Sosok Polisi yang Ditangkap Mahasiswa UMY di Dalam Kampus Usai Demo, Polda DIY Berdalih Pengamanan
Musahadah June 18, 2026 12:05 PM

 

SURYA.CO.ID - Terungkap sosok pria yang ditangkap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di dalam kampus yang berlokasi di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, pada Rabu (17/6/2026) malam.

Ternyata pria berambut pendek dan berkulit sawo matang itu adalah anggota Polda DIY yang ditgaskan ke UMY. 

Namun, saat ditangkap dia tidak mengenakan seragam dinas, tapi memakai kaus berwarna hitam, celana jeans, dan membawa tas selempang.

Penangkapan personil polisi ini dilakukan setelah para mahasiswa kembali ke kampus seusai menggelar aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Video penangkapan itu diunggah di akun Instagram @umy_bergerak pada Rabu malam.

Baca juga: Saat Mahasiswa UGM Tolak Ajakan Pemerintah ke Papua, Wapres Gibran Kini Bareng 5 Mahasiswa ke Sana

Dalam video tersebut, pria itu terlihat mengenakan kaus berwarna hitam, celana jeans, dan membawa tas selempang.

Ia memiliki ciri-ciri berambut pendek dan berkulit sawo matang. Pada momen itu, pria tersebut tengah diinterogasi oleh beberapa mahasiswa UMY. 

Dia pun ditanyai oleh mahasiswa UMY terkait masuk ke lingkungan kampus setelah aksi demonstrasi digelar.

Setelah itu, pria tersebut mengaku bisa masuk ke dalam kampus setelah meminta izin kepada pihak sekuriti.

"Mengapa dan gimana bisa masuk kampus?" tanya mahasiswa.

 "Ya saya bisa masuk karena izin satpam," kata pria tersebut.

"Bisa disebutin nama orang yang ngizinin?" tanya mahasiswa lagi.

Sementara di saat yang bersamaan, perekam menyebut bahwa pria tersebut diduga intel dari Polda DIY.

"Intel Polda, intel Polda," kata perekam.

Lalu, selama diinterogasi, pria tersebut tampak mengompres mata kanannya dengan es batu. Tidak diketahui penyebab dirinya sampai mengompres mata kanannya tersebut.

Namun, tampak mata pria tersebut mengalami bengkak.

Di saat yang bersamaan, mahasiswa lainnya yang masih mengenakan jas almamater UMY berwarna merah terus menanyai pria tersebut.

"Kowe (kamu) izin ke satpam kan?" tanya mahasiswa.

"Iya, iya," kata pria tersebut sembari menganggukan kepala.

Namun, meski diizinkan pihak sekuriti, pria tersebut mengaku hanya diperbolehkan untuk berada di pos jaga. Hanya saja, pria itu justru masuk hingga ke area dalam kampus.

"Iya diizinin, tapi cuma boleh di pos satpam," ujar pria itu.

"Tapi lo sampai masuk, bos. Lo tahu gak? Area di luar UMY itu ya cuma sampai pagar itu," tegas mahasiswa.

Pria itu lantas ditanyai oleh mahasiswa terkait profesinya. Dia pun mengakui bahwa dirinya merupakan intel dari Polda DIY.

"Kamu intel kan? Intel dari mana?" tanya mahasiswa.

"Polda," jawab pria tersebut.

"Polda mana?" tanya mahasiswa lagi.

"DIY," timpal pria itu singkat.

Setelah itu, mahasiswa meminta pihak yang menyuruhnya untuk berada di lingkungan UMY. Lantas, pria tersebut menyebut nama Kapolda DIY, Irjen Pol Anggoro Sukartono.

"Siapa yang memerintahkan kau turun ke sini untuk memantau anak-anak? Mengamankan kan bahasamu?" tanya mahasiswa.

"Iya, dari Kapolda DIY," jawab pria itu.

Kemudian, mahasiswa pun menyerahkan sebuah ponsel ke pria tersebut. Ternyata, ponsel itu terhubung dengan orang yang diduga berasal dari Polda DIY.

Pria tersebut lantas meminta kepada orang yang terhubung di ponsel tersebut untuk menjemputnya.

"Pak, jemput pak di Rektorat UMY," kata pria itu.

Polisi Berdalih untuk Pengamanan

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, membenarkan bahwa pria yang ditangkap oleh mahasiswa UMY adalah polisi.

