TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Di tengah riuh rendah tangis haru dan pelukan hangat ribuan keluarga yang menyambut 118 jamaah haji Pasangkayu di Masjid Madaniah, Rabu (17/6/2026), terselip sebuah kisah lain yang jauh lebih sunyi.
Kisah tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang berdiri di bawah terik matahari, mencoba ikut bertahan di tengah keramaian yang penuh kebahagiaan itu.
Namanya Wisnu, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Salma dan Kabus.
Baca juga: Rencana Aksi Massa di Mamuju Unjuk Rasa Hari Ini Minta Evaluasi MBG dan Kopdes Hingga Cabut UU Polri
Baca juga: Jamaah Haji Pasangkayu Borong Boneka Unta dari Tanah Suci, Jadi Oleh-oleh Favorit Keluarga
Di usianya yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP, Wisnu tidak hanya memikirkan pelajaran sekolah, tetapi juga bagaimana membantu ibunya menyambung kebutuhan harian keluarga.
Sore itu, di pelataran Masjid Madaniah yang dipenuhi lautan manusia, Wisnu tampak berdiri di antara kerumunan.
Di tangannya tergenggam ikatan balon karakter berwarna-warni merah, biru, kuning yang sesekali bergoyang tertiup angin panas.
Di sampingnya, sang ibu, Salma, juga terlihat berjualan gorengan sederhana, memanfaatkan momen kepulangan jamaah haji yang selalu ramai oleh warga.
Di bawah matahari yang menyengat, Wisnu sesekali mengusap keringat di dahinya. Namun ia tetap tersenyum, menawarkan balon kepada anak-anak kecil yang datang bersama keluarga mereka.
Hari itu, ia memilih tidak masuk sekolah. Bukan karena ingin bermain, tetapi karena ada peluang kecil yang ia harapkan bisa membantu meringankan beban orang tua.
“Kalau ramai begini, lumayan bisa bantu mama,” begitu Wisnu bercerita singkat dengan suara pelan, seolah menahan lelah yang tidak ingin ia tunjukkan.
Keluarga kecil itu tinggal di Jalan Pattimura, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu.
Hidup mereka sederhana, dengan penghasilan harian yang bergantung pada jualan gorengan dan balon di keramaian.
Namun kisah Wisnu tidak berhenti di siang hari itu saja. Ia mengaku, hampir setiap malam dirinya kembali turun ke lokasi berbeda, yakni di kawasan Anjungan Vovasanggayu.
Di sana, ia kembali menjajakan balon hingga larut malam, menunggu pengunjung yang masih menikmati suasana malam kota.
“Biasanya pulang sudah malam, kadang sampai tengah malam,” tuturnya. “Besoknya tetap sekolah.”
Rutinitas itu ia jalani meski tubuh kecilnya sering kali tak benar-benar beristirahat cukup.
Kadang, ia mengantuk di kelas, namun tetap berusaha bertahan mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya.
Di balik wajah polosnya, tersimpan beban yang tak banyak dimiliki anak seusianya. Namun Wisnu tidak mengeluh.
Ia justru menganggap semua itu sebagai bagian dari kewajibannya sebagai anak pertama yang ingin membantu keluarga.
Di tengah euforia kepulangan jamaah haji yang penuh kebahagiaan, sosok Wisnu seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap keramaian, selalu ada cerita perjuangan yang tidak terlihat.
Cerita tentang keteguhan seorang anak kecil yang memilih berdiri di bawah panas matahari, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membantu ibunya tetap bertahan di tengah kehidupan yang sederhana.
Dan di antara sorak-sorai kebahagiaan itu, balon-balon yang dijual Wisnu terus melayang ringan seakan membawa harapan kecil tentang masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarganya.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan