TRIBUNNEWS.COM - Pertandingan seru yang mempertemukan Belanda dan Jepang di fase Grup F Piala Dunia 2026 ternyata dinodai dengan rasisme.
Tindakan tidak terpuji itu memang tidak datang dari atas lapangan.
Hal itu terjadi di luar lapangan, ketika legenda hidup Timnas Belanda, Rafael Van der Vaart bertindak sebagai pundit.
Van der Vaart yang bertugas di sebuah acara di NOS TV, Belanda, memberikan komentar ketika Jepang berhasil menyamakan kedudukan.
Ketika itu, ia menyoroti Micky Van de Ven yang gagal menjaga pemain Jepang, Koki Ogawa.
Ia berujar Van de Ven pasti bingung membedakan pemain Jepang karena mereka terlihat serupa atau sama semua.
Baca juga: 6 Gol 2 Kartu Merah, Bintang Redup Juventus Hero Kanada Gulung Qatar di Piala Dunia 2026
"Mereka semua mirip, tentu saja, itu mungkin yang ada di pikiran Van de Ven," kata Van der Vaart kala itu, dikutip dari BBC.
Padahal permainan Jepang memang sudah teruji di tingkat internasional dan menjadi ancaman nyata bagi tim-tim yang menjadi lawan.
"Ancaman terbesar Belanda di grup F adalah Jepang. Mereka sudah pernah mengalahkan Brasil, Inggris, Spanyol hingga Jerman dalam beberapa tahun terakhir," ujar Wakil Ketua Umum Oranje Indonesia, Arnan Binafsihi, dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Level permainan mereka sekarang sudah sangat mendekati tim-tim Eropa," katanya.
Benar saja, mereka akhirnya bisa menahan imbang Belanda dengan skor 2-2 di pertandingan itu.
Bukti mentalitas Jepang juga sudah teruji lantaran mereka berhasil menyamakan kedudukan dua kali setelah tertinggal dua kali juga.
Tentu saja tak ada ruang bagi rasisme di tingkat kehidupan mana pun, termasuk sepak bola.
Rafael Van der Vaart lantas menyampaikan permohonan maaf terkait ucapan rasisnya tersebut.
“Tidak pernah ada niat saya untuk menyinggung, menyakiti, atau mendiskriminasi siapa pun. Saya menentang rasisme dalam segala bentuknya dan menghormati orang-orang dari setiap latar belakang, etnis, dan budaya," kata Van der Vaart.
"Saya memahami bahwa beberapa orang mungkin menganggap perkataan saya menyinggung atau menyakitkan. Saya dengan tulus menyesal atas hal tersebut."
"Jika komentar saya telah menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Itu sama sekali bukan niat saya," sambungnya.
Ucapan rasial Van der Vaart itu cepat mendapatkan perhatian banyak pihak.
Salah satunya dari lembaga anti-diskriminasi Kick It Out, yang memberikan tanggapannya.
Mereka bersama dengan sebuah lembaga amal bernama Frank Soo Foundation, mengecam ucapan eks pemain Tottenham Hotspur itu.
"Ini sangat mengecewakan mendengar mantan pemain melontarkan ujaran rasis tentang tim Jepang, lalu malah memperkuatnya dengan mencoba membela komentar tersebut sebagai lelucon," kata mereka dalam pernyataan resminya.
"Meskipun ia mengklaim tidak ada niat rasis dalam ucapannya, komentar tersebut tetap dapat berdampak pada pihak-pihak yang terlibat, serta komunitas Asia Timur dan Asia Tenggara secara lebih luas, seperti yang telah kita lihat pada contoh-contoh sebelumnya yang ditujukan kepada para pemain."
"Piala Dunia menarik audiens televisi global yang sangat besar, sehingga selalu penting bagi para tamu untuk berhati-hati dalam menggunakan bahasa mereka, dan bagi penyiar untuk bertanggung jawab atas orang-orang yang tampil di acara mereka, baik melalui edukasi tambahan maupun pelatihan," paparnya.
(Tribunnews.com/Guruh)