Dari Perantau hingga Duta OJK, Perjalanan Wahya Iffa Lubis Membuka Literasi Keuangan di Jambi
Darwin Sijabat June 20, 2026 10:49 AM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus, dan itulah yang tercermin dari sosok Wahya Iffa Lubis.

Perantau asal Padang itu menapaki berbagai fase hidup sebelum akhirnya menetap dan berkarya di Jambi.

Dari dunia perbankan, kebugaran, hingga usaha kuliner, Wahya membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Pandemi sempat menghantam usahanya, namun justru menjadi titik balik untuk menemukan jati diri dan arah baru.

Kini, Wahya dikenal sebagai Duta Literasi Keuangan OJK yang aktif mengedukasi masyarakat.

Isu pinjaman online ilegal, judi online, hingga kesadaran mengelola keuangan menjadi fokus perhatiannya.

Tak berhenti di sana, ia juga kembali mengejar mimpi lama di dunia tarik suara.

Keputusan itu lahir dari keberanian berdamai dengan diri sendiri dan mendengarkan suara hati.

Baca juga: Kisah Tegar Diterima 4 Perguruan Tinggi, Al Azhar Mesir hingga Kampus Australia

Baca juga: Sopir Truk Batu Bara Ditemukan Tewas Berbuih di Tanjung Pauh Jambi

Bagaimana kisah jatuh bangun, prinsip hidup, dan pandangannya tentang makna sukses Wahya Iffa Lubis? Berikut petikan wawancara bersama Host Tribun Jambi, M Ferry Fadli di program Mojok:

Tribun Jambi:
Oke, selamat datang Wahya di Tribun Jambi, di Mojok kita. Luar biasa, Tribuners. Hari ini kita kedatangan wanita karier yang sudah mencoba banyak hal. Tadi off-cam juga sempat cerita tentang terdampak COVID, lalu berjuang sampai titik sekarang. Banyak hal yang akan kita gali dari seorang Wahya.

Aku mau nanya dulu nih, pertanyaan umum. Wahya ini lahir dan besar di Kota Jambi atau di luar Jambi?

Wahya Iffa Lubis:
Oke, sebelumnya aku mau terima kasih dulu ya Mas Wadli dan tim yang sudah notice aku. Jadi untuk pertanyaannya, aku sebenarnya perantau. Aku ke Jambi itu tahun 2017.

Tribun Jambi: 
Berarti lahirnya di mana?

Wahya:
Di Padang.

Tribun Jambi: 
Sampai usia berapa di Padang?

Wahya:
Aku lahir tahun 2000, jadi di Padang sampai tamat S1.

Tribun Jambi: 
Kuliah di Padang ya?

Wahya:
Iya. Nah, setelah tamat S1 sebenarnya aku dapat beasiswa lagi di kampusku.

Tribun Jambi: 
Masih di Padang juga?

Wahya:
Iya, tapi waktu itu nggak aku ambil. Karena aku pengin eksplor dulu, aku ke Jakarta.

Tribun Jambi: 
Oh berarti sempat kerja di Jakarta?

Wahya:
Kerja. Udah pindah-pindah juga.

Tribun Jambi: 
Pindah-pindah ke mana aja tuh?

Wahya:
Awalnya aku kerja di PR agency. Tapi orangtuaku itu standar suksesnya harus kerja di perusahaan yang jelas. Bisa PNS, bisa juga perusahaan besar. Akhirnya aku pindah ke perbankan.

Tribun Jambi: 
Di Jakarta ya? Di perbankan bagian apa?

Wahya:
Aku marketing. Tapi nggak sampai setahun, karena memang nggak cocok sama karakternya aku.

Tribun Jambi: 
Kayaknya emang nggak bisa diam ya?

Wahya:
Iya, pecicilan gitu lah.

Tribun Jambi: 
Terus setelah perbankan?

Wahya:
Waktu itu passion aku di gym. Aku nggak cuma nge-gym, tapi juga baca jurnal tentang kesehatan. Sampai akhirnya temanku ngajak, “Kenapa nggak sekalian ambil pelatihan?” Aku ikut pelatihan Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia.

Tribun Jambi: 
Berarti jadi instruktur?

Wahya:
Iya, personal trainer di Mega Gym. Aku satu-satunya cewek waktu itu di Sunter.

Tribun Jambi: 
Kliennya cewek atau cowok?

Wahya:
Aku pilih cewek. Jadi liarnya tetap ada arah, hehe.

