Performa Horor Portugal Mulai Berimbas, Rekan-rekan Cristiano Ronaldo dapat Serangan
Drajat Sugiri June 19, 2026 07:57 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Performa tak meyakinkan Portugal saat tampil berhadapan dengan Republik Demokratik Kongo mulai menimbulkan dampak.

Salah satu dampak yang dirasakan adalah meningkatkan hate comment atau komentar kebencian yang diarahkan kepada beberapa pemain Portugal.

Ada tiga sosok yang mendapatkan hujatan cukup banyak, yaitu Bruno Fernandes, Bernardo Silva, dan Vitinha.

Nuansa hujatan yang dialami ketiga pemain ini kurang lebih sama.

Mereka dianggap tidak ingin mengumpan atau memberikan bola kepada Cristiano Ronaldo.

Padahal Ronaldo, di mata beberapa pihak, masih memiliki peran vital dalam permainan Portugal.

"Sudah ada limitasi dari pergerakannya, apalagi posisinya adalah penyerang. Belum tentu juga Portugal tampil lebih baik tanpa Ronaldo," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Bahkan kehadiran Ronaldo bisa menjadi faktor pendongkrak mental."

"Hal yang perlu dilakukan Roberto Martinez adalah bagaimana meredam ego Ronaldo," sambungnya.

Dua wanita mengenakan striker Portugal (kiri) dan RD Kongo (kanan) di wajah sebagai bentuk dukungan pada Piala Dunia 2026, di Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2026).
Dua wanita mengenakan striker Portugal (kiri) dan RD Kongo (kanan) di wajah sebagai bentuk dukungan pada Piala Dunia 2026, di Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2026). (Tribunnews.com)

Sebuah postingan di akun Instagram Bruno Fernandes bahkan memiliki hingga 20 ribu komentar.

Sayangnya, banyak komentar yang muncul malah memberikan caci maki kepada pemain mManchedster United ini.

Demikian pula dengan yang dialami Bernardo Silva, Vitinha, dan beberapa pemain yang beroperasi di sektor tengah dan depan lainnya.

Mereka diserang lantaran dianggap benar-benar tak melibatkan Cristiano Ronaldo dalam permainan tim.

Meski demikian, anggapan itu tak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Secara kasat mata, para pemain tak ada yang mencoba memboikot Ronaldo dari pola penyerangan tim.

Memang Portugal saja yang secara umum kesulitan menemukan ruang dan celah di pertahanan lawan.

Apalagi tipe permainan CR7 adalah seorang penyerang tengah tradisional.

Baca juga: Piala Dunia 2026 - Gerak Tangan Granit Xhaka Menjawab Kritik, 3 Poin Swiss Runtuhkan Isu Miring

Ia akan jarang terlibat build up serangan timnya di tiap pertandingan.

Dirinya akan lebih banyak menunggu peluang atau umpan yang diberikan kepadanya di area depan permainan tim.

Hal itu menjadi salah satu yang menyulitkan Ronaldo berkembang di pertandingan melawan RD Kongo.

Sekiranya komentar-komentar negatif tersebut tak perlu ditujukan kepada para pemain Portugal yang sudah berjuang keras.

Tak bisa dipungkiri memang Ronaldo masih punya nama besar di dunia sepak bola saat ini.

Namun saat berbicara soal kualitas permainan, ia tak lagi menawarkan banyak hal.

Pergerakannya sebagai penyerang di era sepak bola modern tak bisa banyak membantu.

Ia lebih mengarah berlaga sebagai pemain nomor 9 di era-era lama sepak bola, yaitu menunggu peluang dan servis kepada dirinya.

Padahal di era sepak bola modern ini, penyerang dituntut melakukan banyak hal, mulai dari menciptakan peluang sendiri, membuka ruang, dan bahkan tampil pertama sebagai sebuah unit pertahanan.

Ronaldo sayangnya tak bisa lagi melakukan itu di usianya yang sudah mencapai 41 tahun.

Hal yang sebenarnya wajar, lantaran pemain lain seusianya sebagian besar pasti sudah memilih pensiun dari klub dan terlebih lagi tim nasional.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.