Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Turun, Saham Asia Kembali Menguat
Heriani AM June 18, 2026 02:09 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran langsung memberikan dampak terhadap pasar global. 

Investor merespons kabar tersebut dengan optimisme, terlihat dari penurunan harga minyak dunia serta penguatan sejumlah bursa saham Asia pada Kamis (18/6/2026).

Harga minyak mentah global mengalami koreksi setelah risiko konflik yang sebelumnya dikhawatirkan mengganggu pasokan energi mulai mereda.

Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 1,6 persen hingga 1,9 persen ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat menembus level 81 dolar AS akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: AS dan Iran Tandatangani Nota Kesepahaman Damai, 14 Poin Meliputi Penghentian Serangan ke Lebanon

Selain pasar energi, sentimen positif juga terasa di pasar saham Asia.

Bursa Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan bergerak menguat karena investor mulai kembali mengambil risiko setelah sebelumnya menahan aktivitas akibat ketidakpastian geopolitik.

Minyak Dunia Turun, Kekhawatiran Mereda Sementara

Harga minyak mentah dunia turun setelah kabar kesepakatan damai antara AS dan Iran diumumkan.

Dilansir Al Jazeera, harga Brent turun sekitar 1,6–1,9 persen dan kembali ke kisaran sekitar 78 dolar AS per barel.

Sebelumnya, harga sempat naik di atas 81 dolar AS karena kekhawatiran konflik akan mengganggu pasokan minyak global.

Penurunan ini terjadi karena pasar menilai risiko gangguan suplai energi mulai berkurang, terutama terkait jalur penting perdagangan minyak seperti Selat Hormuz.

Namun, pergerakan harga yang naik-turun tajam dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih belum sepenuhnya yakin situasi sudah aman.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak setelah Presiden AS, Donald Trump memperingatkan bahwa aksi militer bisa kembali dilakukan jika Iran dianggap melanggar kesepakatan.

Baca juga: 14 Pasal Kesepakatan AS-Iran Resmi Berlaku Hari Ini, Negosiasi Lanjutan 60 Hari Dimulai

Saham Asia Naik, Investor Kembali Berani Ambil Risiko

Di pasar saham, suasana justru berbeda. Bursa di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan kompak menguat.

Indeks Jepang dan Korea Selatan naik lebih dari 1–2 persen, sementara Taiwan juga mencatat kenaikan positif.

Kenaikan ini terjadi karena investor mulai kembali membeli saham setelah sebelumnya memilih “menunggu aman” akibat ketegangan geopolitik.

Saham-saham teknologi dan industri ikut menguat, seiring meningkatnya harapan bahwa jalur perdagangan energi global akan kembali lancar.

Bursa berjangka di AS juga ikut naik, menandakan sentimen positif ini tidak hanya terjadi di Asia.

Selat Hormuz Jadi Titik Penting yang Masih Diperdebatkan

Salah satu alasan pasar bereaksi kuat adalah harapan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan minyak dunia.

Namun, meski ada laporan kesepakatan awal, belum semua detail dijelaskan secara jelas.

Kelompok industri pelayaran BIMCO menyebut situasi masih berisiko karena belum ada kepastian soal keamanan dan aturan pelayaran di wilayah tersebut.

“Risiko tetap tinggi bagi kapal untuk beroperasi,” kata perwakilan BIMCO dalam laporan yang dikutip sebelumnya.
Artinya, meski ada kabar damai, dunia pelayaran masih belum benar-benar merasa aman.

Baca juga: Isi Draf Kesepakatan AS-Iran Terungkap: Gencatan Senjata, Pencabutan Sanksi, hingga Negosiasi Nuklir

Damai yang Masih Rentan Berubah

Kesepakatan ini juga belum final. Banyak hal besar masih dinegosiasikan, termasuk soal program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan keamanan kawasan.

Artinya, apa yang disebut “kesepakatan damai” saat ini masih berupa langkah awal, bukan perjanjian permanen.

Karena itu, pasar melihat kondisi ini lebih sebagai “harapan damai” daripada damai yang benar-benar sudah terjadi.

Pasar Tenang, tapi Belum Sepenuhnya Percaya

Untuk saat ini, investor memilih merespons dengan optimisme. Harga minyak turun, saham naik, dan pasar bergerak lebih tenang.

Namun banyak analis menilai situasi ini masih bisa berubah cepat jika negosiasi kembali tersendat atau ketegangan muncul lagi.

Dengan kata lain, pasar sedang menikmati “napas lega sementara”—bukan kepastian jangka panjang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.