Baca juga: 2 Peserta Terbaik Tribun Jambi Academy Batch 1 Tampil di Podcast Mojok, Yayang dan Hawai Semringah

Baca juga: Motor Digondol Maling Bersajam di Kerinci Jambi, Aksi Pelaku Terekam CCTV

Tribun Jambi: 
Berapa lama jadi personal trainer?

Wahya:
Sekitar satu tahun lebih.

Tribun Jambi: 
Setelah itu langsung ke Jambi?

Wahya:
Nggak langsung. Ada fase personal dulu, putus cinta. Habis itu aku pengin break, liburan ke Jambi, karena kakakku di sini. Lama-lama kepikiran, “Kenapa nggak coba di Jambi aja?”

Tribun Jambi: 
Kabur dari Jakarta nih?

Wahya:
Bukan kabur, Mas. Bukan orangnya di situ aja.

Tribun Jambi: 
Masuk Jambi tahun 2017 ya. Pertama kali ngapain di Jambi?

Wahya:
Aku tetap cari teman, masih nge-gym juga. Terus aku sempat bikin usaha snack, Papa Macaroni. Tapi berhenti karena COVID, mall tutup semua.

Tribun Jambi: 
Itu bikin sendiri?

Wahya:
Iya, aku yang rancang sistemnya.

Tribun Jambi: 
Hobi kamu sebenarnya apa sih? Kok loncat-loncat?

Wahya:
Aku itu orangnya passionate dan suka belajar hal baru. Tujuan hidupku bukan kerja di satu tempat. Aku pengin mewujudkan visi-visiku sendiri.

Tribun Jambi: 
Berarti nggak cocok kerja kantoran lama-lama?

Wahya:
Iya, cepat bosan. Tapi aku selalu punya benang merah.

Tribun Jambi: 
Nah, setelah Papa Macaroni?

Wahya:
Aku lanjut ke kuliner, Tuku Sambal. Aku lihat orang Jambi suka sambal. Aku kemas dengan idealisme aku sendiri. Aku belajar food consulting, resep dikurasi chef, tapi finishing lidah tetap aku.

Tribun Jambi: 
Sekarang Tuku Sambal masih jalan?

Wahya:
Masih, alhamdulillah.

Tribun Jambi: 
Selain pengusaha, Wahya juga Duta Literasi Keuangan OJK?

Wahya:
Iya, masih aktif.

Tribun Jambi: 
Kok bisa kepilih?

Wahya:
Sebenarnya seleksi di kampus. Aku nggak nyangka dipilih, karena aku dari pemasaran. Tapi ternyata literasi keuangan itu tanggung jawab semua bidang.

Tribun Jambi: 
Programnya apa aja?

Wahya:
Aku fokus ke Ojol. Bahas pinjol, judol, dan rencana lanjut ke edukasi investasi emas pemula.

Tribun Jambi: 
Sejak kapan jadi Duta OJK?

Wahya:
Sejak April. Nanti ada penilaian dan juara di akhir tahun.

Tribun Jambi: 
Reward-nya?

Wahya:
Aku nggak terlalu mikir itu. Yang penting aku menjiwai.

Tribun Jambi: 
Nah sekarang pindah lagi nih. Tarik suara. Kok bisa?

Wahya:
Inner child, Mas. Dulu cita-citaku penyanyi. Tapi nggak terlalu didukung. Tahun 2024 aku putuskan balik les vokal.

Tribun Jambi: 
Sudah ikut lomba?

Wahya:
Ikut singing competition, dapat juara harapan satu.

Tribun Jambi: 
Orangtua gimana?

Wahya:
Responsnya biasa aja. Tapi buat aku itu tantangan.

Tribun Jambi: 
Sekarang fokus ke vokal?

Wahya:
Fokus ke semuanya, tapi tarik suara lagi aku seriusin. Aku mau improve terus, bikin cover, ikut lomba.

Tribun Jambi: 
Terakhir, pelajaran hidup paling penting?

Wahya:
Kenali diri sendiri. Tahu kelebihan dan kekurangan. Jangan bandingkan diri dengan orang lain. Leadership itu dimulai dari diri sendiri. Bahkan kedaulatan finansial juga dimulai dari kedaulatan diri.

Tribun Jambi: 
Terima kasih Wahya. Terakhir, kata-kata hari ini dong.

Wahya:
Untuk mencapai kesuksesan, mulailah dari dirimu sendiri. Kenali profil dan konsep dirimu, dan jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena konsep sukses setiap orang itu berbeda.

Tribun Jambi: 
Luar biasa. Terima kasih sudah hadir di Mojok Tribun Jambi. (Tribun Jambi/Asto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.