- Ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali memenuhi kawasan Titik Nol Kilometer pada Rabu (17/6/2026).
Aksi bertajuk "Merahkan Titik Nol" ini menjadi lanjutan gelombang demonstrasi mahasiswa di jantung Kota Jogja, menegaskan sikap oposisi terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap semakin menjauh dari kepentingan rakyat.
Sejak siang, massa yang tergabung dalam Aliansi UMY Bergerak mengenakan almamater dan membentangkan spanduk berisi kritik.
Koordinator umum aliansi, Arif, menegaskan bahwa pemilihan Titik Nol bukan sekadar simbol, melainkan upaya membangkitkan memori kolektif perlawanan mahasiswa sekaligus menarik perhatian masyarakat luas.
Dalam orasi, mahasiswa menyampaikan delapan tuntutan utama yang mereka sebut sebagai suara rakyat:
1. Reforma agraria sejati dan pencabutan keanggotaan Indonesia dari lembaga internasional yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan rakyat.
2. Hentikan program tidak pro rakyat, termasuk makan bergizi gratis (MBG) dan proyek strategis nasional.
3. Turunkan harga BBM dan kebutuhan pokok.
4. Kembalikan TNI-Polri ke barak dan hentikan kriminalisasi militer.
5. Stop kriminalisasi aktivis serta jamin kebebasan berpendapat.
6. Hentikan perampasan tanah dan eksploitasi SDA.
7. Prioritaskan APBN untuk pendidikan dan kesehatan, hentikan privatisasi pendidikan.
8. Tuntut Prabowo-Gibran akui kesalahan atau turun.
Arif menambahkan, dominasi kepentingan asing masih terasa kuat dalam kebijakan ekonomi, sehingga rakyat semakin terbebani.
Selain delapan tuntutan, mahasiswa juga menyoroti proyek strategis nasional (PSN) yang dinilai membebani APBN.
Perwakilan UIN Sunan Kalijaga, Dias Habibi, menilai program makan bergizi gratis diterapkan tergesa-gesa tanpa kajian ilmiah.
Ia bahkan mengaitkan kasus korupsi di Badan Gizi Nasional sebagai bukti lemahnya sistem pengawasan.
Mahasiswa juga mendesak pemerintah agar tidak berlindung di balik alasan fluktuasi harga global dalam menentukan harga BBM.
Mereka menuntut percepatan transisi energi dan pembangunan industri nasional agar Indonesia tidak bergantung pada impor.
Aksi di Titik Nol Jogja ini menegaskan konsistensi mahasiswa sebagai oposisi kritis.
Dengan delapan tuntutan yang mereka suarakan, mahasiswa berharap pemerintah berani mengakui kesalahan atau mengambil langkah mundur demi kepentingan rakyat.