Nasib Kepemimpinan Netanyahu Terancam Usai Israel Gagal Tumbangkan Iran: Target Perang Tak Tercapai
Eri Ariyanto June 17, 2026 02:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan politik di Israel kembali memanas setelah kegagalan operasi militer yang menargetkan Iran tidak mencapai hasil strategis yang diharapkan.

Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini menghadapi tekanan politik yang semakin besar dari dalam negeri.

Sejumlah analis menilai bahwa tujuan utama operasi, yakni melemahkan posisi strategis Iran, tidak berhasil dicapai secara signifikan.

Kondisi ini memicu kritik keras dari oposisi Israel yang menilai strategi perang pemerintah terlalu berisiko dan tidak efektif.

Di tengah situasi tersebut, kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu disebut mengalami penurunan yang cukup tajam.

Media lokal Israel melaporkan adanya perdebatan internal di kalangan elite politik terkait kelanjutan kebijakan militer di kawasan tersebut.

Kegagalan mencapai target perang juga disebut berdampak pada meningkatnya ketegangan sosial dan politik di Israel.

Beberapa pejabat keamanan mulai mempertanyakan efektivitas strategi jangka panjang yang selama ini dijalankan pemerintah.

Sementara itu, tekanan internasional turut memperumit posisi Israel di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin kompleks.

Situasi ini membuat masa depan kepemimpinan Netanyahu kini berada dalam sorotan tajam, dengan kemungkinan pergeseran dukungan politik yang semakin terbuka.

Baca juga: Pengakuan Mengejutkan Trump, Selat Hormuz Dibuka Jumat: Jalur Minyak Dunia Mulai Kembali Normal

Seperti diketahui, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kritik keras setelah mengeklaim memenangkan perang melawan Iran saat rezim Teheran tetap bertahan.

Sejumlah tokoh oposisi menilai Netanyahu gagal memenuhi tujuan serangan militer ke Iran sejak 28 Februari bersama Amerika Serikat, termasuk upaya menciptakan kondisi untuk perubahan rezim.

Kritik ini muncul setelah Netanyahu menggelar konferensi pers pertamanya dalam tiga bulan usai Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang. 

Netanyahu klaim perang berhasil

Dilansir The Times of Israel, Netanyahu mengatakan bahwa serangan selama enam minggu terhadap Iran telah menghilangkan ancaman nuklir dan rudal yang menurutnya membahayakan Israel.

“Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjadi perdana menteri Israel, itu tidak akan terjadi,” ujar Netanyahu.

Ia menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai “misi hidupnya”.

Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel telah berhasil menghapus ancaman nuklir Iran bersama Amerika Serikat.

“Kami meluncurkan operasi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” katanya.

“Kami menargetkan para ilmuwan nuklir; kami menghilangkan para pemimpin rezim teroris; kami menghancurkan fasilitas nuklir; kami menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik yang memproduksi rudal,” ujar Netanyahu.

“Kami menyerang industri militer dan infrastruktur yang tak terhitung jumlahnya. Kami menghancurkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka. Kami menghabisi para komandan pangkalan yang membantai rakyat Iran,” lanjutnya.

Menurut Netanyahu, serangan itu juga menyebabkan kerusakan besar terhadap ekonomi Iran.

Pernyataan Netanyahu kemudian dipertanyakan setelah seorang wartawan yang menyinggung tujuan Israel sebelumnya untuk menghilangkan ancaman dari “rezim Iran”.

Pertanyaan itu muncul karena pemerintahan Iran masih tetap bertahan setelah perang berakhir. Namun, Netanyahu menolak anggapan bahwa kampanye tersebut gagal.

“Itu sama sekali tidak gagal. Saya mendefinisikan tujuan — dan kabinet juga mendefinisikan tujuan — secara berbeda dari yang Anda katakan,” kata Netanyahu.

Ia mengatakan, tujuan utama Israel adalah menghilangkan ancaman eksistensial berupa program nuklir dan kemampuan rudal Iran.

“Kami mengatakan ingin menghilangkan bahaya eksistensial dari atas kami: Pertama, bahaya nuklir — dan kami berhasil melakukannya. Kami mengatakan ingin menghilangkan bahaya (rudal balistik) dari atas kami — dan kami berhasil melakukannya,” ujarnya.

Netanyahu juga mengatakan bahwa Israel telah menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat mengganti pemerintahan mereka jika mereka menginginkannya.

“Iran berada dalam situasi ekonomi yang sangat sulit. Kami menyerang setiap infrastruktur yang memungkinkan di sana. Kerusakannya sangat besar. Ada juga retakan di dalam rezim ini,” katanya.

“Bisakah saya memberi tahu Anda kapan rezim ini akan jatuh? Saya tidak tahu. Apakah saya bisa memberi tahu Anda kapan rezim Soviet akan jatuh? Tidak. Saya tidak bisa memberi tahu Anda,” lanjut Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (TribunNewsmaker.com/Instagram.com)

Oposisi sebut Netanyahu gagal wujudkan target perang

Pernyataan Netanyahu mendapat serangan dari para pemimpin oposisi Israel. Mereka menilai klaim kemenangan tersebut tidak sesuai dengan fakta karena rezim Iran masih bertahan.

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan, pemerintahan Netanyahu justru berakhir dengan kegagalan dalam menghadapi Iran.

“Masa pemerintahan Netanyahu ini dimulai dengan perang saudara, berlanjut dengan pembantaian 7 Oktober, dan sekarang berakhir dengan kegagalan bersejarah melawan Iran,” kata Bennett dalam konferensi pers di Tel Aviv.

Bennett juga menyebut pergantian rezim Iran baru akan menjadi lebih mungkin setelah terjadi perubahan pemerintahan di Israel.

“Hitungan mundur untuk mengganti rezim di Iran akan dimulai segera setelah pemerintahan di Israel diganti,” ujarnya.

Sementara itu, pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menilai Netanyahu seharusnya mengakui bahwa target yang sebelumnya disampaikan tidak tercapai.

“Akan lebih baik bagi Netanyahu untuk mengatakan, ‘Saya salah, saya menetapkan tujuan yang salah yang tidak bisa saya capai.’ Ini akan memberi Netanyahu lebih banyak penghargaan dan rasa hormat dari rakyat, jika dia mengakui bahwa dia membuat pernyataan kosong,” kata Eisenkot.

Eisenkot juga menuduh Netanyahu menyangkal tujuan perang yang sebelumnya ia tetapkan dan tidak memberikan jawaban nyata kepada masyarakat Israel.

Pemimpin oposisi Yair Lapid juga menyoroti pernyataan Netanyahu yang dianggap bertentangan.

“Anda bisa berpendapat bahwa kami adalah kekuatan yang dekat dengan dominasi regional, Anda bisa berpendapat bahwa kami berada dalam bahaya kehancuran dan satu langkah dari kematian massal, tetapi Anda tidak bisa membuat kedua argumen itu, apalagi dalam waktu yang sama,” tulis Lapid.

Sementara pemimpin Partai Demokrat Yair Golan menilai klaim Netanyahu soal ancaman Iran justru menunjukkan kegagalan jika ancaman tersebut belum sepenuhnya teratasi.

“Jika Anda menghabiskan sebagian besar hidup Anda untuk melawan ancaman Iran, dan Anda mengatakan kami hampir mengalami kehancuran, maka Anda gagal dalam misi hidup Anda. Kami menghargai kejujurannya,” kata Golan.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.