Menyiapkan Penyelamat dari Tambang: Kisah Reswara Membangun Tim Tanggap Darurat
Irfani Rahman June 19, 2026 09:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Pagi itu, latihan dimulai lebih cepat dari biasanya. Sebelum matahari benar-benar naik, sembilan orang berdiri berbaris, bersiap mengikuti uji kebugaran yang menjadi awal dari rangkaian pelatihan penyelamatan tambang.

Mereka bukan anggota tim penyelamat profesional sejak awal. Ada yang sehari-hari bekerja sebagai petugas keselamatan kerja, surveyor, hingga tenaga pengembangan masyarakat.

Namun selama sembilan hari, sembilan orang ini ditempa menjadi bagian dari tim yang dipersiapkan menghadapi situasi paling genting: menyelamatkan nyawa.

Pelatihan yang diselenggarakan Reswara Group melalui PT Piranti Jaya Utama (PJU) dan PT Tunas Inti Abadi (TIA) itu bukan sekadar rutinitas perusahaan tambang.

Di baliknya, ada kesadaran bahwa risiko di industri ini tidak pernah benar-benar hilang—bahkan sebelum operasi dimulai, maupun setelah tambang berhenti berproduksi.

Ucapan selamat bertugas untuk tim rescue Reswara grup dari Dadik Kiswanto (Direktur TIA)
Ucapan selamat bertugas untuk tim rescue Reswara grup dari Dadik Kiswanto (Direktur TIA)

Direktur Reswara Group, Iwan Hermawan, menyebut fase-fase tersebut justru sering luput dari perhatian.

“Keselamatan tidak boleh berhenti saat tambang beroperasi. Sejak pra operasi hingga pasca tambang, risiko tetap ada dan harus diantisipasi,” ujarnya.

Belajar dari Risiko, Bersiap untuk yang Tak Terduga

PT Piranti Jaya Utama (PJU) masih berada dalam tahap awal operasional. Di fase ini, sistem tanggap darurat sering kali belum benar-benar teruji. Di sisi lain, PT Tunas Inti Abadi (TIA) telah memasuki masa pasca tambang dengan karakter area yang berbeda dan tantangan operasional yang tidak lagi sama.

Bagi Reswara, perbedaan kondisi tersebut tidak mengurangi pentingnya kesiapsiagaan—melainkan justru memperluas maknanya.

Area operasional dengan akses terbatas, kondisi lapangan yang menantang, serta potensi situasi darurat yang dapat muncul sewaktu-waktu tetap membutuhkan tim yang siap siaga setiap saat.
Namun Reswara melihat peran tim ini tidak berhenti di situ.

“Ke depan, kami ingin tim ini juga memiliki peran sosial, terutama dalam memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama kepada masyarakat,” kata Iwan.

Latihan yang Menguji Bukan Hanya Fisik

Selama sembilan hari, peserta pelatihan menghadapi beragam skenario—mulai dari penanganan korban, resusitasi jantung paru, hingga penyelamatan di ruang terbatas, kebakaran, dan perairan.
Latihan tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental.

Instruktur Basarnas, Ryan Rachman, menekankan bahwa keberhasilan penyelamatan sangat ditentukan oleh kesiapan menyeluruh.

“Tim ERT yang profesional, solid memelihara kesiapsiagaan ketika terjadi kondisi darurat dan menangani kondisi darurat sesuai dengan prosedur,” ujarnya.

Bagi para peserta, tantangan terbesar justru datang dari tekanan situasi yang dibuat menyerupai kondisi nyata.

Salah satu peserta, Fabilio Awang, mengaku pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya.
“Di sini kami dilatih menghadapi kondisi seolah-olah nyata. Kami belajar tetap tenang dan bekerja sama saat situasi menekan,” katanya.

Sembilan Orang, Satu Tanggung Jawab Baru 

Di akhir pelatihan, kesembilan peserta menjalani uji keterampilan. Hasilnya, seluruhnya dinyatakan lulus dan memenuhi kualifikasi Basarnas.

Bagi Iwan Hermawan, pencapaian ini bukan sekadar angka. “Kami bersyukur sembilan peserta dinyatakan lulus. Ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun tim tanggap darurat yang andal di lingkungan Reswara Group,” ujarnya.

Namun yang lebih penting, menurutnya, adalah bagaimana tim ini akan digunakan ke depan.
Indonesia, kata Iwan, masih menghadapi tren bencana yang tinggi, terutama banjir dan cuaca ekstrem.

“Melihat data bencana yang masih didominasi oleh banjir dan cuaca ekstrem, kami berharap tim ini bisa berkontribusi lebih luas, tidak hanya di internal perusahaan, tetapi juga membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.

Dari Tambang untuk Ketahanan Sosial

Peran ini menjadi semakin penting di tengah perubahan pola bencana yang tidak menentu. Dalam banyak kasus, menit-menit pertama menjadi penentu keselamatan korban.
Di sinilah tim yang terlatih menjadi kunci.

Reswara mencoba mengambil peran itu—membangun kapasitas dari dalam perusahaan, lalu memperluas manfaatnya ke luar.

Bagi Fabilio dan rekan-rekannya, pelatihan ini meninggalkan satu hal yang paling mendalam: kesadaran bahwa pekerjaan mereka kini tidak hanya tentang operasional tambang.

“Sekarang kami tahu, kami juga punya tanggung jawab untuk menyelamatkan orang lain,” katanya. Di balik helm dan seragam kerja yang biasa dikenakan di area tambang, kini ada peran baru yang disandang: menjadi bagian dari garis depan penyelamatan.(aol)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.