TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU -Ironi tengah melanda para petani kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Di saat harga Tandan Buah Segar (TBS) sedang seksi-seksinya merangkak naik hingga menembus angka di atas Rp2.000 per kilogram di tingkat pengecer, para petani justru gigit jari.
Berkah harga mahal tersebut mendadak jadi petaka lantaran hampir seluruh timbangan pengepul (RAM) di wilayah ini memilih tutup total selama lebih dari sepekan terakhir.
Pantauan di lapangan menunjukkan, lumpuhnya aktivitas pembelian buah oleh pengepul dipicu oleh kemacetan parah dan antrean mengular truk pengangkut TBS di sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Pasangkayu.
Baca juga: Kabar Gembira! Kuota Jamaah Haji Mamuju Tengah Akan Ditambah Tahun 2027
Baca juga: Wabup Pasangkayu Buka Audiensi PIP DAU SG Kesehatan, Tekankan Peningkatan Layanan
Truk-truk tersebut harus tertahan hingga berhari-hari di area pabrik hanya untuk menunggu giliran bongkar muatan.
Kondisi ini membuat para petani swadaya terjebak dalam ketidakpastian. Banyak dari mereka yang terpaksa menunda masa panen, sementara yang telanjur memanen sawitnya kini kebingungan mencari pembeli.
Keluhan serupa disampaikan oleh Papa Fadel, salah seorang petani sawit lokal. Ia meluapkan kekecewaannya karena momentum harga tinggi ini justru tidak bisa dinikmati sama sekali oleh masyarakat bawah.
"Percuma harga mahal kalau kita pusing mau jual ke mana. Buah sudah siap panen, tapi timbangan di mana-mana tutup. Kita mau bawa ke mana ini hasil keringat kita kalau kondisinya begini terus?" keluh Papa Fadel saat ditemui di lokasi perkebunannya, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, penundaan panen juga bukan tanpa risiko.
Jika buah dibiarkan terlalu lama di pohon, kualitasnya akan menurun dan beratnya menyusut, yang pada akhirnya tetap akan merugikan petani.
Dampak domino dari mandeknya proses bongkar muat di pabrik ini dirasakan langsung oleh para pengelola timbangan digital atau pengepul.
Mereka terpaksa memasang papan informasi dengan tulisan OFF, dan menolak pasokan dari petani karena modal mereka tertahan pada truk-truk yang mandek mengantre di pabrik.
Risman, salah seorang admin timbangan yang ditemui di Desa Pangiang, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, membenarkan bahwa pihak manajemen timbangan sudah kehabisan ruang untuk menampung buah akibat mandeknya distribusi ke PKS.
"Truk truk kami tertahan di pabrik selama berhari hari, Akibatnya, stok buah yang ada di lapak kami banyak yang membusuk karena terlalu lama mengendap. Pastinya kami mengalami kerugian yang tidak sedikit," ungkap Risman lesu.
Risman menambahkan, jika kualitas buah sudah menurun atau membusuk, pihak pabrik biasanya akan memberlakukan potongan harga yang tinggi atau bahkan menolak buah tersebut.
Risiko besar inilah yang memaksa sebagian besar pemilik timbangan di Pasangkayu memilih tiarap dan menghentikan pembelian untuk sementara waktu.
Selain masalah kapasitas tampung pabrik yang dinilai sudah tidak sebanding dengan ledakan produksi serta bertambahnya luas lahan petani dari tahun ke tahun, ada persoalan lain yang memicu kecemburuan sosial.
Muncul dugaan bahwa sebagian PKS saat ini lebih memprioritaskan pengolahan buah yang berasal dari perkebunan inti (milik perusahaan sendiri) ketimbang buah dari petani swadaya (masyarakat).
Melihat situasi yang kian berlarut-larut dan mulai mengancam stabilitas ekonomi warga yang mayoritas bergantung pada sektor perkebunan sawit, pemerintah daerah (Pemda) Pasangkayu didesak untuk segera mengambil tindakan nyata.
Masyarakat dan para pelaku usaha sawit berharap Pemda dapat segera memediasi pertemuan dengan pihak manajemen seluruh PKS di Pasangkayu untuk mengurai benang kusut antrean ini.
Jika masalahnya adalah keterbatasan kapasitas, Pemda diharapkan dapat mendorong peningkatan infrastruktur pabrik atau membuka kran investasi bagi pembangunan pabrik baru sebagai solusi jangka panjang, agar hak-hak petani swadaya tidak terus terpinggirkan.
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan