Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Generasi muda harus tetap mencintai dan mempertahankan budaya ini. Jangan sampai tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun ini hilang ditelan zaman. Justru kita harus terus merawat dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.
TRADISI adat Pule Sele atau Sau Sele yang merupakan warisan leluhur Suku Kemak Leolima di Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu terus dilestarikan sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus penghormatan kepada Wujud Tertinggi dan para leluhur.
Tradisi ini kembali digelar pada 11-12 Juni 2026 dengan melibatkan seluruh masyarakat setempat. Festival budaya tahunan ini difasilitasi Komunitas Eliezer dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana serta LPDP, sebagai upaya menjaga eksistensi budaya lokal di wilayah perbatasan RI-RDTL.
Juru bicara Suku Kemak Leolima, Fr. Jefrianus Bere, menjelaskan, Pule Sele merupakan ritual adat wajib yang dilaksanakan setiap tahun setelah panen, biasanya pada awal hingga pertengahan Juni.
“Ritual ini adalah bentuk syukuran masyarakat atas hasil panen, sekaligus ungkapan terima kasih kepada wujud tertinggi dan penghormatan kepada para leluhur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan Dede Sele, yakni musyawarah para ketua suku untuk menentukan waktu pelaksanaan adat. Selanjutnya dilakukan Prausbisi Aweng, yaitu ritual pembersihan bagi suku yang mengalami kedukaan dalam setahun terakhir, agar seluruh rangkaian adat berlangsung dalam suasana sukacita.
Tahapan berikutnya adalah Telulu, yang dilaksanakan pada malam sebelum puncak acara. Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul untuk melaksanakan Habulehe Buitada, yakni penyampaian kepada leluhur dan wujud tertinggi bahwa ritual puncak akan dilaksanakan keesokan harinya.
Pada puncak ritual, masyarakat berkumpul di halaman rumah adat Leodato atau Natar Nohrema untuk melakukan tarian tebe dan likurai sebagai simbol kebersamaan dan kegembiraan.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Dato Delu, di mana perwakilan suku membawa hasil panen sebagai persembahan kepada Inar Amar Leodato untuk selanjutnya dipersembahkan kepada wujud tertinggi yang dikenal sebagai Bote Krama Inak Rae.
Setelah itu, dilakukan ritual makan sirih pinang bersama sebagai simbol penerimaan dan persatuan. Jagung yang dibawa dalam prosesi juga dipersembahkan sebagai tanda syukur.
Rangkaian ritual dilanjutkan dengan Selom Reas, yakni pergantian hasil panen lama dengan yang baru sebagai tanda dimulainya konsumsi hasil panen tahun ini. Selain itu, terdapat ritual Luiluha sebagai bentuk pemberian makan kepada leluhur, serta ritual penutup kabah yang bertujuan memohon perlindungan dan berkat dari wujud tertinggi.
Ia juga berharap agar generasi muda Suku Kemak Leolima dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi adat Pule Sele sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai spiritual dan kebersamaan.
“Generasi muda harus tetap mencintai dan mempertahankan budaya ini. Jangan sampai tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun ini hilang ditelan zaman. Justru kita harus terus merawat dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya,” ujar Fr. Jefrianus.
Lebih lanjut, Ia juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas dukungan semua pihak hingga terlaksananya kegiatan Pule Sele/Sau Lele di Desa Umaklaran.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, S.IP menjelaskan, kehadiran pemerintah dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya masyarakat.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Pariwisata telah mengusulkan tradisi Pule Sele atau Sau Sele ke Kementerian Kebudayaan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Kami sangat membutuhkan dukungan doa dari semua pihak agar tradisi ini dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda,” tutupnya.
Pelaksanaan tradisi adat Pule Sele di Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu berlangsung meriah. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual adat semata, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, identitas budaya, serta upaya pelestarian warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat Kemak Leolima. (agus tanggur)