MBG Berhenti Tak Dikeluhkan di Purwokerto, Kepsek: Mereka Keluarga Mampu dan Biasa Bawa Bekal
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah dasar (SD) di Purwokerto dilaporkan ada yang berhenti bahkan sejak masa libur Iduladha 2026.
Di tengah penghentian tersebut, salah seorang kepala sekolah dasar (SD) di Kelurahan Sokanegara, Purwokerto Timur mengungkapkan memang ada sekolah yang sudah tidak menerima MBG lagi.
"Di tempat saya terakhir hari ini, karena Senin sudah libur panjang, tapi di sekolah lain di sekolah tetangga sudah tidak lagi mendapat pasokan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahkan sejak libur Iduladha," ucap Kepala salah satu SD di Kelurahan Sokanegara, Purwokerto AG kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (19/6/2026).
Pihaknya mengatakan sebenarnya sekolah sempat mengajukan agar distribusi dihentikan karena siswa sudah akan mengambil rapot.
Baca juga: Cerita Keluarga Besar Petani di Banjarnegara Bisa Berangkat Haji Bareng, Tak Direncanakan
"Permintaan kita tidak dapat dipenuhi lantaran penyedia makanan telah lebih dahulu melakukan pembelian bahan baku.
Jadi hari ini masih menerima. Kami minta libur ternyata tidak bisa karena SPPGnya sudah belanja. Jadi akhirnya hari ini masih diberikan kepada orangtua yang datang ke sekolah," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah sekolah lain yang justru sudah tidak lagi menerima MBG sejak libur Iduladha.
"Ada beberapa sekolah lain yang sudah di-stop sejak libur Iduladha kemarin," ujarnya.
Di SD yang dia ajar program MBG menjangkau sekitar 310 siswa serta 22 guru.
AG membenarkan pada masa libur sekolah sebelumnya, program MBG sempat tetap berjalan meskipun kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara.
Dalam kondisi tersebut, makanan biasanya diambil oleh orangtua siswa.
"Iya, waktu itu ada anak yang ambil di sekolah. Meskipun sudah masa libur, MBG tetap jalan," ujarnya.
Pengambilan makanan dilakukan dengan berbagai cara.
Ada orangtua yang datang langsung ke sekolah, namun ada pula wali murid yang mengoordinasikan pengambilan makanan untuk beberapa siswa sekaligus.
"Kadang ada wali murid yang koordinir. Kadang ada yang ambil langsung," katanya.
Namun ia menegaskan untuk masa libur panjang sekolah, seperti dua minggu penuh, ia meminta agar distribusi MBG biasanya dihentikan sementara.
"Kalau libur sekolah dua minggu, kita minta stop. Lagian repot juga harus ambil tiap hari, bolak-balik. Jadi kalau libur panjang ya mending tidak usah jalan," jelasnya.
Menurutnya keluhan dari orangtua terkait kewajiban mengambil MBG saat masa libur panjang sempat ada.
"Kalau di tempat kami kalau libur panjang memang minta stop MBG," katanya.
Ia menyebut hari terakhir distribusi MBG di sekolahnya berlangsung pada Jumat ini.
Sedangkan mulai Senin mendatang, sekolah sudah tidak lagi menerima distribusi makanan.
"Hari ini masih jalan. Besok libur, dan Senin sudah tidak terima lagi," katanya.
Meski pelaksanaan MBG relatif lancar, AG mengungkapkan terdapat sejumlah masukan dari orangtua maupun guru terkait kualitas program MBG.
Keluhan yang paling sering muncul adalah soal variasi menu yang dinilai kurang beragam.
Menurutnya, menu yang diberikan selama ini didominasi olahan telur dan ayam.
Sementara menu lain seperti daging sapi hampir tidak pernah diberikan.
"Yang menjadi usulan dari orangtua dan guru itu menunya tidak bervariasi. Hanya itu saja, olahan telur dan ayam. Yang disampaikan ada daging sapi dan lain sebagainya itu tidak ada. Jadi monoton," katanya.
Selain persoalan menu, ia mengakui ada sejumlah siswa yang tidak menghabiskan makanan yang diberikan.
Beberapa anak bahkan memilih membawa pulang makanan tersebut.
"Ya ada beberapa anak yang seperti itu," ujarnya.
Hal yang justru menjadi perhatian adalah adanya sejumlah sekolah yang tiba-tiba tidak lagi menerima MBG.
Ia mengaku tidak mengetahui alasan pasti penghentian tersebut.
Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, penghentian berasal dari pihak SPPG.
"Ya tidak tahu. Tiba-tiba sekolah lain ada yang di-stop saja dari pihak SPPG," ujarnya.
Menurutnya kondisi itu tidak hanya terjadi di wilayah Sokanegara.
Beberapa sekolah lain juga mengalami hal serupa.
"Di Sokanegara ada, Arcawinangun juga ada. Mungkin di daerah lain juga ada yang sudah tidak menerima lagi," katanya.
Ia menceritakan ada salah satu SD di Arcawinangun sebagai salah satu sekolah yang sudah tidak lagi menerima distribusi MBG.
Ia menilai sebagian masyarakat bahkan sebelumnya sudah memiliki pandangan program tersebut lebih tepat diberikan kepada anak-anak dari keluarga yang benar-benar membutuhkan.
"Sempat ada yang bilang, masa anak-anak yang sudah mampu juga dapat MBG.
Saya setuju program MBG untuk lingkungan yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.
Menurutnya, di beberapa sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga cukup mampu, penghentian MBG tidak terlalu berpengaruh.
Pasalnya, banyak siswa yang sejak awal telah membawa bekal sendiri dari rumah.
Bahkan, ia mengaku ada MBG yang diberikan kepada orang lain karena tidak dikonsumsi siswa.
"Sampai ada yang bilang diberikan ke tukang becak. Kadang diberikan ke panti asuhan juga karena anaknya sudah bawa bekal sendiri," katanya.
Meski demikian, ia menegaskan penghentian MBG tidak hanya terjadi di sekolah yang siswanya berasal dari kalangan berada.
Menurutnya, ada pula sekolah dengan kondisi ekonomi siswa yang beragam tetapi tetap mengalami penghentian distribusi.
"Enggak selalu sekolah yang siswanya mampu. Ada juga yang tidak seperti itu tetapi tetap di-stop," tutupnya. (jti)