TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Kebijakan tersebut langsung direspons positif oleh pasar keuangan dengan menguatnya nilai tukar rupiah, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level 6.073 pada perdagangan Kamis (18/6/2026).
Namun, setelah Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen, tekanan di pasar saham mulai berkurang sehingga IHSG mampu memangkas sebagian pelemahannya.
“Setelah BI menaikkan bunga acuan menjadi 5,75 persen atau naik 25 basis poin, IHSG sempat mendapatkan angin segar karena ditopang oleh penguatan mata uang rupiah,” kata Gunawan.
Meski berhasil memangkas kerugian, IHSG tetap ditutup melemah 0,78 persen di level 6.172,34.
Sementara itu, rupiah berhasil menguat ke level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat terpuruk hingga Rp17.850 per dolar AS.
Menurut Gunawan, penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari kebijakan moneter terbaru Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), sehingga mampu meredam tekanan terhadap mata uang domestik.
“Rupiah tampak berhasil melawan tekanan dolar AS setelah mendapatkan amunisi dari kebijakan moneter The Fed,” ujarnya.
Namun demikian, penguatan rupiah tidak otomatis mampu membawa IHSG kembali ke zona hijau.
Pelaku pasar saham, kata Gunawan, masih menahan diri menunggu hasil review MSCI yang diumumkan pada malam hari waktu Indonesia atau pagi sesi perdagangan Eropa.
“Hasil review MSCI dengan skenario terburuk masih menghantui pelaku pasar. Sehingga pasar saham di tanah air masih menyisakan kekhawatiran akan skenario terburuk dari hasil review tersebut,” katanya.
Padahal, pasar keuangan pada perdagangan hari ini juga mendapatkan sentimen positif dari ditandatanganinya perjanjian damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Gunawan menilai kenaikan BI Rate memang efektif meredam tekanan rupiah dalam jangka pendek. Namun, tantangan yang dihadapi rupiah ke depan masih cukup besar karena sumber tekanan utamanya berasal dari faktor eksternal.
“Langkah BI dalam meredam pelemahan rupiah memang efektif dalam jangka pendek. Tetapi tekanan terhadap rupiah tidak berhenti di situ karena pemicu dominannya berasal dari faktor eksternal seperti kebijakan moneter bank sentral negara lain, tensi geopolitik, hingga hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini banyak negara tengah berlomba menarik likuiditas global melalui kebijakan suku bunga yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat persaingan memperebutkan arus modal semakin ketat.
Ia mencontohkan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sementara The Fed masih mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
“Artinya masing-masing negara sedang berlomba menarik likuiditas ke negaranya. Imbal hasil surat utang naik dan bank sentral memberikan bunga lebih tinggi untuk menarik dana masuk. Dalam situasi seperti ini, rupiah akan tetap sangat dinamis dan masih terbuka untuk melemah,” katanya.
Selain faktor eksternal, Gunawan juga menyoroti kondisi fiskal dalam negeri yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Ia menilai penguatan rupiah tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan moneter Bank Indonesia.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar membutuhkan dukungan kebijakan fiskal pemerintah yang terukur dan dijalankan secara hati-hati.
“Dalam pandangan saya, jika penguatan rupiah hanya mengandalkan kebijakan moneter tanpa dibarengi kebijakan fiskal yang prudent, maka penguatan rupiah tidak akan bertahan lama. Amunisi moneter juga terbatas. Jangan sampai kita kehabisan amunisi dalam meredam gejolak ekonomi dan terlambat merespons potensi krisis,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski kesepakatan damai Iran dan Amerika Serikat menjadi kabar baik bagi pasar global, risiko geopolitik masih belum sepenuhnya hilang.
Selain itu, hasil penilaian sejumlah lembaga pemeringkat internasional juga berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap Indonesia.
“Untuk sementara kesepakatan damai memang menjadi kabar baik, tetapi ketidakpastian masih ada. Karena itu pasar masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan global maupun domestik dalam beberapa waktu ke depan,” katanya.
Sementara itu, harga emas dunia kembali mengalami pelemahan ke kisaran 4.265 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,46 juta per gram.
Menurut Gunawan, fokus pasar kini kembali tertuju pada peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Meski demikian, aksi akumulasi emas yang dilakukan sejumlah bank sentral dunia masih membuka peluang kenaikan harga logam mulia tersebut dalam waktu dekat.
“Fokus pasar kembali tertuju pada peluang kenaikan bunga acuan The Fed. Walaupun di sisi lain kabar bank sentral yang kembali mengakumulasi emas menciptakan harapan kenaikan harga emas dalam waktu dekat,” pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)