TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Kepulangan jemaah haji asal Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), Jumat (19/6/2026), menyita perhatian warga yang memadati Pelabuhan PLBL Liem Hie Djung Nunukan.
Bukan hanya karena momen haru pertemuan dengan keluarga setelah 47 hari berpisah, tetapi juga penampilan para jemaah haji yang tampak berbeda saat turun dari speedboat.
Sejumlah jemaah laki-laki terlihat mengenakan jubah lengkap dengan surban. Sementara sebagian jemaah haji perempuan mengenakan gamis putih.
Ada pula yang tampil dengan songkok lilit atau talulu yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis. Namun siapa sangka, busana yang dikenakan sebagian jemaah haji perempuan tersebut ternyata bukan dibeli di Tanah Suci.
Baca juga: 186 Jemaah Haji Tarakan Pulang Bertahap, Tangis Haru Iringi Doa untuk Jemaah yang Wafat
Beberapa jemaah haji mengaku pakaian itu sudah dibawa dari rumah sejak sebelum berangkat haji dan sengaja disimpan untuk dikenakan saat tiba kembali di kampung halaman.
Tradisi tersebut dikenal dalam budaya Bugis dengan istilah mappatoppo, yakni mengenakan pakaian khusus saat pulang dari menunaikan ibadah haji sebagai simbol rasa syukur dan kebahagiaan.
Kedatangan jemaah haji menggunakan dua speedboat. Speedboat pertama tiba di PLBL Liem Hie Djung pukul 15.07 Wita, disusul speedboat kedua pada pukul 16.02 Wita.
Sedangkan jemaah haji Pulau Sebatik tiba pukul 14.40 Wita menggunakan dua speedboat.
Suasana penyambutan berlangsung meriah. Tangis haru pecah saat keluarga menyambut para jemaah yang telah menyelesaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci.
Baca juga: Rombongan Jemaah Haji Bulungan Tiba di Tanjung Selor, Tangis Haru Pecah Saat Bertemu Keluarga
Mewakili Bupati Nunukan, Asisten II Setkab Nunukan Sirajuddin menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh jemaah haji yang telah kembali dengan selamat.
"Saya mewakili Pemerintah Kabupaten Nunukan mengucapkan selamat datang, selamat berkumpul kembali dengan sanak saudara dan keluarga di rumah. Semoga seluruh rangkaian ibadah haji yang telah dilaksanakan diterima oleh Allah SWT dan bapak-ibu menjadi haji yang mabrur," ujarnya.
Ia berharap nilai keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji dapat terus dijaga setelah kembali ke tengah masyarakat.
Satu Jemaah Belum Bisa Pulang, Masih Dirawat di Arab Saudi
Di balik kebahagiaan kepulangan jemaah haji tahun ini, terselip kabar bahwa satu jemaah asal Sebatik belum dapat kembali ke tanah air.
Ketua Kloter 7, H Sayid Abdullah, mengatakan seorang jemaah bernama Hj Fatima masih menjalani perawatan di rumah sakit di Makkah, Arab Saudi.
"Beliau sudah menyelesaikan ibadah haji. Namun setelah Armuzna sempat kelelahan dan kembali jatuh sakit sehingga sampai sekarang belum bisa dipulangkan karena belum layak terbang," katanya kepada TribunKaltara.com, Jumat (19/6/2026).
Menurut Sayid Abdullah, total jemaah haji asal Nunukan yang tergabung dalam Kloter 7 dan 8 berjumlah 223 orang.
Menurutnya, total jemaah haji asal Kabupaten Nunukan yang tergabung dalam Kloter 7 dan 8 awalnya berjumlah 223 orang.
Namun satu orang meninggal dunia sebelum keberangkatan dan satu calon jemaah lainnya batal berangkat dari Embarkasi Balikpapan karena kondisi kehamilan yang dinilai berisiko terhadap janin.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 132 jemaah haji kembali ke Nunukan, tujuh orang memilih tinggal sementara di Balikpapan, sedangkan 82 jemaah asal Sebatik turut kembali melalui Nunukan.
"Alhamdulillah seluruh jemaah yang pulang hari ini tiba dengan selamat dan dalam kondisi sehat," ujarnya.
Ia juga memastikan pelayanan haji tahun ini semakin baik, baik dari sisi konsumsi, akomodasi maupun transportasi.
"Untuk calon jemaah haji tahun 2027 jangan takut. Pelayanan haji sekarang semakin baik dan kami selama menjalankan ibadah tidak pernah mengalami kesulitan," pungkasnya.
(*)
Penulis: Fatimah Majid