Baca juga: Antrean BBM Solar Sebabkan Kemacetan Panjang di Lubuklinggau, Truk Kini Wajib Isi Solar Malam Hari
SRIPOKU.COM, MUSI RAWAS – Gelombang kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tampaknya kian meluas di wilayah Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Jika sebelumnya para pengendara sepeda motor mengeluhkan sulitnya mendapatkan Pertalite, kini giliran para sopir truk angkutan yang menjerit lantaran sulitnya memperoleh pasokan Solar bersubsidi.
Kondisi di lapangan kian memprihatinkan. Demi bisa mengisi tangki kendaraan agar tetap dapat bekerja, para sopir truk ini terpaksa harus mengorbankan waktu produktif mereka untuk mengantre berjam-jam.
Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang rela menginap dari pagi ketemu pagi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Berdasarkan pantauan langsung reporter Sripoku.com di SPBU Desa Mataram, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Kamis (18/6/2026), antrean kendaraan roda enam jenis truk tampak mengular panjang. Barisan truk tersebut mengular hingga lebih dari 1 kilometer memakan bahu jalan, yang tak jarang memicu kemacetan arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Mengular Lebih dari 1 KM
Rusdi, salah seorang sopir truk ekspedisi lokal asal Desa Sukorejo, Kecamatan STL Ulu Terawas, mengaku berburu Solar di wilayah Musi Rawas saat ini sudah seperti mencari barang langka.
"Sekarang susah sekali cari Solar, walaupun kita datangi langsung ke SPBU resmi," keluh Rusdi dengan nada masygul saat diwawancarai Sripoku.com di tengah antrean kendaraan, Kamis (18/6/2026).
Rusdi membeberkan, dirinya sudah masuk ke dalam jalur antrean sejak pagi hari, namun hingga menjelang sore hari kendaraannya belum juga menyentuh nosel pengisian akibat saking panjangnya barisan kendaraan di depannya.
"Saya sudah antre dari pagi tadi, dan sampai sekarang belum juga dapat giliran. Antreannya luar biasa panjang dan bergerak sangat lambat," ungkapnya.
Ikut Antrean dan Menginap di Bahu Jalan
Keluhan serupa dilontarkan oleh Herman, sopir truk pasir asal Desa F Trikoyo, Kecamatan Tugumulyo.
Menurut Herman, kelangkaan ini diperparah dengan hilangnya pasokan Solar di tingkat pedagang eceran, sehingga seluruh kendaraan komersial menumpuk di satu titik SPBU.
Herman menyebut fenomena mengantre dari "pagi ke pagi" alias terpaksa tidur di dalam kabin truk di pinggir jalan sudah menjadi makanan sehari-hari para sopir dalam beberapa minggu terakhir.
"Sama saja mas, di wilayah tempat tinggal saya juga susah. Penjual Solar eceran sekarang sudah jarang ada stok. Mau tidak mau harus ke SPBU, dan itu artinya harus siap mengorbankan waktu. Kami sering antre dari pagi sampai pagi lagi alias menginap, demi bisa mendapatkan nomor antrean paling awal besok harinya saat Solar masuk," kata Herman memaparkan realita pahit di lapangan.
Sopir Desak Pertamina Tambah Kuota
Kondisi pelik ini membuat para sopir angkutan barang di Bumi Lan Serasan Sekentenan mendesak pihak PT Pertamina (Persero) maupun pemerintah daerah setempat untuk segera mengambil tindakan nyata.
Mereka meminta adanya penambahan kuota pasokan harian Solar bersubsidi khusus untuk SPBU di jalur lintas angkutan.
"Harapan kami sangat sederhana, tolong Solar ini dipermudah dan diperbanyak kuotanya di setiap SPBU. Kalau solar terus-menerus sulit didapatkan begini, tentu pendapatan harian kami menurun drastis. Banyak keluarga yang kehidupan ekonominya bergantung penuh dari aktivitas menyetir truk ini," pungkas Herman.
Baca juga: Antrean Solar Picu Kemacetan Parah, DPRD Ogan Ilir Desak Pemkab Panggil Pengelola SPBU