Menelusuri Jejak Kerajaan Sunda Melalui Pameran Susur Alur Kultur di Museum Sri Baduga
Kemal Setia Permana June 18, 2026 06:46 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Deretan payung kuning menghiasi tangga menuju ruang pamer Museum Sri Baduga. Aroma melati pun tercium ketika memasuki area pameran.

Di dalamnya, pengunjung diajak menyusuri lorong sejarah yang membawa mereka kembali ke masa ketika kerajaan-kerajaan Sunda berdiri dan membentuk peradaban di Tatar Pasundan.

Melalui pameran temporer bertajuk “Susur Alur Kultur: Rekam Jejak Kerajaan di Jawa Barat dalam Panggung Sejarah Sunda”, Museum Sri Baduga menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang tidak hanya mengandalkan teks dan koleksi benda, tetapi juga dikemas secara interaktif dan edukatif.

Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat, Ary Heryanto, mengatakan pameran tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan museum sebagai ruang pembelajaran yang hidup bagi masyarakat.

“Jadi pameran ini tentu merupakan komitmen kita untuk terus menjadikan museum sebagai sumber belajar. Museum itu bukan hanya tempat memamerkan benda koleksi masa lalu saja, namun juga sebagai ruang edukasi yang aktif dan interaktif,” ujar Ary saat ditemui di Museum Sri Baduga, Jalan BKR No 185, Kamis (18/6/2026).

Komitmen itu diwujudkan tidak hanya melalui pameran, tetapi juga berbagai kegiatan pendukung. Salah satunya workshop penulisan aksara Sunda yang digelar bersamaan dengan pameran. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak mengenal bagaimana masyarakat Sunda pada masa kerajaan memperoleh pengetahuan, proses belajar yang mereka jalani, hingga cara ilmu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga:  Workshop Aksara Sunda di Museum Sri Baduga, Kenalkan Warisan Intelektual Leluhur

“Termasuk hari ini juga kita menyelenggarakan workshop tentang penulisan aksara Sunda, dan juga ingin mengenalkan seperti apa masyarakat Sunda zaman dahulu pada zaman kerajaan memperoleh ilmu pengetahuan dan di mana mereka belajar,” kata Ary.

Memasuki ruang pamer, pengunjung akan menemukan alur perjalanan sejarah yang telah dirancang secara kronologis. 

Setiap sudut membawa cerita berbeda mengenai perkembangan peradaban di Jawa Barat.

Ary menjelaskan, perjalanan dimulai dari masa prasejarah yang menjadi pondasi awal kehidupan manusia di wilayah Jawa Barat. 

Pada bagian ini, pengunjung dapat mengenal temuan-temuan arkeologis penting, termasuk jejak manusia purba yang ditemukan di kawasan Gua Pawon.

Dari masa prasejarah, pengunjung kemudian diajak memasuki era kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di tanah Sunda. 

Mulai dari Tarumanegara sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara, kemudian berlanjut ke Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh, hingga Kerajaan Pajajaran yang menjadi simbol kejayaan peradaban Sunda.

“Ruang pamer temporer itu mengenalkan sejarah Sunda dari mulai prasejarah. Kemudian juga kita ada ditemukan tulang-tulang di Gua Pawon dan lain sebagainya. Kemudian masuk ke babak sejarah Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh, dan juga Kerajaan Pajajaran,” jelasnya.

Baca juga: Kementerian Kebudayaan Bakal Revitalisasi Museum Sri Baduga Agar Setara Standard Nasional

Tak hanya menampilkan sejarah politik kerajaan, pameran juga menunjukkan bagaimana wilayah Sunda berinteraksi dengan dunia luar. 

Salah satu buktinya terlihat melalui koleksi keramik yang memperlihatkan pengaruh perdagangan dan hubungan budaya dengan Tiongkok pada masa lalu.

“Kemudian juga masuknya pengaruh dari negara-negara lain, adanya pengaruh dari Cina. Makanya ada juga dipamerkan keramik-keramik Cina pada saat Cina masuk ke Cirebon,” katanya.

Menurut Ary, alur pameran memang dirancang agar pengunjung dapat memahami perjalanan sejarah secara utuh. Pengunjung diajak bergerak dari satu periode ke periode berikutnya sehingga memperoleh gambaran perkembangan peradaban Sunda dari masa ke masa.

“Jadi ada alurnya, begitu masuk, pengunjung akan melihat babak prasejarah terlebih dahulu. Setelah itu Tarumanegara, lalu berlanjut ke Sunda dan Galuh, kemudian Sumedang sebagai kerajaan yang menerima titipan Mahkota Binokasih, dan terakhir Cirebon yang sampai saat ini masih memiliki keraton yang eksis,” tuturnya.

Konsep tersebut membuat pengunjung seolah melakukan perjalanan melintasi waktu dan mengelilingi kerajaan-kerajaan yang pernah mewarnai sejarah Jawa Barat.

“Jadi kita ingin mengenalkan kerajaan-kerajaan dulu yang ada di Jawa Barat itu apa saja, berikut nama-nama rajanya juga ada. Raja-raja Galuh, raja-raja Sunda, semuanya dikenalkan kepada pengunjung,” ujar Ary.

Di dalam ruang pamer, suasana masa lalu juga dihadirkan melalui berbagai elemen visual. 

Replika peralatan rumah tangga tradisional, hasil pertanian, anyaman bambu, hingga perlengkapan kehidupan masyarakat Sunda tempo dulu ditata menyerupai lingkungan yang pernah ada pada masa kerajaan. 

Pengunjung terlihat antusias mengabadikan setiap sudut pameran, sementara sebagian lainnya membaca panel informasi yang menjelaskan perjalanan panjang sejarah Sunda.

Pameran Susur Alur Kultur sendiri mulai berlangsung pada Rabu (17/6/2026) dan untuk sementara direncanakan berlangsung sepanjang tahun. 

Baca juga: RS Unpad Bantah Telantarkan Anggota DPRD Sumedang Selama 12 Jam, Dirut akan Evaluasi 

Namun, keberlangsungannya masih akan menyesuaikan rencana rehabilitasi Museum Sri Baduga yang akan dilakukan dalam waktu mendatang.

Ary mengungkapkan Museum Sri Baduga menjadi salah satu museum yang akan mendapatkan perhatian dalam program penataan museum yang digagas pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan.

“Pameran ini sebenarnya dibuka dan rencananya sepanjang tahun. Tapi kita juga ada rencana rehabilitasi museum. Jadi nanti akan disesuaikan lagi ketika proses rehabilitasi dimulai,” katanya.

Ia menjelaskan, program rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk meningkatkan kualitas museum, situs, dan cagar budaya di Indonesia.

“Presiden melalui Kementerian Kebudayaan memiliki program untuk menata museum-museum di Indonesia. Banyak museum, situs, dan cagar budaya yang akan ditata, termasuk museum-museum di Jawa Barat,” ujarnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.