Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketika mendengar Ebola atau Marburg, banyak orang langsung membayangkan virus mematikan yang jauh dari Indonesia.
Namun, di balik penyakit tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti satu masalah yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, yakni dehidrasi yang terlambat ditangani.
Baca juga: Bagaimana Ebola Berdampak pada Piala Dunia?
Dalam pedoman klinis terbaru yang diterbitkan 17 Juni 2026, WHO menempatkan penanganan cairan tubuh sebagai salah satu kunci utama untuk meningkatkan peluang hidup pasien penyakit filovirus seperti Ebola dan Marburg.
Pedoman tersebut diterbitkan di tengah wabah Ebola akibat virus Bundibugyo yang sedang terjadi di Republik Demokratik Kongo.
WHO menjelaskan pasien penyakit filovirus berisiko mengalami dehidrasi dan syok yang dapat berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih berbahaya.
Syok terjadi ketika tekanan darah turun drastis sehingga organ-organ penting tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup.
Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi tersebut dapat menyebabkan kegagalan organ.
Karena itu WHO merekomendasikan pemberian cairan melalui rehidrasi oral maupun infus sesegera mungkin sesuai kondisi pasien.
Selain itu, tenaga kesehatan juga diminta memantau tekanan darah dan tanda-tanda vital pasien secara berkala.
Bukan Virusnya Saja, Komplikasi Juga Mematikan
Banyak orang mengira kematian akibat Ebola dan Marburg semata-mata disebabkan virus.
Padahal WHO mengingatkan komplikasi yang muncul selama perawatan juga menjadi ancaman serius.
Karena itu pedoman terbaru meminta tenaga kesehatan aktif mencari berbagai masalah yang masih bisa diobati melalui pemeriksaan laboratorium.
Beberapa di antaranya adalah hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah serta gangguan metabolisme lainnya.
Dengan deteksi lebih cepat, tindakan medis dapat diberikan sebelum kondisi pasien memburuk.
WHO juga mengingatkan pasien Ebola dan Marburg bisa mengalami infeksi bakteri tambahan.
Kondisi ini dapat berkembang menjadi sepsis yang membahayakan nyawa apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, WHO merekomendasikan pemberian antibiotik yang tepat apabila ditemukan infeksi bakteri pada pasien.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Salah satu poin yang paling disoroti dalam pedoman baru WHO adalah pentingnya pendampingan bagi pasien yang telah sembuh.
Selama ini masyarakat sering menganggap pengobatan selesai ketika pasien diperbolehkan pulang.
Padahal WHO menilai penyintas penyakit filovirus tetap membutuhkan perawatan lanjutan yang terstruktur.
Tujuannya bukan hanya menjaga kualitas hidup mereka setelah sembuh, tetapi juga mencegah masalah kesehatan lain yang dapat muncul setelah infeksi.
"Wabah virus Bundibugyo saat ini merupakan pengingat yang jelas akan perlunya perawatan medis yang cermat, holistik, dan berfokus pada individu, untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga martabat manusia," kata Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dilansir dari website resmi, Jumat (19/6/2026).
Meski pedoman ini dibuat untuk Ebola dan Marburg, pesan yang ingin ditekankan WHO sebenarnya relevan untuk berbagai penyakit infeksi berat.
Perawatan yang cepat, pemantauan kondisi pasien secara ketat, pemenuhan kebutuhan cairan tubuh, serta penanganan komplikasi sedini mungkin dapat membantu meningkatkan peluang hidup pasien.
"Pedoman baru ini adalah contoh sempurna bagaimana WHO memanfaatkan sains untuk melindungi dan merawat masyarakat dengan lebih baik selama wabah dan keadaan darurat kesehatan," tutup Tedros.