Fakta Baru Misteri Tewasnya Yogi Saleh Kabid BKAD Purwakarta : Polisi Fokus Cari Jejak di Plafon
Dedy Qurniawan June 18, 2026 10:03 PM

BANGKAPOS.COM - Kasus kematian misterius seorang pejabat Pemkab Purwakarta bernama Yogi Saleh yang ditemukan bersimbah darah kini telah memasuki babak baru.

Tim penyidik kepolisian saat ini mulai mengalihkan fokus utama mereka pada temuan kerusakan berupa plafon yang jebol di rumah korban.

Adanya kejanggalan di rumah yang berlokasi di Jalan Patinggi III, Kampung Karangsari, Desa Citalang, Kabupaten Purwakarta tersebut mendorong Satreskrim Polres Purwakarta untuk menggelar olah TKP lanjutan.

Guna menguak teka-teki di balik rusaknya plafon tersebut, Polres Purwakarta bahkan sampai menggandeng Tim Inafis Polda Jabar serta Puslabfor Bareskrim Mabes Polri.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, membenarkan bahwa kondisi plafon yang rusak tersebut kini menjadi atensi utama tim gabungan forensik dalam olah TKP ulang.

"Itu (plafon) juga yang menjadi alasan kami meminta bantuan dari Polda dan Puslabfor untuk melakukan penyelidikan ulang terkait plafon yang jebol dan sejumlah temuan lainnya di lokasi," ujar AKP I Made Purwantara saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (16/6/2026) sore.

Polisi Buru Sampel Sidik Jari Orang Asing

Selain meneliti kerusakan pada plafon rumah, tim identifikasi juga bergerak cepat mengambil sejumlah sampel sidik jari di sekitar area tersebut dan ruangan lainnya.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada jejak orang asing yang masuk ke dalam rumah sebelum Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah BKAD Purwakarta itu ditemukan tewas.

"Kami sudah mengambil sampel sidik jari dan masih menunggu hasil pemeriksaan. Nanti akan diketahui apakah ada sidik jari lain di luar keluarga atau korban," kata Made.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa tiga orang saksi dari pihak istri, mertua, dan rekan kerja korban.

Sejumlah barang bukti berupa berkas dokumen hingga telepon genggam milik Yogi Saleh dan istrinya juga turut disita demi kepentingan digital forensik.

Kronologi Penemuan Jasad Korban oleh Sang Istri

Yogi diketahui merupakan pejabat yang bertugas di Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Kepada polisi, istri menceritakan peristiwa tragis yang menimpa suaminya.

Saat itu, istri korban baru saja kembali ke rumah usai menghadiri acara wisuda bersama anak dan mertua.

Ketika tiba di rumah, korban sudah ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar.

Kecurigaan sang istri bermula saat mendapati rumah dalam keadaan gelap gulita dan seluruh akses pintu terkunci dari dalam.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, mengatakan istri korban lantas mencongkel jendela setelah sebelumnya gagal masuk.

"Istri korban sempat menggedor pintu depan dan memeriksa bagian belakang rumah, namun seluruh akses masih terkunci dari dalam," jelas Made, Senin (15/6/2026) sore, dilansir TribunJabar.id.

Made menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, korban terakhir kali berada di rumah seorang diri setelah istrinya bersama anak dan mertuanya pergi menghadiri acara wisuda di Hotel Harper Purwakarta sekitar pukul 16.00 WIB.

Nahas, saat berhasil masuk rumah, ia menemukan sang suami bersimbah darah di kamar.

"Ketika pintu kamar dibuka, korban ditemukan sudah dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah di dalam kamar," kata Made.

Baca juga: Video: Siswa di Purwakarta Ditegur Usai Ledek Guru, Dedi Mulyadi Siapkan Pembinaan Khusus

Hasil Visum Temukan Luka Tusuk dan Jeratan Kompleks

Temuan luka pada tubuh Yogi Saleh kini menjadi fokus utama penyelidikan Tim Satreskrim Polres Purwakarta.

Berdasarkan hasil visum luar sementara, terdapat kombinasi luka tajam dan trauma fisik yang cukup kompleks pada tubuh korban.

"Korban mengalami tiga luka tusuk di leher, satu luka robek di bagian ulu hati, bekas jeratan di leher, serta beberapa memar di bagian lutut dan pergelangan kaki," ujar AKP I Made Purwantara.

Kondisi luka yang bervariasi ini membuat pihak kepolisian belum bisa gegabah menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.

Penyidik masih membuka segala kemungkinan, baik tindakan bunuh diri maupun tindak pidana pembunuhan.

