TRIBUNMANADO.CO.ID, TAHUNA - Peristiwa kecelakaan kerja yang merenggut nyawa seorang petani terjadi di Kampung Beha, Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Kamis (18/6/2026).
Korban diketahui bernama Samarinda Laode (54), seorang petani dan pekebun warga Kampung Beha.
"Korban meninggal dunia setelah terjatuh dari pohon cengkih saat melakukan aktivitas pemetikan hasil panen di Kebun Bowongsede, Lindongan I, Kampung Beha," ujar Kapolsek Tabukan Utara IPTU David Kojongian kepada Tribun Manado melalui Whatsapp.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 WITA.
Saat itu korban bersama dua rekannya, Samsudin Mandalurang dan Syukur Makasahee, sedang melakukan pekerjaan memetik buah cengkih.
Menurut keterangan saksi Samsudin Mandalurang, mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 WITA menuju lokasi kebun dan tiba sekitar pukul 08.00 WITA. Setelah beristirahat, ketiganya mulai memanjat pohon cengkih dan melakukan pemetikan buah sekitar pukul 09.00 WITA.
Menjelang siang, Samsudin turun dari pohon untuk beristirahat dan menyiapkan makan siang di sebuah para-para kopra yang berada tidak jauh dari lokasi kerja. Ia kemudian memanggil korban beberapa kali untuk turun dan makan bersama.
Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara keras dari arah pohon tempat korban bekerja.
"Saya langsung melihat ke arah suara dan mendapati korban sudah tergeletak di tanah setelah terjatuh dari atas pohon cengkih," ungkap saksi.
Korban diperkirakan jatuh dari ketinggian sekitar 40 meter.
Bersama rekannya, saksi segera memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban ke para-para kopra terdekat.
Meski denyut nadi korban sempat masih terasa, kondisi korban terus memburuk. Saat tiba di tempat evakuasi sementara, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Saksi lainnya, Syukur Makasahee, mengaku mendengar suara patahan dahan sebelum mengetahui korban terjatuh. Ia bersama warga yang berada di sekitar lokasi berupaya memberikan pertolongan dengan menyiramkan air ke kepala korban sambil menunggu bantuan.
Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada pemerintah kampung dan aparat kepolisian setempat.
Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka berupa memar di bagian kepala belakang, leher belakang, punggung, paha kiri, serta luka lecet pada telinga kiri dan kaki kanan.
Sementara itu, istri korban, Mardia Papempang, mengatakan suaminya berpamitan sejak pagi untuk pergi memetik cengkih di kebun Bowongsede.
Sekitar pukul 11.10 WITA dirinya menerima kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan kerja.
Korban kemudian dibawa pulang oleh warga dan keluarga menggunakan rosban dari lokasi kebun menuju rumah duka. Saat tiba, korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah kecelakaan kerja dan menyatakan menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah korban.
Aparat kepolisian dari Polsek Tabukan Utara telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kampung dan keluarga korban, meminta keterangan sejumlah saksi, serta menyelesaikan administrasi terkait penolakan otopsi.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pekerjaan para petani cengkih yang setiap musim panen harus memanjat pohon dengan ketinggian puluhan meter untuk memetik hasil kebun mereka.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini