Laporan Wartawan TribunJabar.id, Adi Ramadhan Pratama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sejumlah pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Bandung tengah menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya produksi akibat dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bandung, setidaknya ada 620 perajin tahu dan tempe yang berusaha menjalankan usahanya di tengah ekonomi yang kurang stabil saat ini.
Ketua Kopti Kabupaten Bandung, Ghufron Cokro Valentino, mengungkapkan, sejumlah perajin mengambil langkah menghadapi kondisi saat ini, salah satunya mengecilkan ukuran dan mengurangi produk. Pasalnya, biaya produksi meningkat.
Baca juga: Harga Kedelai Meroket, Perajin Tahu dan Tempe di Bandung Didorong Tetap Bertahan
"Daya beli masyarakat juga menurun, di antaranya lantaran nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar Amerika Serikat. Dampaknya, omzet perajin tahu dan tempe menurun," ujarnya kepada awak media pada Rabu (17/6/2026).
Ghufron mengatakan, harga kedelai yang menjadi bahan utama produksi saat ini terus bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram, kini harganya hampir menyentuh Rp11.000 per kilogram.
Selain itu, biaya plastik mengalami lonjakan. Kenaikannya mencapai sekitar 80 persen dibandingkan sebelumnya. Kondisi itu diduga berkaitan dengan ketidakstabilan geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok bahan baku di Indonesia.
"Kedelai (untuk produksi tahu dan tempe) impor dari Amerika Serikat. Kenaikan harga kedelai bertahap, Rp200-Rp300 di tiap pekan. Saat ini, harga kedelai mendekati Rp11 ribu di tingkat user (perajin). Kendati naik (harga), masih terbilang wajar," katanya.
Di tempat yang berbeda, Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung, Dicky Anugerah menyebutkan, di Kabupaten Bandung memang kebanyakan kedelai untuk produksi tahu dan tempe masih merupakan bahan impor.
Dengan adanya hal itu, Dicky berharap, ada pengembangan benih kedelai dengan hasil panen menyamai kualitas yang impor. Selain itu, pihaknya berharap, segera ada kebijakan moneter yang menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Dalam hal kebutuhan pokok, mengingat pemenuhannya dari lokal, harga masih terkendali. Kendati demikian, kami tetap mewaspadai, dengan memastikan rantai pasok tetap berjalan lancar. Kami pun terus mewaspadai kerawanan inflasi," ucapnya.
Berdasarkan pantauan Tribun Jabar, nilai rupiah terhadap dolar per Rabu (17/6/2026) sudah sedikit menguat. Tercatat, per hari ini nilai rupiah dari dolar Amerika Serikat menyentuh angka Rp 17.740. dari sebelumnya yang sempat Rp 18.190.
Baca juga: Dolar Tembus Rp18 Ribu, Pengusaha Tempe Baleendah Keluhkan Daya Beli Turun dan Biaya Produksi Naik
Meskipun rupiah telah menguat dalam beberapa hari terakhir terhadap dolar Amerika Serikat, harga impor kedelai untuk bahan baku pembuatan tahu dan tempe di wilayah Kabupaten Bandung belum menunjukkan penurunan.