SURYA.CO.ID - Ini lah sosok Kliwon Alwawan, nasabah Bank di Brebes, Jawa Tengah yang memberi hadiah umroh kepada Kusmiah (61), juru parkir (jukir) sekaligus pedagang kopi emperan di kawasan Jalan Ahmad Yani Brebes.
Kliwon Alwawan memberikan hadiah umroh karena Kusmiah telah menggagalkan perampokan uang Rp 3,6 miliar miliknya.
Ceritanya, pada Senin (15/6/2026), Kliwon menarik uang Rp 3,6 miliar di bank daerah Brebes.
Sejak melangkah keluar dari dalam gedung bank, Kliwon sebenarnya sudah merasa curiga karena melihat beberapa pengendara sepeda motor terus menguntit kendaraan yang dikemudikannya dari arah belakang.
Merasa situasi tidak aman dan rawan, korban kemudian berinisiatif membelokkan kendaraannya menuju kantor Bank BTN yang berada tidak jauh dari lokasi awal untuk memastikan situasi lingkungan sekitar.
Baca juga: Perampok yang Tembak Warga Gresik Ditangkap di Madura, 4 Pelaku Buron
Namun, saat korban lengah dan masuk ke dalam gedung bank untuk keperluan koordinasi, para pelaku yang sudah mengintai langsung melancarkan aksi cepat mereka.
Salah seorang pelaku mendekati mobil Pajero Sport berwarna hitam milik korban, memecahkan kaca jendela samping, lalu menyambar bungkusan plastik besar berisi uang tunai yang diletakkan di dalam kabin kendaraan.
Beruntung, aksi cepat komplotan penjahat tersebut langsung disadari oleh Kusmiah yang sedang bertugas mengawasi kendaraan di sekitar lokasi kejadian.
Kusmiah berteriak lantang hingga menarik perhatian banyak orang.
Situasi yang mendadak ramai membuat pelaku panik dan tidak sempat membawa kabur uang yang telah diambil.
Sebagian uang bahkan sempat tercecer di jalan sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali. Pelaku kemudian melarikan diri menggunakan sepeda motor bersama rekannya yang telah menunggu di sekitar lokasi.
Korban Kliwon yang mendengar teriakan warga segera keluar dari dalam bank dan mendapati kaca mobilnya telah pecah. Ia juga melihat uang miliknya berserakan di jalan.
"Saya tadi dari BCA kemudian ke BTN, ambil uang Rp3,6 miliar,"ujarnya saat ditemui Tribunjateng.com di Mapolres Brebes saat hendak melakukan pelaporan.
"Saya melihat ada orang memecah kaca mobil, lalu mengambil bungkusan plastik dari dalam mobil. Saya langsung teriak, pencuri... pencuri...," imbuhnya.
Saksi lainnya, Jari, yang juga bekerja sebagai tukang parkir di kawasan perbankan tersebut, mengaku sempat menaruh curiga terhadap seorang pria yang berada di atas sepeda motor Vario putih.
"Saya sempat tanya menunggu siapa, Mas. Tapi belum sempat dijawab, dia langsung kabur setelah mendengar teriakan maling dari warga," ungkap Jari.
Tak lama setelah kejadian, Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Brebes mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta meminta keterangan dari korban dan para saksi.
Setelah mendapatkan uangnya kembali, Kliwon memberikan uang Rp 100 ribu kepada Kusmiah.
Namun, uang Rp 100 ribu itu tidak diambil Kusmiah sendiri, tapi dia bagikan kepada tiga orang lain yang turut pasang badan membantu di lokasi saat kejadian, yakni dua rekan sesama juru parkir dan seorang pengemudi ojek daring atau online.
Masing-masing dari mereka mendapatkan bagian sebesar Rp 25.000.
"Dikasih Rp 100 ribu dibagi empat. Farid, Wawan, Udin, terus saya," kata Kusmiah dikutip dari kompas.com.
Bagi Kusmiah, keberanian itu bukanlah soal mengejar imbalan materi, melainkan refleks sederhana dari seorang perempuan lansia yang memilih bersuara kela
Tak hanya memberikan uang Rp 100 ribu, Kliwon ternyata memberikan hadiah perjalanan Umron untuk Kusmiah.
Sesuai jadwal yang disusun, Kusmiah akan segera berangkat terbang menuju ke Tanah Suci Mekkah pada bulan Agustus 2026 mendatang.
