Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Kupas Tantangan Agama di Era Post-Digital Society
Eddy Fitriadi June 19, 2026 12:35 AM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu'adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia menggelar seminar internasional bertajuk Agama dan Tantangan Post-Digital Society di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Kamis (18/6/2026). 

Forum akademik tersebut membahas berbagai tantangan keberagamaan di tengah semakin menyatunya teknologi digital dengan kehidupan masyarakat.

Seminar yang diikuti sekitar 400 dosen, peneliti, dan mahasiswa itu menghadirkan sejumlah akademisi dari Indonesia, Malaysia, dan Mesir untuk mengulas perubahan lanskap keagamaan, otoritas pengetahuan, serta tantangan etika di era pasca-digital.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Prof Dr Salman Abdul Muthalib, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik dan memperluas jejaring kolaborasi internasional dalam merespons berbagai persoalan keagamaan kontemporer.

“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan ruang diskusi ilmiah yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkaya khazanah keilmuan Islam,” katanya.

Salah satu pembicara, Prof Eka Srimulyani, menjelaskan bahwa masyarakat post-digital merupakan kondisi ketika teknologi tidak lagi dipandang sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan manusia, melainkan telah menyatu dengan sistem pengetahuan, relasi sosial, ekonomi, politik, dan praktik keberagamaan.

Dalam konteks tersebut, kata dia, otoritas keagamaan perlu hadir secara aktif di ruang digital tanpa kehilangan fondasi keilmuan dan etika.

“Kecepatan penyebaran informasi harus diimbangi dengan kurasi yang baik, sanad keilmuan yang kuat, serta budaya diskusi yang beradab,” ujarnya.

Baca juga: VIDEO 140 Dosen Pemula di Aceh Ikut Peningkatan Kompetensi di UIN Ar-Raniry

Sementara itu, Dr Sehat Ihsan Shadiqin,  menyoroti tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik melalui materi bertajuk “Krisis Epistemologis di Era AI: Sitasi Halusinatif dan Masa Depan Studi Islam”

Menurutnya, penggunaan AI yang semakin masif perlu disertai kemampuan verifikasi sumber agar tidak melahirkan pengetahuan yang keliru.

Ia mengingatkan bahwa AI mampu menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu didukung oleh sumber yang valid. Karena itu, literasi AI, verifikasi data, dan etika akademik menjadi aspek penting yang harus diperkuat.

“AI bukan musuh ilmu. Yang berbahaya adalah pengetahuan tanpa verifikasi, kecepatan tanpa adab, dan kutipan tanpa amanah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dari Malaysia, Prof Dr Mukhamad Hadi Musolin, ikut menyoroti derasnya arus informasi keagamaan di era post-digital yang sering kali beredar tanpa penyaringan memadai. 

Kondisi tersebut, menurutnya, memunculkan persoalan terkait validitas sumber keagamaan sekaligus tantangan bagi institusi agama dalam menjaga otoritas dan relevansinya di tengah masyarakat.

Di sisi lain, akademisi asal Mesir, Dr Reda Owis Hassan Serour, yang bergabung secara daring, menjelaskan bahwa revolusi digital selama tiga dekade terakhir telah mengubah cara manusia membangun pengetahuan dan menjalani kehidupan sosial. 

Ia menilai masyarakat post-digital ditandai oleh integrasi teknologi yang semakin menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

“Meski demikian, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang berkaitan dengan identitas, nilai, etika, dan cara manusia memahami pengetahuan,” katanya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.