PROHABA.CO, ACEH TAMIANG - Transportasi getek yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat di Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, sempat berhenti beroperasi pada Rabu (17/6/2026) malam.
Hal ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dan menyebabkan debit Sungai Tamiang meningkat tajam.
Terhentinya layanan penyeberangan membuat aktivitas warga yang setiap hari bergantung pada getek ikut terganggu.
Sejak jembatan penghubung di kawasan itu rusak diterjang banjir beberapa waktu lalu, getek menjadi satu-satunya sarana transportasi yang menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan aliran Sungai Tamiang.
Supri, warga Lubuk Sidup menjelaskan bahwa operator getek memilih menghentikan sementara layanan karena kondisi arus sungai dinilai membahayakan.
Selain derasnya arus, banyak batang kayu dan material hanyut terbawa banjir sehingga berisiko menabrak getek saat menyeberang.
Kondisi tersebut berlangsung hingga Kamis (18/6/2026) pagi.
Baca juga: Pasca Banjir Bandang, Jembatan Kepala Hiu Jadi Andalan Warga Peusangan Bireuen
Setelah debit air mulai menurun dan material hanyut berkurang, operator kembali membuka layanan penyeberangan dengan kewaspadaan tinggi.
“Arus masih cukup kuat sehingga operator harus ekstra hati-hati saat membawa penumpang menyeberang,” ujar Supri.
Pantauan di lokasi menunjukkan air sungai masih keruh kecokelatan dengan arus deras, meski jumlah kayu hanyut sudah berkurang.
Sebelum kembali beroperasi, warga bersama pengelola getek melakukan perbaikan sederhana pada lokasi sandar yang rusak akibat tingginya permukaan air.
Upaya ini dilakukan agar proses naik turun penumpang lebih aman.
Saat ini terdapat lima unit getek yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat.
Keberadaannya menjadi penopang utama aktivitas warga, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengangkut kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: 16 Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Masih Dirawat Intensif di RSUDZA, Berikut Kondisinya
Salah seorang pengguna getek, Khadijah Vany, mengaku sempat menunda aktivitasnya setelah mengetahui layanan penyeberangan belum beroperasi pada Kamis pagi.
Ia memahami keputusan operator menghentikan sementara layanan demi keselamatan penumpang.
Menurutnya, masyarakat sudah terbiasa menggunakan getek sejak jembatan utama rusak akibat banjir.
Selain membantu mobilitas warga, operasional getek juga menjadi sumber penghasilan bagi keluarga pengelola.
Meski layanan kini kembali normal, warga berharap kondisi cuaca segera membaik agar aktivitas di Sungai Tamiang tidak lagi terganggu.
Mereka juga berharap akses transportasi darat yang rusak dapat segera dipulihkan sehingga ketergantungan terhadap getek sebagai sarana penyeberangan sementara bisa berkurang.
(Serambinews.com/Rahmad Wiguna)
Baca juga: Jembatan Putus, Anak-anak di Aceh Barat Terpaksa Belajar di Pustu
Baca juga: Kementerian Pekerjaan Umum Gerak Cepat, Jembatan Armco Segera Dibangun di Salah Sirong
Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Pemerasan Wisatawan di Bukit Lamreh Aceh Besar