Mencicipi Cokelat Premium di Rumah Cokelat Gunungkidul, Hasil Olahan Tangan Warga Desa Bunder
Joko Widiyarso June 18, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dari kebun-kebun warga yang dirawat dengan tangan telaten, biji-biji kakao asal Gunungkidul kini tak lagi sekadar dijual mentah.

Di Rumah Cokelat Kalurahan Bunder, komoditas lokal ini menemukan jalan ceritanya sendiri—melewati proses fermentasi, digiling lembut, hingga disulap menjadi batangan cokelat premium dan minuman hangat yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghidupi asa perekonomian warga desa.

Berlokasi di Kapanewon Patuk, kawasan ini perlahan bertransformasi menjadi pusat kreativitas hilirisasi pertanian yang memadukan wisata, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Kehadiran Rumah Cokelat tidak terlepas dari rentetan sejarah pemberdayaan yang panjang dan berliku. Jauh sebelum pusat pengolahan modern ini berdiri, benih komoditas kakao sebenarnya sudah mulai disemai di tanah Bunder sejak tahun 1995.

Gerakan awal ini diinisiasi melalui sosialisasi masif dari Dinas Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama PT Pagilaran. Pola iklim, karakteristik tanah, dan lingkungan kawasan Bunder rupanya sangat adaptif untuk pertumbuhan tanaman kakao, memicu antusiasme masyarakat untuk beralih menjadi pekebun.

CEK KUALITAS - Pengelola memeriksa kualitas biji kakao hasil fermentasi sebelum masuk ke tahap penggilingan di ruang produksi Rumah Cokelat Bunder, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
CEK KUALITAS - Pengelola memeriksa kualitas biji kakao hasil fermentasi sebelum masuk ke tahap penggilingan di ruang produksi Rumah Cokelat Bunder, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Tribun Jogja/IST)

Pada masa-masa awal, rantai niaga petani masih sangat bergantung pada pihak korporasi. Setelah menghasilkan buah, para petani mengumpulkan hasil panen melalui kelompok tani untuk dijual langsung secara mentah ke PT Pagilaran.

Seiring berjalannya waktu dan ketika petani dinilai mulai mandiri, jalinan kemitraan tersebut dilepas agar warga bisa memasarkan hasil buminya sendiri. Kendati demikian, intervensi pemerintah tidak berhenti. Pendampingan berkala dari Dinas Perindustrian serta Dinas Perkebunan terus mengalir untuk meremajakan tanaman, melakukan pemangkasan, hingga penataan ulang kebun.

Namun, tantangan klasik pertanian tetap membayangi. Bertahun-tahun lamanya, kakao hanya menjadi komoditas mentah yang bernilai jual rendah. Petani terbiasa menjemur biji kakao secara manual di pelataran rumah.

Proses pengeringan tradisional ini sering kali menipu; kering menurut takaran kasat mata petani, belum tentu memenuhi standar kekeringan industri pengolahan. Akibatnya, daya tawar petani lemah dan harga jual di pasar merosot tajam.

Titik balik hilirisasi modern baru benar-benar bermula pada kurun waktu tahun 2023 hingga 2024. Momentum itu hadir saat Kementerian Desa menyalurkan bantuan seperangkat alat pengolahan pascapanen kepada Kelompok Tani Sari Mulyo.

Sadar bahwa aset ini memiliki potensi besar untuk mengubah nasib desa, musyawarah besar kemudian digelar di balai kalurahan. Rembug desa tersebut mempertemukan para petani kakao, pengurus Kelompok Tani Sari Mulyo, Forum Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (FKPM), lembaga-lembaga kalurahan, hingga jajaran pengurus Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal).

Melalui kesepakatan mufakat, demi meluaskan asas manfaat agar tidak mandek di satu kelompok saja, pengelolaan alat-alat hibah tersebut diserahkan kepada Pemerintah Kalurahan Bunder untuk dioperasikan di bawah payung BUMKal Bunder. 

Mengingat BUMKal pada dasarnya mengemban fungsi utama sebagai pengelola aset-aset strategis milik desa, kolaborasi ini menjadi legal dan terarah.

