PDIP Bantah Mobil Fortuner yang Ditumpangi Tiyo Ardianto Milik Besan Andika Perkasa: Cocoklogi
Wahyu Gilang Putranto June 17, 2026 12:35 AM

TRIBUNNEWS.COM - Politikus PDIP, Guntur Romli buka suara soal pernyataan dari aliansi mahasiswa bernama BEM Fakultas Bersatu yang menyebut mobil Toyota Fortuner yang ditumpangi mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto milik dari besan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa, Siti Nuraeni.

Siti juga merupakan adik dari eks Inspektur Jenderal TNI, Letjen (Purn) Setyo Sularso. Lalu, Andika kini merupakan kader dari PDIP dan telah gabung sejak Mei 2024 lalu.

Sementara pernyataan di atas disampaikan oleh perwakilan BEM Fakultas Bersatu sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UICC), Rahmat Djimbula dalam konferensi pers di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

Guntur pun membantah tuduhan dari Rahmat tersebut. Dia menegaskan bahwa mobil Fortuner yang ditumpangi Tiyo itu adalah pinjaman dari seseorang.

Dia menyebut bahwa mobil itu milik dari adik yang besannya dulu seorang tim sukses (timses) ketika pilpres.

Namun, Guntur menegaskan orang yang dimaksud bukanlah Siti Nuraeni. Ia mengatakan Siti bukanlah timses Ganjar Pranowo-Mahfud MD saat Pilpres 2024. 

Baca juga: Mahasiswa Marah saat Sudaryono, Nusron, dan Budiman Dialog di UGM, PDIP: Wajar, Acaranya Propaganda

Hanya saja, ia tidak menyebut nama pemilik dari mobil tersebut.

"Mobil yang dipakai Tiyo adalah pinjaman dari seseorang, dan seseorang itu adik dari seseorang yang besannya dari orang yang dulunya timses di Pilpres. Padahal Pilpres sudah selesai. Adik kakak juga belum tentu pilihan politiknya sama. Besanan juga belum tentu sama politiknya," katanya kepada Tribunnews.com, Selasa malam.

Sebagai informasi, mobil Fortuner tersebut sempat dipakai Tiyo ketika dirinya mengikuti aksi demonstrasi di Gejayan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu (13/6/2026).

Kendaraan itu menjadi sorotan karena Tiyo sempat menemukan sebuah alat pelacak yang terpasang di bawah mobilnya.

Di sisi lain, Guntur menganggap apa yang disampaikan pihak dari BEM Fakultas Bersatu hanyalah cocoklogi semata.

"Itu cuma dipaksakan dengan cocoklogi saja," katanya.

Guntur pun mempertanyakan alasan BEM Fakultas itu mengaitkan PDIP dengan Tiyo, Setyo, dan Siti.

Padahal, Setyo dan Siti juga bukan berstatus sebagai kader PDIP.

"Pak Setyo, Bu Siti juga bukan orang PDI Perjuangan. Kenapa dikaitkan ya?" katanya.

Lalu ketika ditanya terkait pernyataan Rahmat lainnya yang menyebut politikus PDIP, Andi Wijajanto bersama Tiyo saat aksi demonstrasi di Yogyakarta, Guntur mengaku tidak mengetahuinya.

Dia mengungkapkan jika hal tersebut benar, maka dirinya meyakini apa yang dilakukan Andi atas nama pribadi dan tidak membawa nama partai.

Pasalnya, kata Guntur, ketika ada kader mengikuti suatu kegiatan dan mengatasnamakan sebagai kader PDIP, maka akan diberi surat penugasan.

"Kalau benar mas AW (Andi Wijajanto) datang (ke aksi di Gejayan), itu atas nama pribadi. Kalau (atas nama) partai, pasti ada surat penugasan," jelasnya.

Lebih lanjut, Guntur pun membantah PDIP terkait dengan aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi beberapa waktu ke belakang.

Ia menyatakan tuduhan yang dialamatkan kepada PDIP adalah merendahkan gerakan mahasiswa.

"PDI Perjuangan tidak terkait dengan aksi-aksi mahasiswa. Jangan merendahkan gerakan independen mahasiswa dengan memberikan tuduhan yang ditunggangi oleh partai dengan bukti yang sumir dan tidak masuk akal. Itu hanya cocoklogi," ujarnya.

