Tradisi Ngitung Batih Tetap Lestari, Satukan Semua Unsur Masyarakat di Trenggalek
Rendy Nicko June 16, 2026 10:02 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Tradisi Ngitung Batih di Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek terus lestari. Upacara Adat Ngitung Batih 2026 ini berstatus Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) menyatukan seluruh unsur masyarakat.

Semua masyarakat tumpah ruah sebagai media mempertemukan seluruh elemen warga dalam satu ikatan kebersamaan yang kuat.

Mengusung tema 'Raket Rukun Raharjo' panitia ingin menunjukkan kebudayaan bisa merekatkan persatuan dan juga mendorong kesejahteraan masyarakat.

Ketua Panitia Upacara Adat Ngitung Batih, Didit Sasongko menerangkan panitia sengaja mengusung tema itu guna memperkuat kembali semangat persatuan masyarakat di tengah keberagaman.

Baca juga: Kasatlantas Polres Nganjuk Ajak Warga Tertib Berlalu Lintas, Angka Kecelakaan Naik

"Pada tahun 2026 ini, kami benar-benar merangkul dan melibatkan seluruh elemen masyarakat Kecamatan Dongko. Mulai dari tokoh agama, perguruan pencak silat, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum," terang Didit Sasongko, Selasa (16/6/2026).

Panitia membuka rangkaian acara dengan kirab budaya yang menampilkan takir plontang, yakni wadah tradisional dari daun pisang berisi aneka sajian dan sesaji khas masyarakat Dongko. 

"Kami menyatukan semuanya, sejalan dengan filosofi takir plontang yang menyatukan berbagai unsur dalam satu wadah," imbuhnya.

Dikatakannya, peserta kirab mengarak takir-takir tersebut melintasi jalan protokol kecamatan sebelum memasuki Lapangan Budaya guna mengikuti prosesi doa bersama yang dipimpin tokoh adat setempat.

Didit menjelaskan, masyarakat menjadikan takir plontang sebagai ikon utama dalam tradisi Ngitung Batih. 

Dimana di dalam takir mengisyaratkan berbagai golongan masyarakat yang melebur harmonis dalam satu wadah kebudayaan.

"Makna tema tahun ini sangat mendalam. Budaya merekatkan kita, budaya merukunkan kita, dan harapannya budaya pula yang akan menyejahterakan kita semua," ulasnya.

Didit menuturkan, masyarakat Dongko terus menjaga tradisi Ngitung Batih secara turun-temurun sejak zaman dahulu.

Beliau mengulas tradisi ini berawal dari kebiasaan para kepala keluarga yang menghitung jumlah anggota keluarganya atau batih.

Masing-masing keluarga lantas membuat takir nasi sesuai jumlah anggota keluarga. 

Mereka juga menyiapkan satu takir khusus yang dihiasi janur atau daun kelapa muda, yang dikenal sebagai takir plontang.

"Takir plontang inilah yang menjadi simbol utama dalam tradisi Ngitung Batih. Melalui wadah sederhana ini, warga mewujudkan nilai kebersamaan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta," imbuhnya.

Selain mengikuti kirab takir, warga juga membawa hasil bumi dan ternak terbaik mereka sebagai bentuk sedekah bumi.

Menurutnya, warga menghadirkan gunungan jagung, padi, aneka biji-bijian hasil panen, sampai ayam kampung hidup sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki selama setahun terakhir.

Prosesi rebutan takir plontang dan pembagian ayam hidup menjadi agenda yang paling dinanti ribuan pengunjung.

Begitu pemuka adat menyelesaikan doa keselamatan, ratusan warga langsung berlari menuju area utama. 

Mereka berlomba memperebutkan isi takir dan mengejar ayam hidup yang para pejabat serta tokoh masyarakat lepaskan dari atas panggung.

Bagi masyarakat Dongko, tradisi rebutan ini bukan sekadar hiburan. Mereka meyakini isi takir dan ayam tersebut membawa berkah serta melambangkan harapan akan hasil panen dan usaha yang lebih baik pada musim berikutnya.

"Harapan kami semoga hasil pertanian semakin bagus, panen melimpah, hewan ternak berkembang biak lebih banyak, dan Tuhan memberikan keberkahan untuk seluruh masyarakat," akuinya.

Sebagai informasi Masyarakat Dongko mulai menggelar Ngitung Batih secara terbuka sejak 2015. Sejak saat itu, mereka terus mengembangkan tradisi tersebut hingga menjadi agenda budaya terbesar di Kecamatan Dongko.

Kerja keras masyarakat membuahkan hasil pada 2023 ketika pemerintah pusat menetapkan Ngitung Batih sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Pada 2024, masyarakat Dongko kembali mencatat prestasi nasional dengan memecahkan rekor MURI melalui pementasan Tari Turonggo Yakso secara serentak dengan jumlah penari terbanyak.

"Alhamdulillah, kami bersyukur acara ini terus berkembang setiap tahunnya. Kami berharap ke depan semakin banyak pihak yang ikut menyokong agar tradisi luhur ini tetap lestari," harap Didit.

Senada, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Tony Widianto, menempatkan Ngitung Batih sebagai salah satu agenda budaya paling penting di Kabupaten Trenggalek.

Baca juga: Ribuan Rokok Ilegal Diamankan saat Operasi Bersama Satpol PP Nganjuk dan Bea Cukai Kediri

Dikatakan Tony, masyarakat secara rutin menggelar upacara adat ini setiap 1 Suro sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan hidup, dan kemakmuran daerah.

Menurutnya Ngitung Batih ini sudah menjadi urat nadi masyarakat selama puluhan tahun. Sehingga sudah menjadi pengakuan negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda. 

"Dari tahun ke tahun, saya melihat kreativitas kemasannya semakin menarik, rangkaian acaranya semakin padat, dan partisipasi masyarakat juga semakin besar," akui Tony.

Ia mengaku perkembangan ini menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda dan masyarakat Dongko terhadap pelestarian warisan leluhur.

"Ini adalah salah satu upacara adat paling meriah di Kabupaten Trenggalek. Kami memandangnya sebagai aset budaya yang sangat berharga dan kita lestarikan bersama," tandasnya. 

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.