Belajar Dari Sahabat Muhajirin dan Anshar Di Tengah Tantangan Ekonomi Modern
Adrianus Adhi June 18, 2026 12:05 PM

Oleh: Akhmad Muhaini

Bulan Muharram selalu mengingatkan umat Islam pada sebuah peristiwa besar yang mengubah arah sejarah peradaban: hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Selama ini, hijrah sering dipahami sebagai perpindahan tempat atau perjuangan menyelamatkan akidah. Padahal, hijrah juga menyimpan pelajaran penting tentang pembangunan ekonomi umat.

Menariknya, ketika kaum Muhajirin meninggalkan Makkah, mereka tidak hanya meninggalkan rumah dan kampung halaman. Mereka juga meninggalkan harta, usaha, dan sumber penghidupan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Dengan kata lain, mereka memulai kehidupan baru dari titik yang hampir nol. Namun, di tengah keterbatasan itu, lahirlah salah satu model pemberdayaan ekonomi paling inspiratif dalam sejarah Islam.

 Ketika Solidaritas Menjadi Modal Ekonomi

Sesampainya di Madinah, kaum Muhajirin disambut oleh kaum Anshar dengan sikap yang luar biasa. Mereka tidak sekadar memberikan ucapan selamat datang, tetapi juga berbagi sumber daya ekonomi.  Kaum Anshar membantu kaum Muhajirin dengan makanan, pakaian, tempat tinggal, bahkan modal usaha dan lahan pertanian untuk dikelola. Solidaritas sosial tidak berhenti pada belas kasihan, tetapi diwujudkan dalam dukungan ekonomi yang nyata.

Al-Qur’an mengabadikan sikap mulia kaum Anshar:

 وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

 “Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.”  (QS. Al-Hasyr: 9). Ayat ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang kuat tidak hanya bertumpu pada modal finansial, tetapi juga pada modal sosial berupa kepedulian dan solidaritas.

 Abdurrahman bin Auf dan Semangat Kemandirian

Salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah hijrah adalah pertemuan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad bin Rabi'. Sebagai bentuk persaudaraan, Sa'ad bin Rabi' menawarkan sebagian hartanya kepada Abdurrahman bin Auf. Namun jawaban Abdurrahman sangat menarik.

 دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ

 “Tunjukkan kepadaku di mana pasar berada.”

Kalimat singkat ini mengandung filosofi ekonomi yang sangat kuat. Abdurrahman tidak memilih menjadi penerima bantuan pasif. Ia memilih bekerja, berdagang, dan membangun kehidupannya sendiri. Bantuan diterima sebagai jembatan, bukan sebagai ketergantungan. Dalam konteks kekinian, pesan ini sangat relevan. Bantuan sosial memang penting, tetapi tujuan akhirnya haruslah kemandirian ekonomi.

 Pasar Madinah: Simbol Ekonomi yang Adil

Salah satu langkah penting Nabi Muhammad setelah hijrah adalah membangun pasar Islam di Madinah. Pasar ini menjadi simbol lahirnya sistem ekonomi yang lebih adil, terbuka, dan bebas dari praktik-praktik yang merugikan masyarakat. Aktivitas ekonomi tidak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu dan harus memberikan kesempatan yang sama bagi semua pelaku usaha. Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:

 كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

 “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

 (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini menegaskan bahwa Islam menghendaki ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

 Pelajaran bagi Indonesia

Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari ketimpangan pendapatan, pengangguran, hingga kesenjangan akses modal bagi pelaku usaha kecil. Dalam situasi seperti ini, kisah hijrah menawarkan pelajaran yang sangat berharga.

Pertama, pentingnya solidaritas sosial. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang saling membantu, bukan saling menjatuhkan.

Kedua, pentingnya pemberdayaan ekonomi. Bantuan harus diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat.

Ketiga, pentingnya menciptakan ekosistem ekonomi yang adil, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Keempat, pentingnya semangat kerja keras sebagaimana dicontohkan Abdurrahman bin Auf. Kesuksesan tidak lahir dari ketergantungan, tetapi dari usaha yang sungguh-sungguh.

 Dari Charity Menuju Empowerment

Sering kali bantuan ekonomi berhenti pada aspek konsumtif. Padahal sejarah hijrah mengajarkan bahwa bantuan terbaik adalah bantuan yang melahirkan kemandirian. Kaum Anshar tidak sekadar memberi makan kaum Muhajirin sehari atau dua hari. Mereka membantu agar kaum Muhajirin mampu bangkit dan mandiri secara ekonomi. Inilah konsep pemberdayaan yang sesungguhnya. Dalam istilah modern, pendekatan ini dikenal sebagai empowerment, tetapi Islam telah mempraktikkannya lebih dari empat belas abad yang lalu.

 Hijrah sebagai Inspirasi Kebangkitan Ekonomi

Hijrah bukan hanya kisah perpindahan geografis, melainkan juga kisah transformasi ekonomi. Dari masyarakat yang tertekan di Makkah, umat Islam berhasil membangun sistem ekonomi yang kuat di Madinah. Dari kehilangan harta, mereka membangun kemandirian. Dari keterbatasan, mereka menciptakan peluang.

Karena itu, memperingati tahun baru Hijriah seharusnya tidak berhenti pada seremonial. Momentum hijrah perlu dimaknai sebagai ajakan untuk berhijrah dari ketergantungan menuju kemandirian, dari individualisme menuju solidaritas, dan dari ketimpangan menuju keadilan ekonomi.

Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya dibangun oleh modal dan teknologi, tetapi juga oleh kerja keras, kejujuran, solidaritas, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai itulah yang diwariskan oleh hijrah, dan nilai-nilai itulah yang tetap relevan untuk membangun ekonomi Indonesia hari ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.