TRIBUNJAKARTA.COM - Terkuak salah satu anggota aliansi BEM Bersatu, Ahmad Ghazy ternyata mencantut nama BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Hal tersebut diungkapkan oleh BEM FPsi UNJ melalui media sosial Instagram resmi mereka, pada Selasa (16/6/2026).
BEM FPsi UNJ dengan tegas membantah terlibat dalam konferensi pers yang digelar BEM Fakultas Bersatu di Komunitas Utan Kayu, Jakarta.
Senada dengan BEM FTI UBSI, BEM FPsi UNJ yang turut membantah mengirimkan perwakilan untuk hadir dalam konferensi pers tersebut.
"Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai pencatutan nama 'BEM FPsi UNJ' dalam aktivitas yang berhubungan dengan suatu gerakan tertentu, kami menyampaikan beberapa hal sebagai bentuk klarifikasi kepada publik:
BEM FPsi UNJ tidak pernah memberikan persetujuan kepada pihak tersebut untuk mewakilkan dan menggunakan nama "BEM FPsi UNJ"," ujarnya.
Namun, BEM FPsi UNJ mengakui adanya sivitas akademika yang turut hadir dalam konfrensi pers tersebut, yakni Ahmad Ghazy.
Kendati demikian, Ahmad Ghazy telah berstatus sebagai alumni angkatan 2020.
Ahmad Ghazy lulus dari UNJ, pada tahun 2024.
Tak cuma itu, Ahmad Ghazy juga bukan anggota BEM FPsi UNJ.
"Individu yang terlibat dalam kegiatan tersebut merupakan alumni FPsi UNJ angkatan 2020 dan bukan bagian dari anggota/kepengurusan aktif BEM FPsi UNJ 2026, sehingga tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut," katanya.
BEM FPsi UNJ mendesak agar Ahmad Ghazy menyampaikan permohonan maaf buntut mencatut nama organisasi untuk hadir dalam konferensi pers tersebut.
"Kami sangat menyayangkan adanya pelanggaran etik tersebut dan atas tindakan tersebut, yang bersangkutan diminta untuk menyampaikan permohonan maaf kepada BEM FPsi UNJ atas ketidaknyamanan serta dampak yang ditimbulkan," tegasnya.
Sebelumnya, perwakilan dari BEM Bersatu sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (FH UIC), Rahmat Djimbula, menyatakan sikap penolakan terhadap gerakan mahasiswa yang ditunggangi kepentingan politik praktis.
Dia menegaskan seharusnya gerakan mahasiswa harus menjadi suara rakyat alih-alih untuk merebut kekuasaan.
"Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan," katanya saat konfrensi pers di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Dalam kesempatan itu, mereka juga menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun dengan catatan adanya perbaikan tata kelola agar program tersebut tepat sasaran dan akuntabel.
"Mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel," ujarnya.
Rahmat menyatakan bahwa sejumlah aksi mahasiswa telah kehilangan rasa lantaran dianggap minim kajian dan lemah dalam argumentasinya.
Mereka pun turut mmempertanyakan prioritas isu yang diangkat.
Menurutnya, program MBG bukanlah isu yang perlu dijadikan sasaran penolakan.
"Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis, yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat, justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," katanya.
BEM Fakultas Bersatu juga menyatakan dukungan terhadap upaya penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi serta mengajak mahasiswa turut mengawalnya secara objektif.
"Mendukung pengusutan tuntas koruptor tanpa pandang bulu serta mengajak seluruh mahasiswa Indonesia mengawal proses hukum secara kritis dan objektif," kata Rahmat.
Rahmad juga menyebut mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, memiliki kedekatan dengan PDIP.
Dia menduga hal itu bisa dilihat dari mobil Fortuner yang ditumpangi Tiyo saat aksi demonstrasi di DIY beberapa waktu lalu yang disebutnya milik dari besan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa, Siti Nuraeni.
"Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar
Rahmat juga menduga hubungan itu diperkuat dengan kehadiran politikus PDIP, Andi Widjajanto, dalam aksi demonstrasi di DIY tersebut.
"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung, 18 Juni 2026, bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa."
"Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati," jelasnya.