Langkah taktis ini diperkuat dengan disandangnya predikat Desa Preneur oleh Kalurahan Bunder. 

Bermodalkan status tersebut, pihak kalurahan menyusun perencanaan matang dan mengajukan proposal permohonan dukungan anggaran ke Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Usaha ini membuahkan hasil manis lewat kucuran Dana Istimewa (Danais) melalui Paniradya Kaistimewan DIY yang digelontorkan dalam dua tahap: tahap pertama sebesar Rp400 juta dan tahap kedua mencapai Rp1 miliar. Dari dana investasi sosial inilah, Rumah Cokelat Gunungkidul di Bunder resmi didirikan sebagai episentrum baru perekonomian warga.

Bukan sekadar bantuan cuma-cuma

Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY, Kurniawan, S.Sos., SE.Akt., M.Ec.Dev., menegaskan bahwa dukungan finansial tersebut didasarkan pada pertimbangan potensi riil yang selektif, bukan sekadar bantuan cuma-cuma.

"Jadi kami itu tentu juga harus sangat selektif ya, apa yang kemudian bisa kami dukung. Nah, yang pertama tentu faktornya Kalurahan Bunder ini, khususnya kawasan Bunder, punya potensi yang luar biasa. Jadi, mereka punya potensi berkaitan dengan kakao. Selama ini kami melihat mereka hanya bertani, kemudian menghasilkan biji kakao yang langsung dijual. Dan itu harganya tentu sangat murah. Kalau harga jualnya saja sudah sangat murah, tentu kita bisa membayangkan hasilnya buat para petani dan warga Bunder tentu tidak seberapa. Jadi effort, tenaga, upaya yang dikeluarkan, dan waktu yang digunakan, itu kemudian kami melihat tidak sebanding dengan hasil yang mereka jual karena hanya menjual biji kakao. Sehingga kami kemudian melihat bahwa mestinya bisa memberikan nilai tambah lebih dari sekadar menjual biji kakao. Tapi bagaimana kemudian biji kakao itu diolah sehingga punya nilai tambah. Kalau punya nilai tambah, tentu nanti hasilnya dan harga jualnya juga tentu lebih besar. Nah, itulah yang kemudian kami pikirkan dan itu menjadi latar belakang bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka. Tidak hanya berkaitan dengan produksi, tapi nilai tambahnya itu yang kemudian kami dukung. Kalurahan Bunder ini mengembangkan rumah produksi cokelat. Sehingga kalau nilai tambahnya sudah bagus, mereka tidak hanya sekadar menjual biji kakao, tapi bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dan lebih menyejahterakan, karena pendapatannya tentu jauh lebih besar. Dan inilah yang kemudian, sekali lagi tadi saya bilang tidak asal mendukung, karena memang potensi ke sananya ada dan sangat besar sehingga kami lakukan itu. Alhamdulillah sampai sekarang, seperti tadi yang produknya juga sudah dilihat di video, juga sudah sama-sama kita lihat ya, Sahabat Istimewa. Bahwa ternyata dengan memproduksi tidak hanya berhenti di biji kakao, tapi mengolah sampai hasil olahan cokelat yang bisa bermacam-macam variannya, itu ternyata memberikan nilai tambah yang lebih. Nah, itulah yang kemudian menjadi ketertarikan kami untuk men-support sampai ke sana, kira-kira seperti itu," terangnya.

Perjalanan fisik membangun Rumah Cokelat tidak langsung berjalan mulus. Di awal perkembangannya, pengelola dihadapkan pada kendala infrastruktur dan fasilitas penunjang. Bangunan awal yang didirikan dari Danais tahap pertama hanya berbentuk sebuah rumah limasan tradisional yang posisinya agak menjorok masuk ke dalam. Lokasi ini tersembunyi di belakang bangunan puskesmas pembantu (pustu), sehingga sama sekali tidak terlihat dari perlintasan jalan raya. Dampaknya, pengelola kesulitan untuk menarik minat pengunjung acak maupun menyambut rombongan tamu dalam jumlah besar karena keterbatasan ruang.