Menurut Kusmiah, ia sama sekali tidak pernah terbersit untuk meminta imbalan apa pun atau pamrih sebagai balas jasa atas aksi heroiknya waktu itu.
Saat itu, Kliwon sengaja datang jauh-jauh dari kediamannya di wilayah Kluwut khusus untuk menemuinya secara langsung di Brebes.
“Pak Kliwon bilang mau silaturahmi sama saya. Terus bilang mau tanda terima kasih, mau ngajak umrah. Saya bilang kalau memang mau ngajak umrah, ya alhamdulillah, matur nuwun sangat,” katanya mengenang ucapan sang nasabah.
Tawaran berangkat ke Arab Saudi tersebut seketika menjadi kejutan yang tak pernah dibayangkan dalam mimpi Kusmiah sebelumnya.
Dengan kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, keinginan terpendam untuk menunaikan ibadah umrah selama ini hanya bisa ia simpan rapat-rapat di dalam lubuk hati.
Meski hari keberangkatan ke Timur Tengah sudah semakin dekat, perempuan yang tercatat telah melakoni profesi sebagai juru parkir jalanan sejak tahun 1995 itu mengaku tidak melakukan persiapan logistik yang mewah atau khusus menjelang keberangkatannya.
Ia hanya memikirkan persiapan pakaian dan perlengkapan sederhana yang dirasa perlu dibawa di dalam tas jinjingnya nanti.
“Pakaian saja buat ganti di sana. Yang penting perlengkapan dari sana sudah dapat dari umrah,” ujarnya pasrah.
Sambil menunggu keberangkatan ke tanah suci, Kusmiah masih konsisten menjajakan seduhan kopi hitam dan minuman ringan kemasan.
Penghasilan harian dari peluh keringatnya itu pun diakui masih jauh dari kata besar. Dari hasil berjualan kopi keliling, ia kadang hanya memperoleh pemasukan bersih sekitar Rp 60.000 per hari.
Sementara dari pekerjaan utamanya sebagai juru parkir resmi, pendapatannya hanya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 40.000 sehari.
“Kalau umrah sendiri, saya enggak punya duit,” ujar Kusmiah dengan polos saat menceritakan kembali momen haru ketika dirinya menerima tawaran umrah dari Kliwon saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Jumat (19/6/2026).
Kusmiah tercatat telah menghabiskan sebagian besar lembaran hidupnya dengan bekerja keras mencari nafkah di pinggir jalanan aspal yang panas.
Ia bahkan mengaku sudah tidak ingat secara pasti berapa total hitungan tahun dirinya menjalani profesi kasar tersebut.
Setiap pagi hari, ia harus rela menempuh perjalanan jauh sejauh belasan kilometer dari rumah tinggalnya menuju pusat roda ekonomi kota untuk mulai bekerja.
Jalur transportasi tersebut ia lalui secara fluktuatif, terkadang menumpang angkutan kota (angkot), berjalan kaki ritmik, atau sesekali menebeng kendaraan motor milik orang lewat yang kebetulan mengenalnya.
“Saya enggak ngerti berapa tahun. Dulu ngertinya markir motor 100 perak, mobil 300. Kalau sekarang kadang dua ribu atau seribu sedikasihnya,” katanya berkisah sembari melempar senyum ramah.
Pekerjaan berat itu seketika langsung menjadi tiang penopang hidup tunggal bagi keluarganya, pasca sang suami tercinta, Darpin, meninggal dunia mendahuluinya sekitar tujuh tahun yang lalu.
Dari hasil pernikahannya dengan mendiang suami, Kusmiah dikaruniai lima orang anak kandung. Namun, garis takdir menentukan satu anaknya telah meninggal dunia terlebih dahulu.
Kini, kehadiran enam orang cucu tercinta menjadi satu-satunya energi dan obat penyemangat utama di masa usia senjanya yang kian menua.
TIdak banyak informasi tentang sosoknya. Hanya disebutkan dia tinggal di Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Brebes.
Pekerjaan Kliwon juga belum terungkap.
Dia hanya mengaku, kerap mengambil uang dengan jumlah banyak setiap harinya untuk keperluan bisnisnya.
Namun hari ini, dewi fortuna masih berpihak padanya, setelah uang yang ia bawa di dalam mobil Pajero miliknya hampir raib digasak kawanan maling. (kompas.com/tribun jateng)