"Kritik terhadap MBG itu datang dari hampir semua lapisan masyarakat. Yang sekarang terbukti dengan ditangkapnya tiga eks pimpinan BGN (Badan Gizi Nasional) atas tuduhan korupsi. Apa BEM Bersatu itu mau bela koruptor?" pungkas Guntur.

Baca juga: Tak Mau Demo Jadi Chaos Seperti Tahun Lalu, BEM UBK Harap DPR RI Segera Buka Ruang Diskusi Mahasiswa

BEM Bersatu Sebut Mobil Fortuner Tiyo milik Besan Andika Perkasa

BEM Fakultas Bersatu saat Konferensi Pers
BEM FAKULTAS BERSATU - Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Fakultas Bersatu saat menggelar konferensi pers di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

Sebelumnya, perwakilan BEM Fakultas Bersatu sekaligus Ketua BEM Hukum UIC, Rahmat Djimbula, menuding bahwa Tiyo Ardianto dekat dengan jaringan politik tertentu. 

Rahmat mengatakan Tiyo memiliki kaitan dengan keluarga besar dari mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Andhika Perkasa.

Dia menduga hal itu bisa dilihat dari mobil Fortuner yang ditumpangi Tiyo saat aksi demonstrasi di DIY beberapa waktu lalu yang disebutnya milik dari besan Andhika, Siti Nuraeni.

"Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat dalam konferensi pers, Selasa.

Rahmat juga menduga hubungan itu diperkuat dengan kehadiran politikus PDIP, Andi Widjajanto, dalam aksi demonstrasi di DIY tersebut.

"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung, 18 Juni 2026, bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa."

"Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati," jelasnya.

Di sisi lain Rahmat menegaskan pihaknya menolak segala bentuk gerakan mahasiswa yang ditunggangi untuk kepentingan politik.

Ia menegaskan seharusnya gerakan mahasiswa memang dilakukan atas suara rakyat alih-alih pihak penguasa.

Dia menilai sejumlah aksi mahasiswa telah kehilangan arah karena dirasa minim kajian dan lemah secara argumentasi.

Rahmat mengatakan pihaknya mempertanyakan prioritas isu yang diangkat dalam gerakan mahasiswa tersebut.

Baca juga: Mahasiswa Pilih Demo di Gedung DPR RI, BEM Trilogi: DPR Sebulan Ini Tak Kerja, Tidak Pro Rakyat

Ia pun menolak tuntutan mahasiswa yang ingin agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan karena menurutnya telah bermanfaat bagi masyarakat.

"Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis, yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat, justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," ucapnya.

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan pihaknya menolak narasi adanya krisis yang menurutnya tidak berbasis data utuh karena mengalihkan fokus publik.

BEM Fakultas Bersatu ini juga menyayangkan dugaan pemanfaatan gerakan mahasiswa oleh pihak luar, sebagaimana telah diklarifikasi oleh sejumlah BEM.

"BEM Bersatu akan terus mengawal kemurnian gerakan mahasiswa agar tetap independen, berpihak kepada rakyat, serta bebas dari intervensi elite politik," tambahnya.

Untuk itu, mereka menyatakan sejumlah tuntutan, yaitu:

1. Mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari pendanaan, fasilitas, dan segala bentuk intervensi politik praktis.

2. Mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel.

3. Mendukung pengusutan tuntas koruptor tanpa pandang bulu serta mengajak seluruh mahasiswa Indonesia mengawal proses hukum secara kritis dan objektif.

Selengkapnya berikut perwakilan BEM dari berbagai fakultas yang tergabung dalam BEM Bersatu:

- Wildan Ricky (Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA)
- Muhammad Yani (BEM Fakultas Hukum UIJ)
- Ardi Zulkifly (Ketua BEM FISIP UNAS)
- Ardiansyah (Ketua BEM institut Al- Aqidah)
- Ahmad Ghazy (BEM Psikologi UNJ)
- Alfi (Ketua BEM FEB UNPAM)
- Rahmat Djimbula (Ketua BEM Hukum UIC)
- Dicky (BEM F.IPS Unindra)
- Ahmad (BEM Fakultas Teknik Universitas BSI)
- Rezky Anandar (BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI)

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.