Mengidentifikasi kendala tersebut, BUMKal bersama pemerintah kalurahan kembali melayangkan permohonan perluasan fasilitas kepada Paniradya Kaistimewan DIY. Lewat kucuran Danais tahap kedua senilai Rp1 miliar, Rumah Cokelat Bunder mengalami transformasi wajah secara masif dan bersolek total menuju kawasan eduwisata modern.

Memasuki tahun 2025, penataan kawasan penunjang (rest area) di tepi Jalan Nasional—jalur utama strategis yang menghubungkan Kota Yogyakarta menuju Wonosari—telah rampung dikerjakan. Fasilitas publik kini berdiri megah dan fungsional, mulai dari area lahan parkir luas yang sanggup menampung hingga 20 unit kendaraan roda empat, landmark estetik sebagai penanda ikonik dari jalan raya, pujasera (food court), mushola yang nyaman, toilet tambahan yang bersih, hingga bangunan joglo atau kampung yang dikhususkan sebagai ruang pertemuan dan lokakarya.

Aset infrastruktur ini segera merubah atmosfer Kalurahan Bunder. Pelataran dan ruang pertemuan Rumah Cokelat kini aktif bertransformasi menjadi ruang publik dan pusat interaksi komunitas. Berbagai agenda sosial rutin digelar di sana, mulai dari kegiatan olahraga warga, pementasan seni tradisional yang sukses menyedot perhatian penonton lokal serta pengguna jalan yang melintas, hingga menjadi titik kumpul estetis bagi klub-klub mobil klasik.

Ke depan, manajemen Rumah Cokelat mendesain galeri induknya tidak sekadar sebagai toko tunggal, melainkan sebagai wadah inklusif (kolektif) yang merangkul, mengurasi, dan memasarkan seluruh komoditas produk UMKM unggulan lain dari pelosok Kalurahan Bunder.

Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo, S.TP., M.Si., melihat lompatan strategis ini sebagai wujud nyata keberhasilan konsep rest area berbasis narasi lokal.

"Temen-teman di Kalurahan Bunder ini sudah bisa dibilang menjadi contoh nyata, bukti dari sebuah hilirisasi, peningkatan nilai tambah. Tidak hanya komoditas saja yang dijual, tapi sudah diolah menjadi berbagai macam produk yang tentunya memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Cokelat itu penginnya cokelat yang macam-macam variasinya. Ada yang suka dark chocolate, ada yang suka manis, dan sebagainya. Ada yang suka minum cokelatnya. Lha itu tentu kebutuhan dari konsumen itu beragam dan kita harus bisa memanfaatkan serta menyesuaikan dari produk kita ini, produk cokelat ini, dari ekspektasi atau harapan calon konsumen. Terlebih di Kalurahan Bunder itu lokasinya juga strategis. Rumah cokelatnya itu di pinggir jalan, Jalan Nasional ya, jalur ke arah Wonosari. Itu tentu sangat potensial juga kalau bisa menarik wisatawan, gitu. Menjadi semacam rest area, nanti bisa mampir ke situ, bisa istirahat sambil menikmati olahan-olahan cokelatnya yang bervariasi. Tidak hanya menikmati, tapi bisa juga diedukasi, 'Ini lho, dari awal biji, malah dari tanaman, sampai biji, pengolahannya seperti apa, sampai menjadi berbagai produk.' Itu tentu sebenarnya menjadi bagian yang bisa dijual. Karena itu sekarang kan zamannya konsumen itu tidak hanya membeli berdasarkan pengalaman rasanya ya, tapi cerita di baliknya itu juga bisa dijual menjadi keunikan tersendiri yang dicari oleh masyarakat," terangnya.

