," katanya.
Pihaknya pun berkomitmen untuk mendukung pengembangan Jamasan Perkutut Katuranggan agar dapat menjadi agenda budaya yang lebih besar di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua Panitia Jamasan Perkutut Katuranggan, Iwan Yudhi Atmoko, menjelaskan, kegiatan tersebut digelar oleh komunitas pecinta perkutut Kota Madiun atau yang dikenal dengan sebutan Pecintut Kota Madiun.
Momentum malam 1 Suro yang bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Madiun dinilai menjadi waktu yang tepat untuk menggelar tradisi tersebut.
Ia mengatakan, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak pagi hari dengan lomba perkutut anggungan, kemudian ditutup dengan prosesi jamasan sebagai acara puncak pada sore hari.
Baca juga: Momen 1 Muharram di Bangkalan, Penjamas Keris Panen Puluhan Juta Rupiah dari Ngumbah Ratusan Gaman
Menurut Iwan, burung perkutut memiliki kekhasan tersendiri yang dipercaya masyarakat Jawa sejak dahulu.
Setiap perkutut katuranggan memiliki ciri dan karakteristik tertentu yang diyakini berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan.
"Burung perkutut ini memiliki kekhususan dan kekhasan. Ada ciri-ciri tertentu yang diyakini memiliki tuah dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari," jelas pria yang akrab disapa Iwan Dhoel ini.
Kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur dan sekitarnya, di antaranya Malang, Tuban, Bojonegoro, Ponorogo, Ngawi, serta Kota Madiun sebagai tuan rumah.
Iwan berharap Jamasan Perkutut Katuranggan dapat masuk dalam kalender kegiatan rutin tahunan Kota Madiun.
Terlebih peringatan 1 Muharam atau 1 Suro selalu berdekatan dengan momentum Hari Jadi Kota Madiun sehingga keduanya dapat dipadukan menjadi agenda budaya yang lebih besar.
"Harapan kami ke depan kegiatan ini menjadi kalender rutin Kota Madiun dalam rangka memperingati 1 Muharam maupun Hari Jadi Kota Madiun. Tadi Pak Plt Wali Kota juga menyampaikan apresiasi dan dukungannya agar kegiatan seperti ini terus berkembang," pungkasnya.