Namanya Santer Disebut Calon Kuat Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf: Saya Jalankan Amanah Masyayikh
Yoseph Hary W June 17, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Nama Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, belakangan santer disebut sebagai salah satu calon kuat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang agenda Muktamar mendatang. 

Namun, Gus Yusuf menegaskan langkah yang ia lakukan saat ini bukan bagian dari manuver politik, melainkan menjalankan amanah para masyayikh untuk kembali merajut kebersamaan di tubuh organisasi.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yusuf saat menjawab pertanyaan wartawan terkait intensitas safari silaturahim yang dilakukannya ke berbagai wilayah Nahdlatul Ulama dalam beberapa bulan terakhir.

Hadirkan manfaat bagi masyarakat

Menurutnya, fokus utama saat ini bukan soal kontestasi, melainkan memastikan NU tetap menjadi organisasi yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat serta menjaga stabilitas kehidupan berbangsa.

“Kita berharap Indonesia tetap damai, Indonesia tetap kondusif, dan pemerintah juga mencintai masyarakatnya, sehingga masyarakat benar-benar diayomi dan mendapatkan keberkahan di bulan Muharram ini,” ujarnya.

Gus Yusuf mengungkapkan selama hampir enam bulan terakhir dirinya melakukan silaturahim ke berbagai Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Wilayah (PW) NU di sejumlah daerah.

Selain wilayah Pulau Jawa, safari tersebut juga menjangkau Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Jambi.

Ia menegaskan perjalanan tersebut merupakan tugas yang diberikan para masyayikh dan kiai untuk ikut menata kembali organisasi setelah dinamika yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya menjalankan tugas dari para masyayikh dan para kiai untuk ikut bersama-sama kembali menata PBNU. Kita memahami bahwa konflik yang terjadi sebelumnya memberikan dampak yang cukup besar, baik terhadap struktur organisasi maupun kultur di tengah warga NU,” katanya.

Menurut Gus Yusuf, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap jalannya organisasi, tetapi juga dirasakan oleh pesantren dan kehidupan warga NU di daerah.

“Kondisi ini menjadi keprihatinan para masyayikh. Karena itu saya mendapatkan amanah untuk merajut kembali kebersamaan dan membangkitkan semangat dalam mengangkat marwah Nahdlatul Ulama serta pesantren,” ujarnya.

Dalam rangkaian safari tersebut, Gus Yusuf mengaku telah bertemu dengan lebih dari 200 pengurus cabang NU dan menjangkau sekitar 12 wilayah provinsi.

Meski namanya mulai ramai dibicarakan dalam dinamika menuju Muktamar, ia menolak mengklaim besarnya dukungan yang diperoleh.

“Saya tidak bisa mengklaim dukungan. Yang saya lakukan adalah datang, menawarkan gagasan, sekaligus mendengarkan keluhan dan aspirasi teman-teman NU di daerah,” katanya.

Samakan visi organisasi

Menurutnya, proses yang dilakukan saat ini lebih diarahkan untuk menyamakan visi organisasi.

“Kalau nanti sudah bertemu gagasan dan visi yang sama, tinggal bagaimana pergerakannya,” lanjutnya.

Dari berbagai pertemuan yang dilakukan, Gus Yusuf menangkap sejumlah aspirasi yang hampir seragam dari pengurus NU di daerah. Pertama, penguatan tata kelola organisasi agar lebih tertib dan kredibel. Kedua, perhatian lebih besar terhadap pesantren dan pendidikan. Ketiga, penguatan sektor kesehatan dan ekonomi keumatan.

“Warga NU sangat membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai. Banyak yang berharap PBNU bisa memfasilitasi pendirian rumah sakit maupun klinik-klinik NU,” katanya.

Jika mendapat amanah yang lebih besar di PBNU, Gus Yusuf menyebut ada tiga sektor yang akan menjadi fokus.

“Satu, penguatan pendidikan pesantren maupun sekolah-sekolah di lingkungan NU. Kedua, kesehatan. Ketiga, ekonomi keumatan. Itu yang akan menjadi fokus utama,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa keterlibatannya kembali dalam aktivitas organisasi merupakan bentuk pelaksanaan amanah para masyayikh.

“Setelah saya mundur waktu itu untuk membantu pesantren, kemudian saya mendapatkan amanah dari para masyayikh untuk lebih fokus membantu di NU,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.