Pembicaraan Damai AS-Iran di Swiss Batal Mendadak, Harga Minyak Dunia Langsung Melejit Lagi
Amirullah June 20, 2026 12:35 PM

 

SERAMBINEWS.COM – Pasar energi global kembali berguncang. Harga minyak dunia terpantau merangkak naik pada Jumat (19/6/2026) setelah agenda pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss mendadak batal.

Pembatalan yang terkesan tiba-tiba ini langsung memicu riak kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait stabilitas geopolitik di Timur Tengah. Para investor menilai, batalnya pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa jalan menuju perdamaian permanen ternyata masih sangat panjang dan penuh ketidakpastian.

Akibatnya, ketegangan kembali menyelimuti pasar energi dan mengerek naik harga minyak.

Melansir laporan CNBC, dinamika terbaru ini memperlihatkan betapa sulitnya mengubah kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran menjadi sebuah perjanjian damai yang permanen. Bayang-bayang gangguan pasokan energi global pun kembali mencuat karena arah negosiasi kedua negara menjadi abu-abu lagi.

Merespons situasi ini, para pelaku pasar memilih bermain aman dengan meningkatkan aktivitas perdagangan di sektor energi.

Berdasarkan data perdagangan teranyar, kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik 0,8 persen ke angka 80,48 dollar AS per barel pada pukul 11.41 waktu setempat. Setali tiga uang, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga merangkak naik hampir 1 persen hingga menyentuh level 77,35 dollar AS per barel.

Padahal sebelumnya, harga minyak sempat melandai akibat sentimen positif dari kabar gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hezbollah yang disokong Iran. Sayangnya, optimisme pasar itu langsung buyar begitu kabar pembatalan perundingan damai ini mencuat ke publik.

Kementerian Luar Negeri Swiss sendiri sudah mengonfirmasi bahwa pembicaraan AS-Iran yang harusnya digelar di kawasan Bürgenstock pada Jumat ini memang batal terlaksana.

Pembatalan ini tentu jadi sorotan global, mengingat banyak pihak menaruh harapan besar bahwa pertemuan tersebut bisa menjadi pintu masuk bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Baca juga: Usai Kesepakatan dengan Iran, Trump Alihkan Perhatian ke Korea Utara

Terganjal Masalah Logistik

Pihak Gedung Putih ikut buka suara dan membenarkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, batal terbang ke Swiss. Alasan utamanya disebut-sebut karena masih ada persoalan logistik yang belum rampung terkait negosiasi tersebut.

Padahal sehari sebelum pembatalan, Vance sempat menyampaikan kabar baik bahwa kapal tanker yang mengangkut lebih dari 12 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dalam semalam.

“Orang-orang Iran, untuk malam kedua berturut-turut, tidak menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz,” kata Vance kepada wartawan. “Sejauh ini, mereka menghormati bagian komitmen mereka."

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, dalam wawancara eksklusif menyatakan bahwa pihaknya tidak melihat adanya tanda-tanda permintaan minyak akan mencapai titik puncaknya (peak demand) dalam waktu dekat. Ia bahkan secara tegas menolak proyeksi dari International Energy Agency (IEA) yang meramal bakal terjadi surplus pasokan di masa depan.

“Kami fokus pada fundamental dan tidak memasukkan terlalu banyak kemungkinan dalam proyeksi kami, melainkan berfokus pada angka-angka aktual,” cetus Al Ghais.

Sementara itu, Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai bahwa dibukanya kembali Selat Hormuz secara bersyarat, dicabutnya status force majeure oleh Kuwait, serta berakhirnya blokade angkatan laut AS sebenarnya sempat membuat investor bernapas lega. Sentimen-sentimen ini sempat meyakinkan pasar bahwa ancaman gangguan pasokan yang pernah membuat harga minyak meroket di atas US$120 per barel telah berakhir.

“Gencatan senjata selama 60 hari merupakan langkah yang jelas ke arah yang tepat. Namun, bahkan jika kesepakatan ini bertahan, aksi jual baru-baru ini mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka pendek," ungkap Varga.

Menakar arah pergerakan ke depan, analis pasar Axi, Tiago Lacerda, memproyeksikan harga minyak akan bergerak fluktuatif di kisaran 75 dollar AS hingga 82 dollar AS per barel dalam jangka pendek. Saat ini, harga Brent sendiri sudah merosot sekitar 36 persen dari titik puncaknya ketika konflik sedang panas-panasnya.

“Perhatian dengan cepat beralih pada apakah pembukaan kembali jalur fisik benar-benar akan terjadi," kata Lacerda.

"Sejumlah perusahaan pelayaran besar masih belum melanjutkan pelayaran mereka dan tarif asuransi tetap tinggi, yang menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi,” tambahnya.

Kini, dengan arah geopolitik yang kembali buram, pelaku pasar global hanya bisa bersiap-siap menghadapi potensi fluktuasi baru di sektor energi internasional sambil memantau perkembangan dari Washington dan Teheran. (Serambinews.com/Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.