TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei akhirnya menyampaikan sikap resminya terkait kesepakatan penghentian konflik di Timur Tengah yang ditandatangani Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan dunia karena merupakan respons pertama dari pemimpin tertinggi Iran sejak nota kesepahaman antara Teheran dan Washington diumumkan kepada publik.
Meski diketahui memiliki pandangan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan isi kesepakatan tersebut, Mojtaba Khamenei memilih memberikan persetujuan demi kepentingan yang lebih besar bagi negaranya.
Sikap itu dinilai sebagai sinyal penting yang menunjukkan adanya dukungan dari pucuk kepemimpinan Iran terhadap proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Pesan resmi Khamenei disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Kamis (18/6/2026) dan langsung menjadi perhatian berbagai negara.
Dalam pernyataannya, ia menjelaskan alasan mengapa dirinya akhirnya memberikan restu terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati kedua negara.
Keputusan tersebut disebut tidak diambil secara mudah mengingat adanya perbedaan pandangan yang sebelumnya ia miliki terkait arah kebijakan tersebut.
Namun, Khamenei mengaku mempertimbangkan komitmen yang telah diberikan oleh Presiden Iran serta jajaran Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Baca juga: Update Konflik Timur Tengah, AS Rilis 14 Poin Kesepatakan Damai dengan Iran, Perang Resmi Berakhir?
Menurutnya, jaminan untuk tetap menjaga kepentingan nasional Iran menjadi faktor utama yang mendasari persetujuannya.
"Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda (tentang nota kesepahaman), tetapi saya memberikan izin karena komitmen yang diberikan oleh Presiden (Iran) yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan," katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, dikutip dari AFP.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun terdapat perbedaan pandangan internal, kepemimpinan Iran tetap berupaya menjaga kesatuan sikap dalam menghadapi perkembangan geopolitik yang sangat sensitif.
Kesepakatan penghentian konflik antara Iran dan Amerika Serikat sendiri dipandang sebagai langkah bersejarah setelah ketegangan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Dengan keluarnya pernyataan dari Ayatollah Mojtaba Khamenei, dunia kini menantikan implementasi nyata dari kesepakatan tersebut dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dalam jangka panjang.
Menurutnya, Trump menggunakan segala macam cara untuk mengamankan kesepakatan tersebut karena putus asa.
Meski menyetujui langkah diplomasi ini, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei itu menegaskan, dirinya telah menerima jaminan dari Pezeshkian.
Baca juga: Tanggapan Trump Soal Serangan AS ke Iran yang Tewaskan 175 Orang di Sekolahan: Perang Itu Mengerikan
Ia memastikan Iran tidak akan menerima kesepakatan jika pihak Amerika ingin mengajukan tuntutan yang berlebihan.
Mojtaba juga memberikan catatan tegas mengenai kelanjutan diplomasi kedua negara di masa depan.
"Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan diadakan di masa mendatang tidak akan berarti menerima sudut pandang musuh," tambahnya.
Pernyataan tertulis ini menjadi momen penting mengingat Mojtaba Khamenei belum pernah terlihat di depan umum sejak resmi menjabat pada Maret 2026.
Ia naik takhta kepemimpinan tertinggi Iran menggantikan ayahnya sekaligus pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan AS-Israel di Iran pada 28 Februari.
Peristiwa tersebut menjadi pemicu pecahnya perang regional di Timur Tengah yang kini coba diakhiri lewat kesepakatan tadi.
(Tribunnewsmaker.com/ Kompas.com)