Harga BBM Nonsubsidi Naik Serentak, Antrean Taksi dan Truk Mengular di SPBU Ale-ale Jayapura
Paul Manahara Tambunan June 17, 2026 12:27 PM

 

 

Laporan wartawan Tribun Papua Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi secara nasional mulai Rabu (17/6/2026).

Kenaikan harga tersebut berlaku untuk sejumlah produk BBM berkualitas, termasuk Pertamax dan Pertamax Green, setelah dilakukan evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia serta harga pasar keekonomian.

Di Kota Jayapura, kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi itu menjadi perhatian masyarakat.

Pada hari pertama pemberlakuan harga baru, aktivitas pengisian BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tetap ramai.

Salah satunya terlihat di SPBU Pertamina 83.991.01 Padang Bulan atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai SPBU Ale-Ale, Distrik Heram, Kota Jayapura.

Baca juga: Abaikan Antrean, SPBU Hawai Sentani Dijatuhi Sanksi Dua Hari oleh Pertamina

Pantauan Tribun Papua di lokasi menunjukkan antrean kendaraan masih terjadi sejak pagi hingga siang hari. 

Puluhan kendaraan tampak berjejer menunggu giliran untuk mengisi BBM.

Antrean didominasi kendaraan angkutan umum, taksi, kendaraan pribadi, hingga truk pengangkut barang yang setiap hari melayani distribusi logistik di Kota Jayapura dan wilayah sekitarnya.

Sejumlah sopir terlihat memilih tetap mengantre meski harus menunggu cukup lama. Mereka mengaku kebutuhan operasional kendaraan membuat pengisian BBM menjadi hal yang tidak bisa ditunda.

SPBU Ale-Ale sendiri merupakan salah satu titik pengisian BBM yang paling sibuk di wilayah Abepura.

Lokasinya yang berada di jalur utama penghubung Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura menjadikan SPBU tersebut selalu dipadati kendaraan dari berbagai sektor.

Antrean kendaraan logistik bahkan tampak memanjang hingga keluar area pengisian BBM. Truk-truk pengangkut bahan bangunan, sembako, hingga kebutuhan usaha terlihat menunggu giliran pengisian solar.

Agus, seorang sopir angkutan umum rute Padang Bulan–Entrop, mengaku harus mencari SPBU lain setelah tidak mendapatkan kesempatan mengisi BBM di lokasi sebelumnya.

“Tadi pagi saya sudah antre di Entrop, tetapi diinformasikan baru bisa masuk antre sekitar jam dua siang. Karena terlalu lama menunggu, saya memilih datang ke SPBU Ale-Ale,” kata Agus kepada Tribun Papua.

Menurutnya, ketersediaan BBM sangat penting bagi para sopir angkutan umum karena menjadi penunjang utama aktivitas mencari penumpang setiap hari.

“Kalau BBM terlambat diisi, otomatis pendapatan kami juga berkurang karena waktu banyak habis di jalan untuk antre,” ujarnya.

Sementara itu, para sopir truk juga mengaku harus mengatur jadwal perjalanan agar tidak terlalu lama terjebak antrean.

Tingginya kebutuhan BBM untuk kendaraan logistik membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu hingga mendapat giliran pengisian.

Berdasarkan pantauan di lapangan, antrean kendaraan bergerak secara bertahap mengikuti kapasitas pelayanan SPBU. Petugas SPBU tampak mengatur arus kendaraan agar proses pengisian berjalan tertib dan lancar.

Di sisi lain, Pertamina memastikan kenaikan harga hanya berlaku untuk produk BBM nonsubsidi. Harga BBM subsidi yang digunakan sebagian besar masyarakat tetap tidak mengalami perubahan.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang telah ditetapkan pemerintah.

Baca juga: Mobil Penimbun BBM di Nabire Meledak di SPBU, Sopir Kabur

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan bersama pemerintah sebagai regulator,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Roberth, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi nasional sekaligus memastikan distribusi BBM berkualitas kepada masyarakat tetap berjalan optimal.

Untuk wilayah Papua dan Maluku, harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.600 per liter menjadi Rp16.650 per liter.

Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) tetap berada pada harga Rp21.200 per liter. Produk Dexlite (CN 51) juga tidak mengalami perubahan dan tetap dijual Rp23.500 per liter, sedangkan Pertamina Dex (CN 53) masih dibanderol Rp25.350 per liter.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, mengatakan harga tersebut berlaku di seluruh provinsi di Papua dan Maluku dengan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 7,5 persen.

“Harga ini berlaku di seluruh provinsi yang ada di Papua dan Maluku. Informasi lengkap terkait harga BBM terbaru dapat diakses melalui kanal resmi Pertamina maupun aplikasi MyPertamina,” ujarnya.

Pertamina juga menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter.

Perusahaan memastikan stok BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, dalam kondisi aman dan tersedia di seluruh jaringan SPBU yang beroperasi di Papua dan Maluku.

Dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku secara nasional tersebut, masyarakat diharapkan tetap membeli BBM sesuai kebutuhan dan memanfaatkan saluran informasi resmi Pertamina untuk memperoleh informasi terbaru terkait harga maupun ketersediaan BBM.

Sementara di Jayapura, aktivitas kendaraan yang terus meningkat membuat SPBU Ale-Ale tetap menjadi salah satu pusat pelayanan BBM tersibuk.

Antrean panjang taksi dan truk yang terlihat pada hari pertama kenaikan harga BBM menunjukkan tingginya ketergantungan sektor transportasi dan logistik terhadap pasokan energi untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.