"Nah, tentu di SiBakul kami memiliki platform pembinaan namanya SiBakul Jogja (Sistem Pembinaan Koperasi dan Pelaku Usaha). Itu komitmen mengawal dan mendampingi kalurahan-kalurahan, termasuk Kalurahan Bunder, untuk bisa meningkatkan berbagai aspek, baik itu produk, legalitas, sampai dengan digitalisasi pemasaran, dan sebagainya. Di sistem kami ada enam aspek usaha yang senantiasa kita berikan fasilitasi untuk ditingkatkan. Termasuk di Kalurahan Bunder ini ada skema Desa Preneur. Desa Preneur itu ya sebenarnya semacam inkubasi juga. Inkubasi itu konsepnya kan tidak dibina dalam pelatihan yang sekali kemudian selesai dan ditinggal, itu enggak. Jadi dalam sebuah rangkaian berkelanjutan dan bertahap. Mulai dari pelatihan, pendampingan, sampai fasilitasi akses pemasaran dan sebagainya. Itu merupakan bagian dari inkubasi yang kami fokuskan di wilayah perdesaan atau kalurahan," tambahnya.

Di balik dinding ruang produksi Rumah Cokelat Bunder, rasa manis dan gurih premium diracik lewat kedisiplinan mutu yang ketat. Direktur BUMKal Bunder, Bambang Sugiyanto, mengungkapkan bahwa secara teknis mekanis, tidak ada kendala yang berarti selama proses pengolahan pasta cokelat berlangsung. Kunci utama dan syarat mutlak yang menentukan kualitas hasil akhir terletak sepenuhnya pada tahap pascapanen di hulu: biji kakao yang masuk ke mesin penggilingan wajib merupakan biji yang telah melalui proses fermentasi sempurna.

Apabila buah kakao langsung dibongkar dan dikeringkan secara manual tanpa difermentasi terlebih dahulu, cita rasa cokelat akan menurun dan kehilangan aroma khasnya. Sebaliknya, penggunaan biji fermentasi tidak hanya menjamin kualitas rasa pahit-manis alami yang otentik, tetapi juga membuat daya tahan simpan produk akhir menjadi jauh lebih lama tanpa bahan pengawet buatan.

Di ruang produksi, biji-biji kakao pilihan dikeringkan secara presisi menggunakan parameter modern hingga kadar airnya menyentuh angka ideal 7 persen.

Setelah tingkat kekeringan tercapai, biji dikupas dan digiling menggunakan mesin khusus hingga lumat menjadi pasta cokelat bertekstur sangat halus dan lembut. Pasta cokelat murni inilah yang kemudian memasuki tahap formulasi untuk melahirkan berbagai varian produk unggulan yang disesuaikan dengan beragam ekspektasi lidah konsumen.

Bagi pencinta cokelat murni atau konsumen yang sedang menjalani program diet sehat, Rumah Cokelat memproduksi dark chocolate batangan dan kepingan dengan tiga tingkatan kadar kepekatan yang berbeda: varian rasa ringan-sedang dengan kadar 63 persen, varian menengah 77 persen, hingga varian super pekat dengan kadar 95 persen. 

Karakteristik dark chocolate ini sangat unik, teksturnya kokoh dan padat saat digenggam, namun begitu diletakkan di dalam mulut, ia akan meleleh perlahan melepaskan jejak rasa pahit-manis alami yang pekat sekaligus menstimulasi perasaan rileks serta memperbaiki suasana hati.

Inovasi produk terus dikembangkan melintasi batas cokelat batangan konvensional. BUMKal kini memproduksi camilan lokal bercita rasa modern seperti kue brownies cokelat dan ampyang cokelat—perpaduan manisnya cokelat dengan renyahnya kacang tradisional. Namun, produk yang saat ini memegang predikat sebagai produk terlaris adalah Minco, singkatan dari Minuman Cokelat.

Minco diproduksi dalam bentuk serbuk instan dan dikemas secara rapat menggunakan mesin kedap udara. 

Merawat Kualitas Sejak dari Pohon

Kesempurnaan rasa di hilir mustahil dicapai tanpa manajemen perawatan yang disiplin di sektor hulu. Guna mengontrol kualitas bahan baku secara mandiri, pihak pengelola Rumah Cokelat kini tengah merintis kebun kakao percontohan di sekitar kawasan produksi. Di kebun ini, para petani binaan diajarkan untuk meninggalkan pola bertani tradisional yang spekulatif dan beralih menerapkan teknik budidaya yang presisi.

