Prediksi Kemarau Ancam Produktivitas Padi dan Jagung di Landak
Try Juliansyah June 16, 2026 11:29 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan mulai menjadi perhatian Pemeerintah Kabupaten Landak

Seperti diketahui, tren produksi padi dan jagung di Kabupaten Landak cukup baik pada awal 2026.

Tetapi hal tersebut belum sepenuhnya menjamin sektor pertanian Kabupaten Landak akan berjalan mulus hingga akhir tahun.

Potensi Musim Kering Panjang

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Landak John Elak, mengatakan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya potensi musim kering yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat mempengaruhi produktivitas tanaman pangan, terutama padi dan jagung yang masih bergantung pada ketersediaan air.

"Kita sudah memasuki pertengahan tahun dan ada informasi terkait kemungkinan kemarau panjang dengan suhu yang cukup tinggi," ujar John pada Selasa 16 Juni 2026.

Ia menjelaskan, dampak cuaca ekstrem mulai terasa dalam beberapa pekan terakhir.

Baca juga: Pastor Filipus OFM Cap Ingatkan Warga Landak Jangan Terprovokasi Isu SARA

Curah hujan semakin berkurang, sementara suhu udara pada siang hari meningkat dibandingkan biasanya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang sedang memasuki fase penting menjelang panen maupun musim tanam berikutnya.

"Kita sudah merasakan hujan mulai berkurang dan suhu semakin panas. Itu paling tidak akan mempengaruhi produktivitas padi dan jagung karena ketersediaan air mungkin akan berkurang," katanya.

Juli - Agustus Periode Krusial

John mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang. 

Pada periode tersebut, risiko kekurangan air di lahan pertanian berpotensi meningkat, terutama pada wilayah yang masih mengandalkan curah hujan.

Apabila kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan, tanaman berisiko mengalami penurunan produktivitas akibat kebutuhan air yang tidak terpenuhi secara optimal.

Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi Kabupaten Landak yang selama ini mengandalkan sektor pertanian sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat.

Karena itu, John mengatakan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.

"Kami berupaya melakukan berbagai tindak lanjut dan koordinasi dengan OPD terkait untuk mengantisipasi kondisi ini," kata John.

Ia menilai langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar petani memiliki waktu untuk menyesuaikan pola tanam.

Kemudian strategi pengelolaan lahan selama musim kemarau berlangsung.

Selain menjaga produksi pangan, upaya tersebut juga penting untuk mengurangi risiko gagal panen yang dapat berdampak pada pendapatan petani.

"Kita berharap bisa melewati kondisi ini dengan baik dan produksi pertanian tetap terjaga," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.