Jadi Guru Besar UAJY, Prof Imam Basuki Tawarkan Gagasan Transformasi Transportasi Publik Berkeadilan
Yoseph Hary W June 18, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) semakin mengokohkan posisinya sebagai Perguruan Tinggi Swasta terkemuka dan unggul di Kota Pelajar. Komitmen untuk terus meningkatkan mutu akademik dibuktikan dengan bertambahnya jumlah guru besar di lingkungan kampus tersebut. 

Terbaru, Prof. Dr. Ir. Imam Basuki, M.T., IPU., ASEAN Eng resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu transportasi pada Departemen Teknik Sipil UAJY.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dalam Sidang Senat Terbuka yang digelar di Lantai 3 Student Center, Gedung Slamet Rijadi, Kampus II UAJY, Jalan Babarsari Nomor 44, Sleman, Yogyakarta, pada Kamis (18/6/2026).

Gagasan visioner

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Imam Basuki menyampaikan gagasan visioner berjudul "Transformasi Transportasi Publik Berkelanjutan Melalui Energi Baru, Mobilitas dan Ketahanan Nasional". 

Di hadapan rapat senat dan tamu undangan, Prof. Imam menegaskan bahwa transportasi pada hakikatnya bukan sekadar akhir dari suatu perjalanan atau pemindahan fisik semata. Tetapi lebih dari itu, transportasi merupakan sarana vital untuk memperoleh akses terhadap berbagai sendi kehidupan dan ruang penghidupan.

"Oleh karena itu, dalam gelombang transformasi ini, transportasi harus dipandang sebagai hak amat dasar. Ini adalah solusi yang dibutuhkan untuk mengembalikan akses masyarakat terhadap kehidupan yang layak," ujar Prof. Imam. 

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, sektor transportasi mengemban peran yang sangat strategis. Transportasi menjadi pilar penting pembangunan yang berfungsi memperkuat konektivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, memeratakan pembangunan, sekaligus mereduksi kesenjangan antarwilayah. Prof. Imam menjelaskan bahwa elektrifikasi kini menjadi strategi utama dalam peta jalan transformasi transportasi global maupun nasional. Langkah ini sejalan dengan kebijakan domestik melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Mengutip data global, ia memaparkan, lonjakan masif volume kendaraan listrik dunia yang naik tajam dari kisaran 3 juta unit pada tahun 2020 menjadi sekitar 22 juta unit pada tahun 2025. Jumlah tersebut kini menguasai hingga 25 persen dari total penjualan kendaraan global.Tren positif ini merembet ke pasar domestik. Penjualan kendaraan listrik nasional pada tahun 2025 sukses menembus angka lebih dari 40 ribu unit, atau menyumbang sekitar 11 persen dari total penjualan kendaraan nasional, yang ditandai dengan penetrasi produsen global seperti BYD hingga Hyundai. 

Namun, Prof. Imam mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam "paradoks elektrifikasi". Tantangan utama muncul karena sekitar 60 persen sumber energi listrik di Indonesia masih ditopang oleh pembangkit berbasis batu bara atau bahan bakar fosil.

"Kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi gas buang di jalan raya, sehingga polusi udara lokal berkurang dan kualitas lingkungan perkotaan menjadi lebih baik. Akan tetapi, apabila energi listriknya masih didominasi oleh pembangkit batu bara, emisi sesungguhnya hanya berpindah dari sektor transportasi ke sektor pembangkit listrik," jelasnya.

Ia menekankan bahwa keberlanjutan tidak boleh dilakukan secara parsial. Manfaat lingkungan dari kendaraan listrik baru akan optimal seiring dengan semakin besarnya porsi energi terbarukan dalam bauran kelistrikan nasional.

Tantangan Bus Listrik dan Keadilan Mobilitas

Catatan kritis juga diberikan terkait lambatnya adopsi kendaraan listrik pada sektor transportasi publik jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Hambatan terbesar terletak pada biaya investasi awal armada bus listrik yang sangat tinggi, berkisar antara 300 hingga 350 persen lebih mahal daripada bus konvensional. Kondisi ini menuntut penguatan kapasitas riset, kesiapan SDM, serta kalkulasi Total Cost of Ownership (TCO) yang cermat agar kas operasional tetap sehat.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menggeser paradigma pembangunan transportasi dari yang semula berorientasi pada mobilitas (mobility-oriented) menjadi berorientasi pada aksesibilitas (accessibility-oriented) dan keadilan sosial. Konsep inilah yang ia sebut sebagai Keadilan Mobilitas (Mobility Justice).

"Masa depan transportasi kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak kendaraan listrik pribadi yang memadati jalan raya, melainkan oleh kemampuan kita membangun sistem transportasi publik yang efisien, nyaman, terjangkau, andal, rendah emisi dan berkelanjutan," ujar dia. 

Prof. Imam menutup orasinya dengan menegaskan bahwa tanggung jawab moral akademisi untuk senantiasa membumikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan nyata. Baginya transformasi transportasi berkelanjutan adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang bersih, inklusif, berkeadilan, dan tangguh energi. Apalagi untuk menyongsong misi Indonesia Emas 2045. 

"Transportasi yang baik bukan hanya membawa manusia sampai ke tujuan, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat," katanya. 

Pelaksanaan sidang senat terbuka pengukuhan guru besar Imam berlangsung khidmat. Namun ada hal menarik, karena tanggal 18 Juni ini, ternyata bertepatan hari ulang tahun istri Imam, sehingga lagu selamat ulang tahun sempat menggema. Imam juga sempat memberikan kue kepada istrinya. Momen ini menjadi terasa sangat spesial bagi Imam dan keluarganya. Peserta yang hadir tepuk tangan. 

Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M. mengatakan, pengukuhan guru besar di Prodi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil UAJY ini sangat membanggakan. Dengan demikian, total guru besar di UAJY kini menjadi 25. Prof.Imam merupakan guru besar yang ke-24 sedangkan 1 guru besar sudah mendapatkan SK namun belum dikukuhkan. Menurut dia, upacara pengukuhan guru besar Prof Imam sangat istimewa karena berbarengan dengan ulang tahun istrinya. Dikukuhkannya guru besar ini juga menjadi tantangan bagi dosen, terutama agar bisa menjadi contoh. 

"Menarik gerbong gerbong yang muda untuk bisa terus mengembangkan ilmu, yang ditekuni oleh sangat guru besar tersebut. Minimal menarik semangat mereka, yang S2 agar S3 dan tetap melanjutkan pendidikannya," kata dia.(*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.