Eks Pelatih Sriwijaya FC Sebut Ketidaksiapan Manajemen Picu Degradasi ke Liga 3
Abdul Hafiz Sripo June 19, 2026 03:47 PM

SRIPOKU.COM - Pelatih kepala Sriwijaya FC musim kompetisi Pegadaian Championship 2024/25 Jafri Sastra mengatakan sudah sewajarnya Elang Andalas menanggung risiko turun ke Liga 3.

Jafri Sastra yang musim lalu menjabat Direktur Teknik Persiku Kudus mengaku prihatin melihat nasib Sriwijaya FC sekarang. Ia menyebut yang bikin Laskar Wong Kito seperti sekarang itu bukan pelatih yang didatangkan, bukan pemain yang didatangkan.

"Tapi kesiapan manajemen mereka sendiri yang acak-acakan, manajemen sendiri yang dibilang serius tapi harusnya punya dana yang cukup dong buat bayar pelatih, untuk bayar gaji pemain. Sampai sekarang juga kita belum dibayar, banyak belum dibayar," kata pelatih kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, 23 Mei 1965 yang sudah kenyang pengalaman melatih sejumlah klub di tanah air.

Eks pelatih tim Liga 1 Persela Lamongan mempertanyakan tanggung jawabnya Sriwijaya FC bagaimana ke pemain dan pelatih yang belum dibayar. Ini suatu hal problematika.

"Yang menghancurkan Sriwijaya FC inilah. Bukan pelatih, bukan pemain yang didatangkan. Tapi situasi sebagai notabene tim profesional memperlakukan tidak profesional banyak hal. Itu kan efeknya ke situ Sriwijaya FC. Wajar-wajar saja dia mendapatkan apa yang dihadapinya sekarang turun ke Liga 3," tegas eks pelatih PSKC Cimahi.

Coach Jafri Sastra yang sempat melatih Muba Babel United 2021 mengatakan hal yang memang risiko harus diterima oleh Sriwijaya FC.

"Kita sebagai orang Sumatera prihatin. Karena kebanggaan kita selama ini Sriwijaya FC, Semen Padang FC, PSMS Medan, PSPS Pekanbaru, dan yang baru Sumsel United. Suatu kebanggaan kita orang Sumatera," kata Jafri Sastra yang menjagokan Spanyol dan Brasil lebih berpeluang menjuarai Piala Dunia 2026.

Menurutnya manajemen klub tidak cukup dengan serius, koar-koar di media. Tapi nanti realisasi tidak seperti apa yang dikoarkan. Kalau memang tidak sanggup dengan risiko kompetisi dipenuhi, bagusnya tidak usah ikut kompetisi.

"Kalau dananya tidak ada, lebih baik klub itu tidak usah ikut kompetisi. Ini pemain, pelatih punya keluarga, sopir bus tim punya keluarga yang harus dikasih makan. Bagaimana gaji kalau sudah 3-4 bulan tidak dibayar. Begitu bayar, nyicilnya tidak sesuai dengan harga beras di kampung kita. Kan susah juga. Bagaimana orang mau fokus bertanding," katanya.

• Prediksi Piala Dunia 2026: Dr. Ratna Mustika Unggulkan Inggris dan Ghana

Ia membayangkan seperti nelayan ke laut saja sudah empat jam tidak dapat ikan, dia kepikiran anak istrinya belum makan di rumah. Enam jam dia ke laut masih kepikiran.

"Nanti anak istri mau makan apa? Bagaimana kalau berbulan-bulan. Kalau menurut saya, klub-klub yang tidak sanggup menganiaya diri sendiri dan menganiaya orang lain. Apalagi menzalimi. Menurut saya berpikir-pikir juga, tidak usah berkompetisi dululah. Kan di regulasi semuanya sudah jelas," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.