Salah satu fokus utama perawatan adalah teknik pemangkasan pohon secara berkala. Para petani diwajibkan memotong tunas-tunas air yang tumbuh berlebih pada batang kakao, terutama sesaat setelah musim penghujan usai. Langkah ini krusial agar sirkulasi udara kebun tetap terjaga dan nutrisi berharga di dalam tanah tidak habis tersedot oleh daun-daun tunas air, melainkan sepenuhnya disalurkan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan pembesaran buah kakao.

Disiplin tinggi juga diterapkan pada standar pemetikan. Petani diedukasi untuk hanya memanen buah yang benar-benar matang pohon dengan ciri fisik kulit luar yang tipis namun padat berisi saat diketuk. Untuk menghasilkan biji kering kualitas super (grade A), standarisasinya sangat ketat: 1 kilogram biji kering idealnya hanya terdiri atas 60 hingga 70 butir biji kakao. 

Proses pemetikan buah dipantau secara berkala setiap minggu, diiringi dengan penyuluhan intensif serta fasilitasi obat penanganan hama dari dinas pertanian daerah setempat. Buah yang dipetik langsung dibelah untuk diambil bijinya, dimasukkan ke dalam kotak fermentasi khusus, dan dijemur secara higienis di dalam rumah pengering buatan sebelum siap disetor ke pabrik BUMKal.

Meski ekosistem hulu ini menjanjikan keuntungan ekonomi yang nyata, sebuah tantangan sosial yang besar kini tengah membayangi keberlanjutannya, yaitu krisis regenerasi atau kaderisasi petani muda. Menanam dan merawat kakao bukanlah perkara instan, melainkan sebuah keahlian yang membutuhkan ketekunan bertahun-tahun.

Lurah Kalurahan Bunder, Maryadi, mengungkapkan pandangan mendalam mengenai dinamika sosial di tingkat bawah serta rantai ekonomi produk yang berputar di desa.

"Ya, untuk kaderisasi itu pasti ada kendalanya, anak-anak sekarang itu kan tidak seperti dulu, fokus, petani, pekebun, petani kakao itu fokus. Padahal kita menginginkan harus berlanjut, karena itu sangat menguntungkan terhadap kesejahteraan masyarakat. Sektor produksi itu kan mulai dari setoran dari petani cokelat, fermentasi, kemudian diserahkan ke produksi. Kemudian diproduksi, dititipkan ke swalayan, dijual di lokasi, dan di situ ada pendukungnya, UMKM," terangnya. 

Melompat jauh dari sekadar fungsi sebagai gerai pusat oleh-oleh di pinggir jalan, Rumah Cokelat Bunder kini telah berhasil memantapkan posisinya sebagai destinasi eduwisata terpadu yang diperhitungkan di Kabupaten Gunungkidul. Konsep wisata yang ditawarkan berbasis pada pengalaman langsung (experiential tourism). Pengunjung tidak hanya datang untuk bertransaksi dan mencicipi produk, melainkan diajak masuk ke kebun untuk melihat pohon kakao, belajar memetik buah, mengamati proses fermentasi di rumah pengering, hingga melihat langsung bagaimana mesin-mesin pabrik melebur biji kakao menjadi batangan cokelat premium siap konsumsi.

Daya tarik edukasi ini terbukti mampu mendatangkan kunjungan wisatawan, pelajar, dan akademisi secara signifikan. Keberhasilan Rumah Cokelat sebagai model percontohan diakui secara nasional saat Kementerian Transmigrasi menjalin kerja sama resmi untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat pelatihan penyiapan keterampilan. Para calon transmigran yang hendak diberangkatkan menuju kawasan penempatan di Polewali Mandar, Sulawesi, dikumpulkan dan dikarantina di Rumah Cokelat Bunder untuk dibekali ilmu budidaya kakao secara komprehensif, mulai dari teknik menanam di hulu hingga taktik penciptaan nilai tambah produk di hilir.