"Ini masih dugaan sementara berdasarkan temuan di lapangan. Kami belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal karena bunuh diri atau tindak pidana," ungkapnya.

Saat ini, Made mengatakan, penyidik masih menunggu hasil autopsi resmi dari tim kedokteran forensik.

Temuan Pisau Dapur, Kabel, hingga Tangga di TKP

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi mengamankan sejumlah barang bukti yang mencurigakan di sekitar area kamar korban.

Benda-benda yang disita petugas di antaranya adalah sebuah tangga besi, dua potong kabel yang sudah dalam keadaan terputus, serta sebuah ikat pinggang.

Selain itu, ada satu senjata tajam yang ikut dibawa oleh petugas dari lokasi kejadian.

"Polisi juga mengamankan sebilah pisau dapur berwarna kuning dengan panjang sekitar 10 hingga 15 centimeter yang ditemukan di lokasi," ungkap Made.

Polisi juga mendalami percakapan terakhir dalam telepon genggam korban serta keterangan para saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Yogi Saleh.

Sementara itu, pantauan Tribunjabar.id di lokasi kejadian menunjukkan rumah korban masih tertutup rapat dan telah dipasangi garis polisi.

Kasus tersebut hingga kini masih dalam penyelidikan intensif oleh Satreskrim Polres Purwakarta.

Keluhan Terakhir Terkait Pekerjaan dan Tuntutan Keadilan Keluarga

Eka, perwakilan keluarga, mengungkapkan bahwa korban sempat mengeluhkan persoalan pekerjaan kepada istrinya sebelum insiden terjadi.

Meski demikian, Eka mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan kerjaan yang sedang dihadapi oleh korban.

"Saya hanya mendengar ada keluhan terkait pekerjaan. Detailnya saya tidak tahu, mungkin istrinya yang lebih mengetahui," ujarnya, di rumah duka Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, Senin (15/6/2026) sore.

Keluarga juga meminta dukungan pemerintah daerah agar kasus kematian pejabat ini mendapat perhatian serius.

Eka berharap aparat kepolisian dapat mengungkap penyebab kematian korban dan menemukan pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti terjadi tindak pidana.

"Kami minta kasus ini diusut tuntas. Kalau memang ada pelaku, harus ditangkap. Jangan sampai kasus ini berhenti tanpa kejelasan," katanya.

Pasalnya, keluarga menemukan banyak luka pada tubuh korban yang menurutnya perlu dijelaskan secara rinci melalui hasil autopsi dan penyelidikan kepolisian.

"Saya melihat ada kejanggalan. Banyak luka di tubuh kakak saya, di leher dan bagian lainnya. Kalau takdir saya terima, tapi kalau memang ada tindakan pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasus ini seterang-terangnya," kata Eka.

Menurutnya, hingga kini keluarga masih menunggu penjelasan resmi terkait hasil autopsi yang telah dilakukan terhadap jenazah korban.

"Kami belum menerima hasil resminya. Kalau memang ada luka-luka seperti yang disampaikan, tentu harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada yang ditutupi," pungkasnya.

Sosok Yogi Saleh: ASN Berprestasi dan Religius

Kejadian yang menimpa Kabid Pengelolaan Aset Daerah pada BKAD Kabupaten Purwakarta ini langsung menjadi perhatian dan sorotan publik di wilayah setempat.

Semasa hidupnya, Yogi dikenal sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan rekam jejak karier yang cukup baik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Berdasarkan data resmi BKAD Purwakarta, Yogi Saleh lahir pada 13 April 1982 dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2009.

Karier Yogi terus menanjak hingga dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah di BKAD Purwakarta.

Di instansi tersebut, Yogi membawahi Sub Bidang Perencanaan Aset, serta Sub Bidang Pencatatan dan Mutasi Aset.

Tidak hanya aktif di lingkungan birokrasi dinas, sosok Yogi juga dikenal aktif berkontribusi dalam agenda nasional.

Pada gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Purwakarta 2024 lalu, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk wilayah Kecamatan Bojong.

Di sisi lain, rekan dan kerabat mengenal Yogi sebagai sosok yang religius dan aktif beribadah.

Hal itu disampaikan oleh perwakilan keluarga korban, Eka Yusuf, yang tidak mempercayai isu liar yang berkembang bahwa korban mengakhiri hidupnya sendiri.

"Kalau ada yang mengatakan bunuh diri karena depresi, saya pribadi sulit percaya. Kakak (Yogi Saleh) saya orang yang religius, rajin beribadah," ucapnya. (Tribun Jabar/ Tribunnews/ Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.