Jakarta bersiaplah! Demo berslogan 'Indonesia Gawat Darurat' akan kepung DPR hari ini, Jumat 19 Juni 2026, isu pemborosan era Prabowo jadi salah satu sorotan keprihatinan demonstrasi dari Kampus Trisakti dan Esa Unggul .
TRIBUNSTYLE.COM - Jakarta kembali bersiap menghadapi gelombang demonstrasi mahasiswa pada Jumat (19/6/2026). Setelah aksi unjuk rasa mewarnai sejumlah kota besar dalam sepekan terakhir, mahasiswa dari Universitas Trisakti dan Universitas Esa Unggul dijadwalkan turun ke jalan dengan membawa berbagai tuntutan, termasuk sorotan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Gelombang protes yang sebelumnya berlangsung di Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, hingga Makassar menunjukkan tanda-tanda belum akan mereda. Aksi pada Jumat ini menjadi kelanjutan dari rangkaian demonstrasi yang terus meluas sejak pertengahan Juni.
Sehari sebelumnya, Kamis (18/6/2026), demonstrasi juga digelar di berbagai daerah. Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Samarinda, Aliansi Gerakan Rakyat Kalimantan Timur (GERAM), serta Aliansi Mahasiswa Kota Batam turun ke jalan menyuarakan beragam persoalan nasional maupun daerah.
Keterlibatan Universitas Trisakti dalam aksi terbaru ini langsung menarik perhatian publik. Kampus yang memiliki sejarah kuat dalam perjalanan reformasi Indonesia itu kembali menjadi salah satu pusat pergerakan mahasiswa yang menyuarakan aspirasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Ajakan untuk mengikuti aksi telah disebarluaskan melalui berbagai akun organisasi kemahasiswaan Universitas Trisakti. Dalam seruan tersebut, mahasiswa diajak turun ke jalan untuk menyampaikan sikap terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah.
Dua elemen utama yang dipastikan ikut bergerak adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti (BEM FH Usakti) dan Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti (Kepresmausakti). Kehadiran kedua organisasi tersebut diperkirakan akan menambah massa aksi dan memperkuat gelombang demonstrasi yang dalam beberapa hari terakhir terjadi di berbagai daerah.
Situasi ini memunculkan pertanyaan, apakah gelombang aksi yang kembali berlangsung di Jakarta akan memicu demonstrasi serupa di kota-kota lain seperti Bandung, Surabaya, Solo, dan Makassar? Hingga kini, berbagai kelompok mahasiswa di sejumlah daerah masih terus menyuarakan tuntutannya melalui aksi jalanan maupun pernyataan sikap terbuka.
BEM FH Usakti mengusung aksi bertajuk "Indonesia Gawat Darurat, Rakyat Bersatu Menggugat". Massa dijadwalkan berkumpul pada Jumat pukul 13.30 WIB di Tugu Luar 12 Mei Universitas Trisakti sebelum bergerak menuju Gedung DPR RI.
Dalam seruan yang disebarkan melalui media sosial, mahasiswa menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup dijaga hanya saat pemilu berlangsung.
"Demokrasi tidak hanya dijaga melalui suara saat pemilu, tetapi juga melalui keberanian untuk menyampaikan aspirasi," tulis BEM FH Usakti.
Mahasiswa membawa tiga tuntutan utama, yakni pemulihan ekonomi dan politik nasional, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten, serta pengembalian supremasi sipil.
Tak hanya itu, mereka juga mendesak pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, memperluas akses BBM subsidi, menghentikan pemborosan APBN, serta melakukan penghentian sementara dan evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejumlah isu lain turut diangkat, mulai dari perbaikan komunikasi publik pemerintah, penolakan terhadap UU Polri, pembebasan tahanan politik, penghentian tindakan represif aparat, penolakan militerisme di ranah sipil, hingga kritik terhadap proyek-proyek strategis nasional yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Di hari yang sama, mahasiswa Universitas Esa Unggul juga akan turun ke jalan melalui aksi bertajuk "Esa Unggul Melawan, Reformasi Belum Selesai".
Massa dijadwalkan berkumpul pukul 10.00 WIB di area kantin kampus dengan mengenakan almamater sebagai simbol perlawanan.
Dalam seruan aksinya, mahasiswa menilai cita-cita reformasi yang diperjuangkan sejak 1998 masih belum sepenuhnya terwujud. Karena itu, mereka menegaskan perlunya pengawasan publik yang lebih kuat terhadap jalannya pemerintahan.
Empat tuntutan utama diajukan, mulai dari evaluasi menyeluruh terhadap program-program strategis nasional, penguatan pengawasan keuangan negara, perbaikan komunikasi publik pemerintah, hingga penghentian praktik militerisme dalam ranah sipil.
Bagi mahasiswa, transparansi, akuntabilitas anggaran, dan supremasi sipil masih menjadi persoalan mendasar yang harus segera dibenahi.
Sementara itu, Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti memilih mengangkat kembali semangat Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) dalam demonstrasi yang digelar pada Jumat pagi.
Aksi dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB dengan titik kumpul di Tugu Luar Universitas Trisakti.
Dalam pernyataan sikapnya, Kepresmausakti menilai Tritura bukan sekadar slogan sejarah, melainkan refleksi atas berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat hingga saat ini.
Tiga tuntutan yang mereka gaungkan meliputi pemulihan ekonomi dan politik nasional, pemberantasan pejabat yang dianggap tidak kompeten, serta pengembalian supremasi sipil.
Mahasiswa menegaskan bahwa selama aspirasi rakyat belum terwujud, suara kritis akan terus disampaikan sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk mengawal demokrasi dan kepentingan publik.
Aksi yang akan digelar pada Jumat ini menambah panjang daftar kampus yang terlibat dalam gelombang demonstrasi mahasiswa sepanjang Juni 2026.
Rangkaian gerakan tersebut bermula dari aksi di Bundaran HI pada 12 Juni lalu. Saat itu mahasiswa menyoroti pelemahan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, pemborosan anggaran negara, hingga berbagai program pemerintah yang dinilai tidak tepat sasaran.
Demonstrasi kemudian berlanjut pada 15 dan 17 Juni dengan melibatkan lebih banyak kampus di berbagai daerah. Isu yang diangkat pun semakin meluas, dari persoalan ekonomi hingga demokrasi, sektor keamanan, dan evaluasi kinerja pemerintah.
Kini, bergabungnya Universitas Trisakti memperlihatkan bahwa konsolidasi gerakan mahasiswa belum menunjukkan tanda-tanda surut. Sebaliknya, gelombang protes justru semakin besar dan menjangkau lebih banyak kampus.
Hingga Kamis sore, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah terkait rencana aksi tersebut. Namun aparat keamanan sebelumnya telah menyiapkan pengamanan berlapis dalam sejumlah demonstrasi mahasiswa yang berlangsung di Jakarta sepanjang Juni 2026.
Dengan semakin banyaknya kampus yang turun ke jalan, akhir pekan ini diperkirakan menjadi momentum penting bagi gerakan mahasiswa yang terus menuntut perubahan di tengah dinamika politik dan ekonomi nasional.