Selain itu, atmosfer akademis di kawasan ini terus hidup berkat sinergi riset yang erat bersama berbagai perguruan tinggi ternama. Institusi seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Gadjah Mada (UGM), Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP), Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), hingga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bethesda Yogyakarta secara reguler mengirimkan mahasiswanya ke Rumah Cokelat Bunder, baik untuk keperluan studi banding, praktik kerja lapangan, riset produk, maupun program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Direktur BUMKal Bunder, Bambang Sugiyanto, memaparkan bagaimana infrastruktur baru merubah visi masa depan tempat ini menjadi sebuah kompleks eduwisata yang dicita-citakan.

"Jadi kita itu juga sudah melaksanakan edukasi. Jadi emang kemarin Kementerian Transmigrasi itu mau mengirim transmigrasi ke Sulawesi, di Polewali Mandar. Itu jadi temen-temen calon transmigrasi ini tadi dikumpulkan di tempat kami untuk dibina. Jadi diberi ilmu, termasuk cara menanam itu kan di petani yang deket kita tadi ada. Kemudian untuk meningkatkan nilai jualnya, itu juga kita edukasi masalah cara pembuatan produk-produk seperti ini. Selain itu yang sering itu kan dari Sekolah Tinggi Bethesda, jadi Kesehatan Bethesda itu dia juga sering mengadakan kunjungan ke tempat kami. Jadi emang ke depan itu kami berharap itu menjadi tempat edukasi yang ada di Gunungkidul, terutama dari cokelat, dari penanaman, panen, pascapanen, dan produksi. Jadi emang harapan kami anak-anak atau mahasiswa maupun pelajar itu ke tempat kami sehingga nanti kita ajarkan cara nanam seperti ini, perawatannya seperti ini, panennya seperti ini, pascapanen seperti ini, produknya seperti ini, kan gitu. Jadi kayak tempat wisata gitu lah, jadi eduwisata, itu memang rencana ke depan kami seperti itu," ujarnya.

Guna memastikan ekosistem hilirisasi ini tidak meredup pasca-panen, Dinas Koperasi dan UKM DIY mengunci keberlanjutan Rumah Cokelat lewat pendampingan komprehensif skema Desa Preneur yang berlangsung ketat selama tiga tahun berturut-turut. Rangkaian pembinaan dirancang secara berjenjang, dimulai dari Tahap Penumbuhan pada tahun pertama, Tahap Pengembangan pada tahun kedua, hingga Tahap Maju pada tahun ketiga. Kurikulum pendampingan ini mengupas tuntas enam aspek usaha utama, meliputi perbaikan tata kelola manajemen internal, penyempurnaan legalitas usaha, peningkatan kualitas kemasan agar sesuai dengan ekspektasi pasar premium, hingga strategi perluasan pasar.

Pemda DIY juga tidak melepaskan proyek ini begitu saja setelah masa program usai. Evaluasi lapangan (monitoring dan evaluasi) rutin dilaksanakan, salah satunya melalui kunjungan berkala tim konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) yang dapat diakses sewaktu-waktu oleh pengelola BUMKal untuk memecahkan hambatan usaha.

Dari aspek pemasaran digital, Rumah Cokelat Bunder kini telah diintegrasikan ke dalam ekosistem digital nasional lewat MarketHub SiBakul Jogja. Melalui platform ini, produk Cokelat Gunungkidul Bunder tidak hanya dipromosikan secara luas, tetapi juga disokong oleh fasilitas gratis ongkos kirim (ongkir) yang disubsidi penuh oleh pemerintah daerah, mencakup pengiriman logistik skala lokal, nasional, hingga menembus pasar internasional.

Pada akhirnya, keberhasilan Rumah Cokelat Bunder bukan sekadar diukur dari deretan angka peningkatan omset bulanan atau luasnya area parkir baru. Keberhasilan sejatinya terletak pada bagaimana sebuah kalurahan mampu merajut kolaborasi lintas sektor—memadukan modal Dana Istimewa, bimbingan teknis kedinasan, manajemen BUMKal, serta ketekunan para petani—untuk merawat kedaulatan ekonominya sendiri. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.