TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter, mulai dirasakan masyarakat Banyumas dari berbagai kalangan.
Tidak hanya pengguna kendaraan pribadi, para pengemudi ojek online (ojol) juga mengaku semakin terjepit karena biaya operasional meningkat sementara pendapatan tetap.
Salah satunya dialami Kamali, seorang pengemudi ojek online di Purwokerto.
Demi menutup kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan dua anaknya, ia kini harus memperpanjang jam kerja hingga larut malam.
"Kalau sekarang saya online sampai malam, kadang sampai jam 1 dini hari.
Mau tidak mau harus menambah waktu online karena kebutuhan terus jalan," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (18/6/2026).
Kamali mengaku tetap menggunakan Pertamax karena antrean Pertalite di sejumlah SPBU dinilai terlalu panjang dan bisa menghabiskan waktu hingga satu jam.
"Kalau Pertalite antreannya panjang banget. Bisa sampai satu jam.
Akhirnya saya tetap pakai Pertamax," katanya.
Dalam sehari, kebutuhan BBM untuk bekerja mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu.
Di sisi lain, jumlah order yang diterima tidak menentu.
Ia menuturkan, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa waktu lalu.
Bahkan sejak pagi hingga siang hari, dirinya baru memperoleh satu order dengan penghasilan Rp10 ribu.
"Kalau lagi sepi, dari pagi cuma dapat satu order, cuma Rp10 ribu.
Baca juga: Demo Meletus di Tanah Leluhur Prabowo, Mahasiswa Ancam Aksi Besar
Padahal biasanya kalau lumayan ramai bisa dapat sekitar tujuh order dalam sehari," ujarnya.
Pendapatan bersih yang dibawa pulang pun tidak besar.
Kamali memperkirakan penghasilannya kini rata-rata sekitar Rp50 ribu per hari.
Untuk bertahan hidup, ia dan istrinya mengandalkan sumber pendapatan lain.
Sang istri berjualan nasi rames, sementara dirinya sesekali menerima jasa membantu pengurusan pembuatan SIM apabila ada yang membutuhkan.
"Kalau istri jualan rames.
Saya juga kadang ada jasa bantu bikin SIM kalau ada yang minta tolong. Itu cuma tambahan saja," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.
Kamali mengaku setidaknya membutuhkan sekitar Rp100 ribu per hari untuk kebutuhan makan keluarga.
Beban semakin berat karena dua anaknya masih menempuh pendidikan.
Anak pertama sedang kuliah di Poltekkes, sementara anak keduanya akan masuk SMP Negeri 2 Purwokerto.
"Anak saya masih sekolah dua. Yang satu masuk Poltekkes, yang satu lagi mau masuk SMP 2 Purwokerto.
Kebutuhan banyak. Saya sama istri ya menerima apa adanya dan berusaha semampunya," ujarnya.
Tak hanya pengemudi ojol, kenaikan harga Pertamax juga dirasakan pengguna kendaraan pribadi.
Sementara itu Wawan, seorang karyawan swasta di Purwokerto, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar setiap kali mengunjungi anaknya di Yogyakarta.
Sebelum kenaikan harga BBM, kebutuhan bahan bakar untuk perjalanan pulang-pergi Purwokerto-Yogyakarta berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.
Kini, anggaran tersebut meningkat menjadi sekitar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
"Nominal kenaikannya Rp4.250 per liter.
Kalau saya balik ke Pertalite rasanya eman-eman. Saya sebulan sekali ke Jogja mengunjungi anak saya. Sekarang harus menambah sekitar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu.
Padahal pendapatan ya segitu-segitu saja," ujar Wawan.
Menurutnya, kenaikan harga BBM memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran bulanan keluarga karena biaya transportasi menjadi lebih besar, sementara pendapatan tidak mengalami peningkatan.
Kondisi serupa juga dirasakan banyak masyarakat yang mengandalkan kendaraan pribadi maupun kendaraan operasional untuk bekerja.
Kenaikan harga BBM membuat mereka harus memutar otak agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi di tengah meningkatnya biaya hidup. (jti)