Tak Bertemu Pezeshkian, Detik-detik Trump Teken Kesepakatan Damai dengan Iran: Ini Tidak Mudah!
Aura Dewi Arafuru June 18, 2026 12:11 PM

- Sinyal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mulai terlihat.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi menandatangani nota kesepahaman pada Rabu (17/6/2026).

Meski demikian, keduanya tidak bertemu secara langsung saat proses penandatanganan berlangsung.

Dokumen tersebut sebelumnya telah lebih dulu ditandatangani secara digital oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf.

Trump menandatangani salinan perjanjian saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles.

Sementara itu, Pezeshkian menandatangani dokumen yang sama dari pihak Iran.

Pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman tersebut telah resmi disetujui kedua negara.

Kesepakatan itu berisi 14 pasal utama.

Isinya menjadi dasar negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.

Tujuannya untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri konflik yang terjadi di kawasan.

Pakistan yang menjadi mediator perundingan juga mengonfirmasi bahwa kesepakatan mulai berlaku setelah ditandatangani kedua pihak.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan nota kesepahaman tersebut mencakup sejumlah poin penting.

"Penandatanganan nota kesepahaman AS-Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah berarti Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz dengan segera dan blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan berakhir segera," kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Kamis (18/6/2026).

Di antaranya penghentian operasi militer dan upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Kesepakatan itu juga membuka kembali Selat Hormuz.

Selain itu, blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dihentikan.

Perjanjian tersebut turut memuat langkah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Dampaknya juga diperkirakan akan terasa pada sektor energi global.

Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai dapat memperlancar jalur distribusi minyak dunia.

Meski disambut positif oleh sejumlah pihak, kesepakatan ini juga menuai kritik.

Beberapa pejabat Israel dilaporkan kecewa dengan isi perjanjian tersebut.

Di Amerika Serikat, sejumlah politisi Partai Republik juga menilai kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran.

Dengan berlakunya nota kesepahaman tersebut, upacara penandatanganan yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6) akhirnya dibatalkan.

Meski demikian, Washington dan Teheran tetap bersikap waspada.

Kedua negara menegaskan konflik dapat kembali memanas apabila isi kesepakatan dilanggar.

Presiden AS Donald Trump juga menegaskan bahwa nota kesepahaman atau MoU yang telah dicapai dengan Iran belum bersifat final.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian-les-Bains, Prancis, pada Rabu (17/6).

Trump mengatakan kesepakatan tersebut masih dapat dibatalkan apabila Iran tidak mematuhi komitmen yang telah disepakati.

Ia bahkan mengancam akan kembali melakukan serangan militer terhadap Iran jika Teheran dianggap melanggar kesepakatan.

"Itu adalah sebuah nota kesepahaman. Dan jika saya tidak menyukainya, jika mereka tidak bersikap baik, kami akan segera kembali menjatuhkan bom," ujar Trump.

Meski demikian, Trump menilai kesepakatan awal dengan Iran menjadi langkah penting untuk meredakan ketegangan yang selama ini terjadi di Timur Tengah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.