TRIBUNSUMSEL.COM - Kematian tragis Yogi Saleh (44), Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Aset Daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kini menjadi sorotan.
Yogi ditemukan tewas bersimbah darah di kamar rumahnya di kawasan Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, pada Minggu (14/6/2026) malam, saat sang istri baru saja pulang menghadiri acara wisuda bersama anak dan mertua.
Semasa hidupnya, Yogi Saleh dikenal sebagai sosok aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki rekam jejak karier yang cukup cemerlang di lingkungan Pemkab Purwakarta.
Melansir data resmi dari laman resmi BKAD Kabupaten Purwakarta, pria bernama lengkap Yogi Saleh, S.E., ini lahir pada 13 April 1982.
Baca juga: Cerita Penemuan Mayat Wanita Hamil di Ogan Ilir Dibunuh Pacar, Warga Sempat Tegur Korban yang Tewas
Mengembuskan napas terakhir di usia 44 tahun, Yogi mendedikasikan sebagian besar hidupnya sebagai pelayan masyarakat.
Ia resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2009 silam.
Karier Yogi terus menanjak hingga dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah di BKAD Purwakarta.
Di BKAD, Yogi membawahi Sub Bidang Perencanaan Aset, serta Sub Bidang Pencatatan dan Mutasi Aset.
Tidak hanya aktif di lingkungan birokrasi dinas, sosok Yogi juga dikenal aktif berkontribusi dalam agenda nasional.
Pada gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Purwakarta 2024 lalu, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk wilayah Kecamatan Bojong.
Di sisi lain, Yogi dikenal sebagai sosok yang religius dan aktif beribadah.
Hal itu disampaikan oleh perwakilan keluarga korban, Eka Yusuf, yang tidak mempercayai isu yang berkembang bahwa korban mengakhiri hidupnya sendiri.
"Kalau ada yang mengatakan bunuh diri karena depresi, saya pribadi sulit percaya. Kakak (Yogi Saleh) saya orang yang religius, rajin beribadah," ucapnya.
Baca juga: Tampang Pria yang Dorong Karina Ranau hingga Terpental di Depan Warungnya, Memaksa Dilayani Cepat
Sosok pejabat bergelar Sarjana Ekonomi ini pertama kali ditemukan oleh istrinya sendiri pada Minggu malam sekitar pukul 19.30 WIB.
Kecurigaan sang istri bermula saat mendapati rumah dalam keadaan gelap gulita dan seluruh akses pintu terkunci dari dalam.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, mengatakan istri korban lantas mencongkel jendela.
"Istri korban sempat menggedor pintu depan dan memeriksa bagian belakang rumah, namun seluruh akses masih terkunci dari dalam," jelas Made, Senin (15/6/2026) sore, dilansir TribunJabar.id.
Made menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban terakhir kali berada di rumah seorang diri setelah istrinya bersama anak dan mertuanya pergi menghadiri acara wisuda di Hotel Harper Purwakarta sekitar pukul 16.00 WIB.
Nahas, saat berhasil masuk rumah, ia menemukan sang suami bersimbah darah di kamar.
"Ketika pintu kamar dibuka, korban ditemukan sudah dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah di dalam kamar," kata Made.
Baca juga: Breaking News: Pemuda 20 Tahun Ditemukan Tewas Tak Wajar di 9 Ilir Palembang, Tangan Terikat
Berdasarkan hasil visum sementara, korban mengalami luka akibat senjata tajam (sajam).
Made mengatakan setidaknya ada tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di ulu hati, bekas jeratan di leher, serta memar di lutut dan pergelangan kaki.
"Korban mengalami tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di bagian ulu hati, bekas jeratan di leher, serta beberapa memar di bagian lutut dan pergelangan kaki," jelas Made.
Kondisi luka yang bervariasi ini membuat pihak kepolisian belum bisa gegabah menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.
Selain itu, lanjut dia, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa tangga, kabel yang terputus, ikat pinggang, serta sebilah pisau dapur yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Penyidik masih membuka segala kemungkinan, baik tindakan bunuh diri maupun tindak pidana pembunuhan.
"Ini masih dugaan sementara berdasarkan temuan di lapangan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tindak pidana," ungkapnya.
Saat ini, Made mengatakan, penyidik masih menunggu hasil autopsi dari tim kedokteran forensik.
Polisi juga mendalami percakapan terakhir dalam telepon genggam korban serta keterangan para saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Yogi Saleh.
Sementara itu, pantauan Tribunjabar.id di lokasi kejadian menunjukkan rumah korban masih tertutup rapat dan telah dipasangi garis polisi.
Kasus tersebut hingga kini masih dalam penyelidikan Satreskrim Polres Purwakarta.
Eka, perwakilan keluarga, juga mengungkapkan bahwa korban sempat mengeluhkan persoalan pekerjaan kepada istrinya, meski ia mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan yang dimaksud.
"Saya hanya mendengar ada keluhan terkait pekerjaan. Detailnya saya tidak tahu, mungkin istrinya yang lebih mengetahui," ujarnya, di rumah duka Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Senin (15/6/2026) sore.
Keluarga juga meminta dukungan pemerintah daerah agar kasus tersebut mendapat perhatian serius.
Eka berharap aparat kepolisian dapat mengungkap penyebab kematian korban dan menemukan pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti terjadi tindak pidana.
"Kami minta kasus ini diusut tuntas. Kalau memang ada pelaku, harus ditangkap. Jangan sampai kasus ini berhenti tanpa kejelasan," katanya.
Pasalnya, keluarga menemukan banyak luka pada tubuh korban yang menurutnya perlu dijelaskan secara rinci melalui hasil autopsi dan penyelidikan kepolisian.
"Saya melihat ada kejanggalan. Banyak luka di tubuh kakak saya, di leher dan bagian lainnya. Kalau takdir saya terima, tapi kalau memang ada tindakan pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasus ini seterang-terangnya," kata Eka.
Menurutnya, hingga kini keluarga masih menunggu penjelasan resmi terkait hasil autopsi yang telah dilakukan terhadap jenazah korban.
"Kami belum menerima hasil resminya. Kalau memang ada luka-luka seperti yang disampaikan, tentu harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada yang ditutupi," ujarnya.
Pantauan Tribunjabar.id di rumah duka yang berada di Jalan Basuki Rahmat, Gang Kolbis, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Purwakarta, Senin (15/6) sore, tampak suasana duka masih menyelimuti keluarga korban.
Sejumlah kerabat dan pelayat silih berganti datang untuk menyampaikan belasungkawa.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, juga terlihat hadir di rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga almarhum.
Kehadiran orang nomor satu di Purwakarta itu turut didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Purwakarta.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com