TRIBUNNEWS.COM - Joe Hart memiliki keyakinan bahwa Thomas Tuchel dapat membawa timnas Inggris beradaptasi dengan segala skenario terburuk di lapangan. Entah itu disebabkan oleh faktor teknis maupun faktor non teknis yang akan mengubah permainan.
Mantan kiper Man City itu bahkan yakin, dalam seburuk apapun situasi yang dihadapi timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel dapat mengatasinya untuk memberi kemenangan.
"Saya rasa Thomas Tuchel sangat cerdas, dia memiliki skenario terburuk di lapangan di mana dia berpikir Inggris bisa menang," kata Joe Hart, dikutip dari laman BBC.
"Saat mereka berada dalam kondisi terburuk, dia masih berpikir mereka bisa menang. Jika situasinya terbalik dan semua orang menemukan performa terbaiknya, dan Inggris bermain bagus, mereka bisa menghancurkan sebagaian besar dan mengalahkan tim-tim yang sangat bagus," jelasnya.
Komentar itu dilayangkan Joe Hart sebelum pertandingan pertama timnas Inggris dalam Grup L Piala Dunia 2026 melawan Kroasia yang akan berlangsung di Stadion Dallas pada Kamis (18/6/2026) pukul 03.00 WIB.
"Dia punya skenario terburuk yang brilian, yaitu saat bermain bertahan atau kurang meyakinkan, atau juga skenario terbaik di mana semua pemain menemukan performa terbaik mereka sehingga dapat mengalahkan lawan dengan telak," tambahnya.
Baca juga: Prediksi Skor Inggris vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Favorit Juara Hadapi Spesialis Kejutan
Apa yang disampaikan Joe Hart bisa tercermin pada laga uji coba pamungkas pekan lalu melawan Kosta Rika yang berakhir dengan kemenangan 3-0.
Thomas Tuchel girangnya bukan main setelah tim asuhannya bermain begitu baik dan terstruktur dalam permainan di lapangan.
Hasil yang kemudian membuatnya menjadi optimis sebagai penantang gelar, dan merendah ketika disebut sebagai salah satu kesebelasan yang difavoritkan juara.
Mantan pelatih Chelsea itu lebih suka menganggap timnya sebagai penantang bagi kontestan lainnya, dan itu bisa dilihat dari laga perdana mereka, sejauh apa, dan sehebat apa Inggris untuk unjuk gigi?
"Thomas Tuchel tahu betul bahwa mereka harus berjuang mati-matian, melawan habis-habisan," terangnya.
"Idealnya, kami ingin melihat mereka memainkan sepak bola yang mengalir dan mendominasi permainan hingga Harry Kane mencetak hattrick di setiap pertandingan."
Namun, kecerdasan taktis dan kemampuan membaca berbagai skenario pertandingan saja dinilai belum cukup untuk membawa Inggris menjadi juara dunia.
Jika Tuchel diyakini mampu menemukan solusi untuk berbagai masalah di atas lapangan, tantangan berikutnya justru berada di luar garis lapangan.
Football Enthusiast, Gigih W berpendapat timnas Inggris bisa mengikuti jejak Argentina untuk juara dunia setelah terakhir kali merasakannya pada 1966 jika mampu menjaga kekompakan tim.
Kuncinya bagi Gigih, asalkan Thomas Tuchel dapat menjaga kondusivitas dan kenyamanan antarpemain.
"Kuncinya kalau memang mau melaju jauh buat Inggris itu gimana caranya menjaga ruang ganti tetap kondusif. Itu aja, tetap kondusif dan pemain-pemain ini nyaman," kata Gigih.
Di masa sebelum Tuchel, Inggris cukup bertaji ketika berlaga di Piala Dunia maupun Piala Eropa.
Mereka mencapai babak final di dua ajang tersebut, namun sayangnya, faktor keberuntungan belum berpihak kepada mereka untuk mengangkat trofi.
Faktor tersebut juga dapat menjadi indikator dalam perjalanan Inggris di Piala Dunia kali ini.
Jika berhasil melaju ke babak 32 besar, tergantung lawan yang akan mereka hadapi dalam bracket fase gugur nantinya.
Spanyol, Portugal, Jerman, Prancis adalah contoh yang kuat secara karakter yang dapat menjegal langkah mereka melaju lebih jauh.
"Kalau ke final Piala Dunia cukup berat. Tapi secara lagi ya tergantung bracketnya Inggris akan bertemu siapa (di fase gugur). Itu bisa menjadi kunci penting," jelasnya.
(Tribunnews.com/Sina)