TRIBUNSTYLE.COM - Suasana di lapak daging sapi Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, Jawa Tengah, tampak lengang tak seperti biasanya. Mulai Kamis (18/6/2026), para pedagang di pasar tersebut sepakat untuk mengosongkan lapak mereka dan menggelar aksi mogok jualan selama tiga hari ke depan.
Langkah drastis ini diambil sebagai bentuk protes nyata terhadap meroketnya harga daging sapi, yang kian mencekik modal mereka dan memperpuruk daya beli masyarakat.
Hariyanto, salah satu pedagang di Pasar Rejowinangun, mengungkapkan bahwa harga modal daging sapi di tingkat rumah pemotongan hewan (RPH) saat ini sudah menyentuh angka Rp 115.000 per kilogram. Lonjakan ini terasa sangat berat dan dinilai sudah berlangsung terlalu lama.
“Sejak Lebaran (harga) itu sudah naik,” keluh Hariyanto saat dihubungi pada Kamis (17/6/2026).
Padahal dalam kondisi normal, harga daging sapi di tingkat RPH biasanya bertahan di kisaran Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kilogram.
Baca juga: Heboh Potongan Daging Sapi Kurban di Palembang Sumsel, Terdapat Lafaz Allah, Warga Geger
Bagi para pedagang eceran seperti Hariyanto, tantangan yang dihadapi tidak sekadar angka di nota pembelian. Daging yang mereka beli dari pihak jagal masih menyatu dengan tulang, sedangkan konsumen di pasar umumnya hanya ingin membeli daging murni murni tanpa tulang.
Di sisi lain, menaikkan harga jual ke konsumen bukanlah pilihan yang bijak di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu. Akibatnya, pedagang terjebak dalam lingkaran kerugian demi mempertahankan pelanggan.
"Nggak cucuk dengan modalnya. Merugi terus," ungkapnya dengan nada pasrah.
Gerakan mogok jualan ini rupanya tidak hanya terjadi di Pasar Rejowinangun. Informasi yang dihimpun menunjukkan aksi serupa juga melumpuhkan aktivitas perdagangan daging sapi di Pasar Gotong Royong (Kota Magelang), serta dua pasar besar di wilayah Kabupaten Magelang, yakni Pasar Borobudur dan Pasar Kaliangkrik.
Baca juga: Suami Kabulkan Permintaan Istri Lagi Ngidam, OTW dari Dubai ke AS Demi Jajan Daging Sapi Rp3 Juta
Anggota Asosiasi Pedagang Sapi Kota dan Kabupaten Magelang, Fitria, menjelaskan bahwa akar masalah dari gejolak harga ini bermula dari kenaikan harga sapi timbang hidup di tingkat peternak atau pengepul.
“Kenaikkannya Rp 10.000-15.000 dari waktu puasa (Ramadan) kemarin,” papar Fitria, Kamis (18/6/2026).
Jika mengacu pada regulasi resmi pemerintah melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2022 harga sapi hidup idealnya ditetapkan sebesar Rp 56.000 hingga Rp 58.000 per kilogram. Sementara untuk daging segar, HET paha belakang dipatok Rp 140.000 per kilogram dan paha depan sebesar Rp 130.000 per kilogram.
Fitria mengakui, tren kenaikan harga sapi hidup menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadan adalah hal yang lumrah. Namun, situasi kali ini tergolong tidak wajar karena harga terus merangkak naik dan bertahan hingga berbulan-bulan setelah hari raya usai. Masalahnya kian pelik karena rantai pasokan pun ikut terganggu.
“Barangnya (daging sapi) juga nggak ada, susah untuk kami cari. Kami tidak bisa menaikkan harga karena daya beli masyarakat sedang turun-turunnya,” pungkas Fitria.
Kini, dengan kosongnya lapak-lapak daging di Magelang, masyarakat dan para pelaku usaha kuliner berbasis daging sapi terpaksa harus mencari alternatif lain selama tiga hari ke depan, sembari berharap ada solusi konkret dari pihak terkait untuk menstabilkan harga dan pasokan.