Magetan (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan mencatat ratusan pendaki mendatangi Gunung Lawu di perbatasan Magetan (Jatim) dengan Karanganyar (Jateng) untuk pendakian dan tirakatan Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1448 Hijriah atau 1 Sura.
Kepala Pelaksana BPBD Magetan Eka Radityo dalam keterangan di Magetan, Selasa, mengatakan berdasarkan pantauan petugas gabungan dari Pos Pengamanan Gunung Lawu via Cemorosewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan lebih dari 500 pendaki tercatat melakukan aktivitas pendakian.
"Sekitar 500 pendaki tercatat melakukan aktivitas di Jalur Cemorosewu. Mereka datang dari berbagai daerah untuk melakukan tirakatan 1 Sura di puncak Lawu," ujarnya.
Bertepatan dengan 1 Sura, pihaknya telah melakukan persiapan dengan petugas gabungan untuk pengamanan mengingat biasanya jumlah pendaki mengalami peningkatan saat peristiwa tersebut.
Petugas gabungan tersebut terdiri atas unsur BPBD Magetan, Kodim Magetan, Polres Magetan, Perhutani KPH Lawu dan Sekitarnya, serta relawan Paguyuab Giri Lawu (PGL).
"Jadi, berdasarkan permintaan dari Perhutani, penjagaan dan pemantauan di Cemorosewu mulai dilakukan pada tanggal 14 sampai dengan 18 Juni 2026," kata dia.
Asper BKPH Lawu Selatan KPH Lawu dan Sekitarnya Mulyadi menyampaikan Jalur Cemorosewu terus menjadi primadona karena medan yang cukup jelas dan menjadi rute terpendek menuju puncak Gunung Lawu.
"Jalur Cemorosewu memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer. Pendaki biasanya menempuh perjalanan antara lima hingga delapan jam dengan ritme santai untuk menikmati suasana alam," kata dia.
Meskipun volume kunjungan meningkat, pengelola memastikan para pendaki tetap mematuhi seluruh aturan konservasi dan keselamatan, di antaranya registrasi resmi di basecamp sebelum memulai pendakian dan mematuhi larangan melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan.
Aparat kepolisian setempat juga bersiaga melakukan pemantauan agar situasi tetap kondusif, aman, dan nyaman bagi seluruh pengunjung.
Kapolsek Plaosan AKP Agus Budi mengimbau para pendaki senantiasa mengedepankan etika, menjaga kelestarian alam, serta saling menghormati di antara sesama pendaki.
"Kami berharap para pendaki menjadikan momentum Suraan ini sebagai ruang untuk saling bersilaturahmi dan menjaga ketertiban, terutama saat berada di titik-titik istirahat maupun di kawasan puncak yang padat," kata dia.
Gunung Lawu setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut tersebut bagi masyarakat Jawa pada Bulan Sura tidak hanya sebagai destinasi pendakian, namun juga tempat ziarah atau tirakat. Oleh karena itu, setiap Sura, gunung di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut, selalu ramai dikunjungi pendaki.





