Laporan Wartawan Sripoku.com, Angga
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Beredarnya kabar bahwa pemerintah akan menaikkan harga minyak goreng rakyat, MinyaKita, sempat membuat ibu rumah tangga (IRT) panik.
Pasalnya, saat ini hanya minyak goreng bersubsidi tersebut yang harganya paling terjangkau di pasaran.
Namun, berdasarkan pantauan Sripoku.com di Pasar 26 Ilir, Jalan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) pada Sabtu (20/6/2026), harga MinyaKita justru turun drastis.
Minyak goreng yang sebelumnya sempat menyentuh harga Rp20.000 per liter, kini dibanderol seharga Rp17.000 per liter.
Masyarakat pun berbondong-bondong mengincar dan membeli minyak goreng subsidi ini karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan minyak goreng kemasan premium lainnya.
Di Pasar 26 Ilir sendiri, stok MinyaKita saat ini terbilang melimpah.
Meskipun harganya sudah turun menjadi Rp17.000, angka tersebut sebenarnya masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.
Baca juga: Update Harga Sembako di Palembang 18 Juni 2026 Masih Tinggi, Minyakita Rp 20 Ribu/ Liter
Salah satu pedagang minyak goreng, Dinda, mengungkapkan bahwa saat ini pasokan MinyaKita dari distributor sudah kembali aman, sehingga harga perlahan mulai turun.
"Kemarin kami sempat susah dapat stok, bahkan sampai dijual dengan harga Rp20.000 per liter. Sekarang karena (rencana kenaikan) tidak jadi dan stoknya juga banyak, harganya turun jadi Rp17.000 per liter," ujar Dinda, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, rencana pemerintah untuk menaikkan harga MinyaKita beberapa waktu lalu akhirnya diurungkan.
Pembatalan ini dilakukan agar minyak goreng bersubsidi tersebut tetap mudah diakses oleh masyarakat, khususnya melalui pasar-pasar rakyat.
"Sekarang kami lebih mudah dapat pasokan, masyarakat juga senang bisa membeli MinyaKita dengan harga yang lebih murah," tambahnya.
Sementara itu, untuk minyak goreng kemasan merek premium seperti Sanco, Bimoli, dan Fortune, harganya terpantau masih stabil dan belum mengalami penurunan, dengan ketersediaan stok yang melimpah.
"Untuk minyak premium stoknya banyak dan mudah dijumpai di mana-mana. Malah kalau MinyaKita ini pasokannya sering tidak menentu antarpasar. Kadang di Pasar 26 Ilir ada, tapi di Pasar Sekip kosong," tutup Dinda.
Penurunan harga MinyaKita ini disambut semringah oleh para pelaku UMKM, khususnya pedagang gorengan. Salah satunya adalah Anton. Ia menceritakan, saat MinyaKita langka dan mahal beberapa waktu lalu, ia terpaksa menyiasatinya dengan mengubah porsi jualan. Gorengan yang biasanya dijual Rp5.000 mendapat 5 buah, terpaksa dikurangi menjadi Rp5.000 mendapat 3 buah.
"Alhamdulillah harganya turun. Tapi saya mau lihat dulu, distribusinya ke depan normal atau tidak. Untuk sementara saya pakai harga jual yang sekarang dulu. Kalau pasokan benar-benar aman, baru porsi gorengannya disesuaikan lagi," kata Anton.
Anton berharap pemerintah dapat terus menjaga stabilitas stok MinyaKita di pasaran demi menjamin kebutuhan masyarakat dan pedagang kecil tetap terpenuhi.
"Harapan kami MinyaKita ini selalu ada. Selain harganya lebih murah dari minyak premium, ini sangat menghemat pengeluaran belanja kami sebagai pedagang gorengan," pungkas Anton
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com