Dia mengatakan personel tersebut bertugas setelah memperoleh perintah dari pimpinan.

"Terkait video yang beredar di media sosial, kami sampaikan bahwa pria yang ada dalam video tersebut adalah benar anggota Polda DIY dan merupakan petugas yang resmi yang terlibat dalam surat perintah pelayanan penyampaian pendapat di muka umum yang dilaksanakan hari ini (kemarin) di Titik Nol," kata Ihsan dikutip dari akun Instagram resmi Polda DIY, Kamis (18/6/2026).

Ihsan menuturkan kehadiran pria tersebut semata-mata untuk mengamankan mahasiswa UMY yang hendak kembali ke kampus setelah menjalankan demonstrasi.

"Terkait yang bersangkutan ada di lokasi adalah bagian dari pelaksanaan tugas dan murni dalam rangka mengawal keselamatan peserta aksi yang akan pulang ke kampusnya dalam keadaan aman dan selamat," ujarnya.

Ihsan mengatakan bahwa ada kesalahpahaman antara polisi tersebut dengan pihak UMY.

Kini, personel yang sempat ditangkap oleh mahasiswa UMY itu telah dikembalikan ke Polda DIY.

"Terkait miskomunikasi dan kesalahpahaman tersebut telah diselesaikan dengan humanis. Kami telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan baik dengan pihak rektorat dan mahasiswa dan saat ini anggota tersebut telah kembali ke Polda DIY."

"Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak rektorat dan mahasiswa atas koordinasi yang sangat baik yang sudah terjalin saat ini," katanya.

8 Tuntutan Mahasiswa UMY

Aksi unjuk rasa mahasiswa UMY ini membawa misi evaluasi kritis terhadap jalannya pemerintahan nasional dan regional. 

Aliansi UMY Bergerak menilai orientasi kebijakan ekonomi negara saat ini masih terbelenggu kepentingan asing (imperialisme) dan jauh dari kebutuhan riil rakyat.

Terdapat delapan tuntutan krusial yang disuarakan oleh massa aksi, yaitu:

1. Wujudkan reforma agraria sejati, cabut keanggotaan Indonesia dari Board of Peace yang tidak sejalan dengan rakyat dan prinsip kemanusiaan.

2. Segera hentikan seluruh program dan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, termasuk program makan gratis atau MBG, pelaksanaan MBG di kampus, operasi merah putih, serta pembangunan proyek-proyek strategis nasional yang merugikan rakyat.

3. Turunkan harga bahan bakar minyak ke seluruh jenis, harga kebutuhan pokok, serta harga kebutuhan produksi rakyat.

4. Hentikan kriminalisasi terhadap gerak militer, dan kekerasan yang aktif maupun purnawirawan dari jabatan sipil strategis, serta kembalikan TNI dan Polri ke barak.

5. Hentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap aktivis mahasiswa, buruh, tani, dan seluruh elemen rakyat sipil, serta jamin kebebasan berpendapat dan hak-hak demokrasi rakyat.

6. Hentikan segala bentuk penindasan dan perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, wujudkan reforma agraria sejati, serta pembangunan industri nasional sebagai satu-satunya jalan pembebasan rakyat dari belenggu sistem yang menindas dan menghisap.

7. Prioritaskan APBN untuk sektor pendidikan dan kesehatan, hentikan komersialisasi, liberalisasi, dan privatisasi pendidikan, serta wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis bagi masyarakat rakyat Indonesia.

8. Menuntut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengakui kesalahan atas kebijakan yang merugikan rakyat atau segera turun.

Arif menegaskan bahwa delapan poin tuntutan tersebut lahir dari kajian mendalam lintas elemen mahasiswa yang tergabung dalam aliansi.

"Itu total poin-poin yang bisa kita sampaikan yang di mana itu berdasarkan dari pembacaan situasi dari kawan-kawan Aliansi UMY Bergerak, dengan berbagai elemen mahasiswa yang tergabung di dalamnya, yang kemudian kita melakukan pembacaan situasi secara regional maupun nasional. Jadi, kebijakan hari ini tidak terlepas daripada kepentingan politik, bahwa ada imperialisme yang berwujud ke luar terhadap negara Indonesia. Dominasi daripada imperialis terhadap pemerintah itu masih sangat-sangat kental dan masih sangat-sangat bergantung, sehingga kebutuhan daripada pokok rakyat, lemahnya rupiah, itu tidak terlepas daripada kepentingan politik," pungkas Arif. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.