TRIBUNNEWS.COM, JOMBANG – Di balik kematian perempuan disabilitas berinisial Choiriyah (47) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, muncul fakta baru yang mengubah arah penyelidikan.
Hasil autopsi mengungkap adanya dugaan kuat bahwa korban tidak meninggal karena kecelakaan seperti informasi awal, melainkan akibat kekerasan.
Temuan ini menjadi titik balik penting dalam pengusutan kasus yang sebelumnya dilaporkan sebagai insiden jatuh di kamar mandi.
Polisi kini memastikan terdapat sejumlah luka pada tubuh korban yang mengarah pada tindakan kekerasan sebelum kematian terjadi.
Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan luka-luka korban tersebar di berbagai bagian tubuh, mulai dari kepala, wajah, leher, dada, lengan, pinggang, hingga kaki.
Luka tersebut diduga kuat berasal dari benturan benda tumpul yang terjadi saat korban masih hidup.
Baca juga: Nasib Pelaku Pembunuhan 2 Perempuan di Banyumas, Terancam Hukuman Mati, Polisi: Sudah Direncanakan
Kasatreskrim Polres Jombang AKP Dimas Robin Alexander menegaskan temuan tersebut tidak bisa disamakan dengan dugaan kecelakaan.
“Seluruh luka itu terjadi saat korban masih hidup dan mengarah pada kekerasan akibat benturan benda tumpul,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Kepastian itu diperoleh setelah polisi melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di TPU Dusun Pajaran, Desa Peterongan, Minggu (14/6/2026).
Proses tersebut melibatkan tim forensik RS Bhayangkara Kediri.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tidak hanya memar di banyak bagian tubuh, tetapi juga luka lecet serta patah tulang pada jari tangan kiri korban.
Tim medis juga menemukan adanya resapan darah di area kepala yang diduga menjadi salah satu penyebab kematian.
Sebelumnya, kematian Choiriyah disebut sebagai akibat terjatuh di kamar mandi.
Namun temuan medis dan penyelidikan polisi kini membantah keterangan tersebut.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kematian tidak sesuai dengan keterangan awal yang menyebut korban terjatuh,” kata penyidik.
Perubahan arah kasus ini sekaligus membuka dugaan baru bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal dunia.
Sejumlah warga sekitar juga mengaku sempat melihat kondisi korban yang tidak wajar sebelum dinyatakan meninggal.
Ketua RT setempat menyebut terdapat lebam di beberapa bagian tubuh korban, termasuk wajah dan anggota badan.
Selain itu, muncul pula dugaan adanya kekerasan yang terjadi di dalam kamar kos tempat korban tinggal bersama kakak kandungnya.
Saat ini, Polres Jombang masih terus mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi, termasuk pihak keluarga korban.
Kakak korban telah diamankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Polisi menegaskan hasil autopsi menjadi dasar penting untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebenarnya, sekaligus memastikan apakah terdapat unsur pidana dalam kematian korban.
Di balik temuan medis ini, kasus Choiriyah kini bukan lagi sekadar soal kematian yang janggal, tetapi tentang upaya mencari keadilan atas seseorang yang hidup dalam keterbatasan dan diduga menjadi korban kekerasan yang belum terungkap sepenuhnya. (Tribun Madura/Anggit Puji Widodo)