SERAMBINEWS.COM - Kebocoran dokumen nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghebohkan panggung geopolitik.
Laporan yang bersumber dari Bloomberg menyebutkan adanya draf 14 poin yang beredar luas dan identik di berbagai sumber, menguatkan dugaan bahwa dokumen itu setidaknya merupakan rancangan awal.
Namun, statusnya masih menjadi tanda tanya. Otoritas di Teheran menegaskan bahwa teks yang bocor bukan versi final dan belum ditandatangani secara digital.
Meski demikian, isi draf tersebut sudah cukup untuk memicu perdebatan internasional, terutama karena memuat paket bantuan ekonomi besar bagi Iran.
Dalam draf yang beredar, Iran disebut akan menerima program rehabilitasi ekonomi hingga US$300 miliar, izin penjualan minyak, serta pelonggaran sanksi.
Sebagai imbalannya, Teheran menawarkan konsesi strategis di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Rancangannya menyebut Selat Hormuz akan dibuka selama 60 hari untuk periode negosiasi lanjutan, dengan target pemulihan volume lalu lintas pelayaran ke level pra-perang dalam 30 hari.
Dokumen bocor itu juga mencantumkan komitmen Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Teheran menanggapi dengan menegaskan posisi lama mereka: Iran tidak pernah menyatakan keinginan memiliki bom nuklir.
Baca juga: VIDEO - Misteri Bendera Hitam Raksasa Iran Setelah Kesepakatan dengan AS, Ternyata Ini Maknanya
Bahkan, komitmen serupa sudah termaktub dalam kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani bersama komunitas internasional pada era Presiden Barack Obama.
Untuk isu nuklir lainnya, draf tersebut menyiratkan bahwa pembahasan lanjutan akan dilakukan di tahap negosiasi berikutnya.
Media semi-resmi Iran yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menilai salinan MoU versi Bloomberg mengandung banyak ketidakakuratan.
Beberapa klausul dinilai tidak lengkap, bahkan disebut ada kata kunci yang hilang, terutama terkait pengaturan di Selat Hormuz.
Menanggapi derasnya spekulasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa publikasi draf bocor tidak mencerminkan kesepakatan final. Ia menyatakan, teks resmi akan diumumkan setelah upacara penandatanganan pada Jumat.
Dengan tarik-ulur klaim dan bantahan ini, satu hal jelas: kebocoran MoU AS–Iran telah membuka babak baru ketegangan sekaligus peluang, antara harapan stabilitas ekonomi dan sensitivitas keamanan kawasan.