Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Ukurannya semakin tipis, tetapi harganya tetap sama.
Itulah strategi yang kini terpaksa dilakukan sejumlah pedagang gorengan di Cirebon, Jawa Barat, untuk bertahan di tengah lonjakan harga bahan baku yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan harga terigu, minyak goreng, hingga garam membuat para pedagang harus memutar otak agar usaha mereka tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan.
Sudah sekitar satu bulan terakhir, harga berbagai bahan baku utama untuk membuat gorengan terus merangkak naik.
Baca juga: Rezeki di Tengah Teriakan Demonstrasi Indonesia Bangkrut di Cirebon, Pedagang Gorengan Diserbu
Kondisi ini membuat modal belanja para pedagang meningkat drastis. Ironisnya, di saat pengeluaran membengkak, omset penjualan justru mengalami penurunan.
Situasi tersebut memaksa banyak pedagang kecil mengambil langkah yang dianggap paling memungkinkan, yakni mengurangi ukuran gorengan secara perlahan.
Mulai dari tempe goreng hingga berbagai jenis gorengan lainnya kini dibuat lebih tipis dibanding biasanya.
Salah seorang pedagang gorengan, Adi Arman (42) mengaku kenaikan harga bahan baku sangat terasa dan berdampak langsung terhadap usahanya.
"Ya... iya, Mas (mahal). Kalau biasanya kan Rp 18 ribu, Rp 19 ribu... sekarang naik semua (di atas Rp 20 ribu). Apalagi garam, minyak, naik semua," ujar Adi Arman saat ditemui media, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan produksi mengalami kenaikan harga sehingga keuntungan yang diperoleh pedagang semakin menipis.
Sementara itu, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah karena dikhawatirkan membuat pembeli berkurang.
Baca juga: Mengintip Ramadan Ala Beckham Putra: Godaan Gorengan, Menu Ayam, dan 5 Laga Krusial
Karena itulah, banyak pedagang memilih mempertahankan harga dengan konsekuensi mengurangi ukuran gorengan yang dijual.
Langkah tersebut dianggap lebih aman dibanding harus menaikkan harga per potong.
Saat ditanya mengenai harapannya, Adi berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga bahan pokok yang terus melonjak.
"Ya, diturunin," ucap pedagang yang kerap berkeliling di kawasan Jalan Raya Siliwangi Kota Cirebon, Jawa Barat, itu, singkat.
Di sisi lain, para pembeli ternyata memahami kondisi yang sedang dihadapi para pedagang.
Mereka menyadari kenaikan harga kebutuhan pokok telah dirasakan hampir semua lapisan masyarakat.
Saktiawan (30), salah seorang pembeli gorengan, mengaku perubahan ukuran gorengan memang terlihat dibanding sebelumnya.
Namun ia menilai kondisi tersebut sulit dihindari karena harga berbagai kebutuhan terus mengalami kenaikan.
"Ya, kalau dari kita sebagai masyarakat ya susah ya. Kalau misalkan semua naik gitu. Masa gorengan juga... ini. Kayaknya sih nambah sedikit gitu, Mas," jelas Saktiawan.
Meski demikian, ia memilih memaklumi kondisi tersebut karena memahami beban yang harus ditanggung para pedagang kecil.
Saktiawan berharap, pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menekan kenaikan harga bahan pokok agar masyarakat maupun pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani.
"Harapannya pemerintah itu ya turun, Mas. Orang bahan-bahan semua naik," katanya.
Baca juga: Mengintip Ramadan Ala Beckham Putra: Godaan Gorengan, Menu Ayam, dan 5 Laga Krusial
Fenomena gorengan yang semakin tipis sendiri menjadi gambaran nyata dampak kenaikan harga bahan pokok terhadap usaha mikro.
Di tengah modal yang terus membengkak dan omset yang kian tergerus, para pedagang hanya bisa bertahan dengan berbagai cara sambil berharap harga terigu, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya segera kembali stabil.