Bukan Lagi Tsubasa, Tapi Musashi
Ventrico Nonutu June 17, 2026 12:22 AM

SEORANG prajurit Jepang terdampar di sebuah pulau di Pacific. 

Saat itu tahun 1971.

Perang Dunia 2 sudah lama berlalu. 

Tapi ia mengira dunia masih berperang. 

Senjata api ia sudah tak punya.

Hanya samurai yang dimilikinya. 

Sang prajurit hidup dalam kondisi darurat perang. 

Setiap hari ia siaga jika sewaktu waktu tentara sekutu mendarat di pulau itu. 

Semangat Bushido terus ia pelihara.

Karena sudah bikin resah, pemerintah setempat coba meringkusnya.

Tapi ia terlalu tangguh.

Kemampuan survivalnya luar biasa.

Seorang polisi punya ide unik.

Ia menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. 

Si prajurit Jepang melepas samurainya. 

Dan berdiri khidmat. Saat itulah ia diringkus. 

Gaya si prajurit saat menyanyikan lagu Kimigayo persis dengan yang ditunjukkan timnas Jepang dalam pertandingan pertama mereka di Piala Dunia 2026 versus Belanda. 

Kubo membusungkan dada. 

Sedang Ito menutup kedua matanya.

Pelatih Jepang Hajime Moriyasu sampai meneteskan air mata. 

Tanpa tiga pemain pilarnya yakni Endo, Takumi Minamino dan Kaoru Mitoma, Jepang masih dapat menahan Belanda, salah satu raksasa Eropa yang juga tim favorit di Piala Dunia 2026.

Penampilan Jepang mengingatkan saya pada sosok Samurai zaman dulu. 

Mereka pantang menyerah, seperti Musashi, Samurai kenamaan Jepang yang tak kenal lelah mengejar makna kehidupan di balik seni pedang. 

Sudah ketinggalan satu gol, tapi Jepang pantang menyerah. 

Terus menyerang dan menyerang. 

Lihat saja Ueda, Nakamura dan Kubo, sangat mirip pesawat Kamikaze yang menabrak kapal induk musuh. 

Siap mengorbankan diri untuk negara.

Seorang Samurai menghabisi lawan dalam sekejab dengan teknik tunggal. 

Begitulah Nakamura dengan tembakan dari luar kotak penalti menghabisi kiper Bart Verbruggen sekaligus bek terbaik dunia Virgil Van Dijk.  

Sekali kontrol kemudian tendang bikin gol. 

Dan akhirnya jiwa sportivitas ditunjukkan para suporter Jepang. 

Mereka berpesta tapi tak lupa mengangkat sampah usai pertandingan.

Keberhasilan Jepang mengimbangi total footbal ala Koeman bukan mujur ala Cape Verde. 

Permainan mereka memang sudah sejajar negara Eropa. 

Mereka tampil trengginas, penuh determinasi dan percaya diri.

Jiwa Bushido. Itulah resep kemenangan Jepang.

Selama ini Jepang punya pemain pemain hebat.

Ada Nakata, Nakamura, Ono dan lainnya.

Tapi mereka seperti kurang bertaji. 

Teknik tinggi tapi minus semangat Samurai.

Nah Jepang tahun ini punya semangat itu. 

Dipadu dengan teknik tinggi, Jepang dapat mengalahkan siapapun. 

Sepakbola Jepang dalam Piala Dunia 2026 tak lagi diwakili anime Kapten Tsubasa yang lebai dan berakar dari halu. 

Tapi Musashi, sang Samurai legenda abadi Jepang.

Alkisah, Musashi bertanding melawan musuh besarnya Sasaki Kojiro di Pulau Ganryu sebagaimana dikisahkan Eini Yoshikawa dalam bukunya yang termashyur itu. 

Kojiro diunggulkan. 

Namun Musashi lah pemenangnya. 

Kemenangan Musashi membuktikan bahwa kunci kemenangan adalah mengalahkan diri sendiri. 

Tak gelisah saat ketinggalan. 

Tak memandang remeh saat tengah unggul. 

Jika itu dipraktekkan maka Jepang mungkin bisa mengukir sejarah baru di Piala Dunia.

Siapa tahu bisa muncul juara baru dari Asia.

(Arthur Rompis)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.