Sempat Dikira Korban Begal, Pelajar di Jakbar Meninggal Usai Dibacok: Ternyata Korban Salah Sasaran
Jaisy Rahman Tohir June 18, 2026 01:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, GROGOL PETAMBURAN - Beberapa waktu lalu viral pelajar bersimbah darah di dekat Stasiun Grogol, Jakarta Barat yang dikira dibegal ternyata korban serangan dari kelompok remaja lain.

Nahas, nyawa korban tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani rawat jalan.

Kanit Reskrim Polsek Grogol Petamburan, AKP Alexander Tengbunan mengungkapkan, setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama satu minggu, korban sebenarnya sempat diizinkan pulang untuk rawat jalan oleh tim medis.

"Satu minggu dia dirawat di rumah sakit, diizinkan berobat jalan oleh dokter. Kemudian satu minggu kemudian kondisinya drop," ujar Alexander saat dikonfirmasi, Kamis (18/6/2026).

Korban pun kembali dilarikan ke rumah sakit dan sempat dirawat lagi selama sepekan. 

Namun takdir berkata lain, dokter menyatakan korban meninggal dunia 20 hari setelah kejadian.

"Peristiwa pemcacokan itu kan terjadi pada 7 Mei. Korban meninggal 27 Mei," kata Alexander.

Dalam kasus penganiayaan berujung hilang nyawa ini, jajaran Reskrim Polsek Grogol Petamburan akhirnya berhasil membekuk dua orang pelaku pada Senin (15/6/2026).

Kedua pelaku yang diamankan diketahui masih di bawah umur, yakni berinisial KK alias Dafi (17) dan R alias Restu (17).

"Statusnya walaupun 17 tahun, dia putus sekolah. Dua-duanya," jelas Alexander.

Dalam melancarkan aksinya, kedua remaja ini berbagi peran. KK bertindak sebagai eksekutor yang membacok korban, sementara Restu berperan sebagai joki motor yang membonceng KK. 

Dari tangan para pelaku, polisi turut menyita sajam yang digunakan untuk melukai korban.

Dipicu Saling Ejek di Media Sosial, Korban Jadi Target Acak

Alexander menjelaskan, motif dari aksi penyerangan ini berakar dari dendam antar-sekolah di media sosial. 

Kelompok pelaku dan kelompok sekolah korban kerap saling tantang dan saling ejek, meski secara personal mereka tidak saling kenal.

Pada malam kejadian, kelompok pelaku kebetulan berpapasan dengan korban di jalan. 

Begitu mengetahui korban mengenakan atribut atau berasal dari sekolah musuh, pelaku langsung melakukan penyerangan secara brutal.

"Kebetulan ketemu. Dan ketahuan bahwa dari sekolah musuhnya ini gitu ya. Sekolah yang biasa mereka ejek-ejekan di sosial media ini. Jadi yang ditarget sama dia adalah sekolahnya," kata Alexander.

Saat kejadian, korban sebenarnya sedang dijemput oleh temannya yang berinisial J untuk sekadar nongkrong dan mengobrol di sebuah warung kopi.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan. 

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, ada sekitar lima orang yang teridentifikasi ikut terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

"Kita identifikasi ada lima orang yang turut serta. Sekarang yang kita amankan joki motor R dan eksekutor KK, sisanya masih pengembangan," tegasnya. 

Polisi menduga ada pelaku lain yang ikut memukul korban di jalanan.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan pasal berlapis terkait penganiayaan berat dan pengeroyokan yang menyebabkan kematian.

Namun, mengingat kedua pelaku yang ditangkap masih berstatus di bawah umur, Alexander menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan sesuai dengan sistem peradilan pidana anak yang jauh lebih cepat.

"Khususnya anak kan penegakan hukumnya itu lebih cepat, jadi dalam waktu 14 hari ini berkas sudah harus masuk ke Kejaksaan," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.