Oleh: Sudirman Numba
Guru Besar Fakultas Pertanian UMI dan Kepala UPT Science Techno Park UMI
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Keluarga Besar Universitas Muslim Indonesia (UMI) menyelenggarakan kegiatan jalan sehat yang penuh semangat kebersamaan dan kekeluargaan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum mempererat silaturahmi antarsivitas akademika, tetapi juga merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad UMI ke-72.
Dengan mengusung semangat hijrah menuju perubahan yang lebih baik, kegiatan ini mencerminkan komitmen UMI sebagai kampus berdampak yang terus bergerak maju dalam membangun kesehatan, persatuan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi momentum spiritual untuk melakukan refleksi dan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah mengandung pesan mendalam tentang transformasi, perjuangan, inovasi, dan pembangunan peradaban.
Hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah cara berpikir, cara bekerja, dan cara memberi manfaat bagi umat manusia.
Semangat hijrah tersebut relevan dengan dunia pendidikan tinggi dan penelitian saat ini, khususnya dalam transformasi budaya riset di perguruan tinggi.
Selama ini, orientasi penelitian sering kali berhenti pada publikasi ilmiah semata. Publikasi memang penting sebagai indikator akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi pengingat penting bahwa dunia riset juga perlu berhijrah dari budaya “publikasi” menuju budaya “hilirisasi riset”.
Hijrah ini bukan berarti meninggalkan publikasi ilmiah, melainkan melengkapinya dengan implementasi hasil penelitian agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.
Hilirisasi riset merupakan proses mengubah hasil penelitian menjadi inovasi yang aplikatif, produktif, bernilai ekonomi, dan mampu menyelesaikan persoalan nyata di lapangan.
Dalam sektor pertanian misalnya, penelitian tidak cukup hanya menghasilkan jurnal tentang teknologi budidaya, pupuk hayati, kultur jaringan, atau smart farming, tetapi harus mampu diterapkan untuk meningkatkan produktivitas petani, kesejahteraan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Nilai hijrah mengajarkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dalam konteks akademik, hilirisasi riset menuntut dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi.
Perguruan tinggi harus membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan laboratorium dengan dunia industri, petani, UMKM, dan masyarakat luas.
Science Techno Park, inkubator bisnis, kemitraan industri, serta pengabdian berbasis riset menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut.
Selain itu, hilirisasi riset juga sejalan dengan semangat Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu menghadirkan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia.
Ilmu dalam perspektif Islam tidak berhenti pada teori, tetapi harus melahirkan kemaslahatan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat tersebut menegaskan bahwa kerja dan karya nyata memiliki nilai penting dalam kehidupan.
Oleh karena itu, hasil penelitian seyogianya tidak hanya tersimpan di perpustakaan atau repository digital, tetapi mampu menjadi teknologi tepat guna, produk inovasi, model pemberdayaan masyarakat, maupun kebijakan strategis yang memberi dampak luas.
Hijrah dari publikasi ke hilirisasi juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan perguruan tinggi berdampak (impactful university).
Kampus tidak lagi hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga pusat inovasi, kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, dan penggerak pembangunan berkelanjutan.
Hal ini selaras dengan arah pembangunan nasional, Revolusi Industri 5.0, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Pada akhirnya, Tahun Baru Hijriah 1448 H mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari niat, visi, dan keberanian untuk bergerak maju.
Sudah saatnya dunia akademik melakukan hijrah intelektual: dari sekadar mengejar jumlah publikasi menuju riset yang berdampak, inovatif, dan memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa.
Semoga semangat hijrah di tahun baru ini menjadi inspirasi bagi seluruh akademisi, peneliti, mahasiswa, dan institusi pendidikan untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghadirkan ilmu yang membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.(*)